- Published on
Bagian ini menjelaskan model low-lab sebagai cara mengambil keputusan pemupukan saat laboratorium tidak selalu tersedia. Low-lab tidak berarti menebak, tetapi memakai data minimum, observasi lapangan, dosis acuan, koreksi bertahap, dan evaluasi berulang. Dalam versi yang diperluas, model ini tidak hanya membaca hara, tetapi juga akar, air, rizosfer, dan biaya. Petani diajak membedakan pupuk utama, bahan organik, JAKABA, MOL, POC, dan PGPM/PGPR sesuai fungsinya, lalu menggunakannya secara disiplin melalui uji kecil, pencatatan batch, dan evaluasi hasil. Tujuan akhirnya adalah keputusan pupuk yang lebih tepat, lebih hemat, lebih stabil, dan lebih menguntungkan.