- Published on
Lima Penyesalan Manusia Setelah Kematian dalam Al-Qur’an
- Authors
Lima Penyesalan Manusia Setelah Kematian dalam Al-Qur’an
- Pendahuluan
- 1. Penyesalan karena Tidak Beramal Shalih
- 2. Penyesalan karena Berteman dengan Orang yang Salah
- 3. Penyesalan karena Tidak Mengikuti Petunjuk Allah
- 4. Penyesalan karena Meninggalkan Shalat
- 5. Penyesalan karena Tidak Bertaubat
- Penutup: Benang Merah dari Lima Penyesalan
- Referensi
Pendahuluan
Kematian adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Ia menjadi pintu gerbang menuju kehidupan abadi di akhirat, tempat seluruh amal manusia dipertanggungjawabkan. Dunia hanyalah fase sementara, tempat ujian dan kesempatan untuk meraih keselamatan yang kekal. Namun, tidak sedikit manusia yang hidup dalam kelalaian, seolah-olah kematian masih jauh atau bisa dinegosiasikan. Ketika ajal tiba, barulah kesadaran muncul—tetapi kesadaran itu datang terlambat.
Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan berbagai bentuk penyesalan yang akan dirasakan manusia setelah kematian. Penyesalan ini tidak hanya emosional, tetapi juga eksistensial: menyadari bahwa hidup telah berlalu tanpa makna, bahwa kesempatan untuk bertaubat dan beramal telah tertutup, dan bahwa apa yang dulunya dianggap sepele ternyata berujung pada kesengsaraan abadi.
Artikel ini mengajak kita menyelami lima bentuk penyesalan manusia setelah mati yang diabadikan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Setiap tema dibahas secara tematik, dengan metode tafsir ayat dengan ayat (tafsīr al-Qur’ān bi al-Qur’ān), ditambah penjelasan dari ulama klasik dan kontemporer, serta ditutup dengan hikmah praktis yang relevan bagi kehidupan kita hari ini. Melalui perenungan ini, diharapkan kita dapat mengambil pelajaran dan memperbaiki diri sebelum datang saat di mana penyesalan tidak lagi berguna.
1. Penyesalan karena Tidak Beramal Shalih
(QS Fāṭir [35]: 37)
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۚ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ
Mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh, tidak seperti yang telah kami kerjakan dahulu.” Bukankah Kami telah memberikan umur kepadamu yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan bukankah telah datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab ini), dan tidak ada penolong bagi orang-orang zalim. (QS Fāṭir [35]: 37)
Ayat ini menggambarkan kondisi penghuni neraka yang menjerit minta dikembalikan ke dunia, dengan janji akan beramal shalih dan tidak mengulangi kesalahan. Namun, permintaan itu ditolak tegas oleh Allah karena mereka telah diberi dua hal penting: umur yang cukup untuk berpikir dan peringatan dari Allah, baik melalui rasul, ulama, maupun kematian orang di sekitarnya.
Tafsir bil Ayat
Permintaan untuk kembali ke dunia bukan hanya muncul di Surah Fāṭir, tapi juga diulang dalam beberapa ayat lain yang memperkuat pesan penyesalan ini:
- QS Al-Mu’minūn [23]: 99–100
رَبِّ ٱرْجِعُونِ لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ
"Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan."
⟶ Namun, penyesalan ini datang setelah kematian, sehingga tidak lagi bermanfaat.
- QS As-Sajdah [32]: 12
قَالُوا رَبَّنَآ أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَٱرْجِعْنَا نَعْمَلْ صَـٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
"Mereka berkata: 'Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan beramal shalih. Sungguh kami sekarang benar-benar yakin.'"
⟶ Keyakinan dan niat baik di akhirat tidak diterima karena tidak dibuktikan saat di dunia.
- QS Az-Zumar [39]: 58–59
بَلَىٰ قَدْ جَآءَتْكَ ءَايَـٰتِى فَكَذَّبْتَ بِهَا وَٱسْتَكْبَرْتَ
"Benar, telah datang kepadamu ayat-ayat-Ku, tetapi kamu mendustakannya dan menyombongkan diri."
⟶ Penyesalan itu datang setelah seseorang menyia-nyiakan ayat-ayat Allah karena kesombongan.
Tafsir Klasik dan Kontemporer
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan bentuk penyesalan yang tak berguna. Mereka sadar, namun sudah terlambat karena peluang sudah tertutup. Allah telah memberi mereka umur panjang dan peringatan, namun mereka abaikan semua itu. Ketika mereka mengatakan, “Kami akan berbuat baik,” Allah menolaknya, karena jika dikembalikan pun mereka akan kembali pada kesalahan yang sama.
Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “peringatan” (النذير) bisa dalam bentuk rasul, wahyu, ulama, bahkan kematian orang-orang sekitar yang seharusnya menyadarkan. Ayat ini menegaskan bahwa umur panjang bukan jaminan sadar, kecuali bila diiringi kemauan untuk menerima kebenaran. Ketika semua sudah lewat, penyesalan tidak lagi bermakna.
Hikmah Praktis
- Hidup adalah satu-satunya kesempatan untuk beramal. Setelah kematian, semua pintu tertutup.
- Waktu adalah amanah. Umur yang diberikan cukup untuk belajar, beribadah, dan bertaubat. Jangan ditunda.
- Jangan tunggu penyesalan datang. Taubat dan perbaikan amal harus dilakukan sekarang, bukan nanti.
- Setiap peringatan yang datang — baik dari Al-Qur’an, nasihat, atau kematian orang lain — adalah tanda cinta Allah agar kita kembali sebelum terlambat.
