- Published on
QS. Al-An’am - 44 memperingatkan tentang istidraj, yaitu kondisi saat seseorang yang terus bermaksiat justru diberi kelapangan dan kenikmatan dunia sebagai bentuk jebakan ilahi. Ayat ini dikaji dengan pendekatan tafsir klasik dan kontemporer, serta dibandingkan dengan konsep ujian dalam Islam. Perbedaan mendasar antara istidraj dan ujian terletak pada niat, respons hamba, dan akibat akhirnya. Artikel ini juga menjelaskan proses seseorang masuk ke dalam istidraj serta hikmah praktis untuk menghindarinya melalui muhasabah dan ketakwaan. Tafsir ini memperkuat pemahaman bahwa tidak semua nikmat adalah rahmat.