2. Penyesalan karena Berteman dengan Orang yang Salah
(QS Al-Furqān [25]: 28–29)
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
"Celakalah aku! Sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika peringatan itu telah datang kepadaku. Dan sungguh, setan adalah pengkhianat bagi manusia." (QS Al-Furqān [25]: 28–29)
Ayat ini menggambarkan penyesalan mendalam seseorang di akhirat karena salah dalam memilih teman dekat. Teman yang seharusnya menuntun kepada kebaikan justru menyesatkan dari peringatan Allah. Ucapan “يَا وَيْلَتَىٰ” (Celakalah aku!) menunjukkan tingkat keputusasaan yang amat tinggi, menandakan betapa berat dampak dari pengaruh buruk seorang sahabat.
Tafsir bil Ayat
🔁 Ayat-Ayat Pendukung
- QS As-Saffāt [37]: 50–51
إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ
"Sesungguhnya dahulu aku memiliki seorang teman..."
⟶ Dalam konteks ini, teman tersebut menggoda dengan keraguan terhadap hari kebangkitan, hampir menyesatkan sahabatnya.
- QS Al-Kahf [18]: 28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم...
"Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya..."
⟶ Perintah untuk memilih lingkungan sosial yang mendekatkan kepada Allah.
- QS Az-Zukhruf [43]: 67
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
"Teman-teman akrab pada hari itu (kiamat) akan menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa."
⟶ Semua bentuk pertemanan duniawi akan hancur kecuali yang dibangun atas dasar takwa.
Makna “Fulan” dalam Ayat
Menurut para mufassir, "Fulan" adalah simbol dari siapa pun yang membawa pengaruh buruk: bisa sahabat dekat, guru, selebritas, atau siapa saja yang menjadi panutan dalam kemaksiatan. Penyesalan datang ketika sadar bahwa pergaulan itu menjauhkan dari zikir dan petunjuk Allah.
Tafsir Ulama Klasik
- Ibnu Katsir menafsirkan bahwa teman buruk sering kali lebih berbahaya dari musuh terang-terangan, karena mereka mendekat dengan cara yang tampak menyenangkan namun menyesatkan.
- Al-Qurṭubi menyebut bahwa "seseorang akan dikumpulkan di akhirat bersama orang yang dicintainya" (HR. Bukhari-Muslim), maka cinta dan loyalitas harus diarahkan kepada orang saleh, bukan pelaku maksiat.
Tafsir Kontemporer: Prof. Quraish Shihab
Dalam Tafsir Al-Misbah, beliau menekankan bahwa:
Banyak orang terseret ke dalam kesesatan bukan karena niat jahat, tapi karena lingkungan dan teman dekat yang buruk. "Khalīl" adalah teman yang sangat dekat dan berpengaruh, maka harus dipilih dengan hati-hati agar membawa pada keselamatan akhirat, bukan penyesalan.
Hikmah Praktis
- Teman adalah cermin diri: siapa yang paling banyak mempengaruhi pikiran dan keputusan kita menunjukkan arah iman kita.
- Pilih teman yang mengajak kepada kebaikan, bukan sekadar nyaman dalam kesenangan duniawi.
- Lingkungan sosial adalah sarana hidayah atau kesesatan, tergantung siapa yang ada di sekeliling kita.
- Pertemanan karena Allah akan lestari hingga akhirat, sementara yang dibangun atas maksiat akan saling menyalahkan kelak di hadapan neraka.
3. Penyesalan karena Tidak Mengikuti Petunjuk Allah
(QS Al-Mulk [67]: 10)
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
"Dan mereka berkata, 'Seandainya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka Sa‘ir.'" (QS Al-Mulk [67]: 10)
Ayat ini menampilkan penyesalan mendalam dari penghuni neraka yang mengakui kelalaian mereka dalam dua hal utama: tidak mau mendengar dan tidak menggunakan akal. Dua potensi besar yang diberikan Allah kepada manusia untuk meraih hidayah — pendengaran dan akal — diabaikan hingga terlambat.
Mereka baru menyadari bahwa jika saja dulu mereka membuka telinga dan hati terhadap nasihat, ayat-ayat Allah, serta mau berpikir dan merenung, mereka tidak akan termasuk penghuni neraka. Namun, kesadaran yang datang setelah kematian tidak lagi berguna.
Tafsir bil Ayat
🔁 Ayat-Ayat yang Senada:
- QS Al-A‘rāf [7]: 179
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا...
"Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami..."
⟶ Banyak manusia yang diberi akal dan hati, tetapi tidak menggunakannya untuk mencari kebenaran. Ini adalah penyebab utama kesesatan.
- QS Az-Zumar [39]: 23
تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ...
"Kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya merinding (karena Al-Qur'an)..."
⟶ Mereka yang benar-benar mendengarkan ayat-ayat Allah akan merasakan pengaruhnya secara emosional dan spiritual. Hal ini menunjukkan pentingnya pendengaran yang aktif dan hati yang terbuka.
- QS An-Naba’ [78]: 40
وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَـٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًا > "Orang kafir berkata, 'Alangkah baiknya aku menjadi tanah.'" ⟶ Penyesalan ini datang karena mereka tahu bahwa mereka dulu menolak untuk berpikir dan menerima kebenaran.
Tafsir Ulama Klasik
- Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pendengaran dan akal adalah dua jalan utama menuju iman. Jika seseorang bersikap adil terhadap akalnya dan mendengarkan seruan wahyu, ia pasti akan beriman. Namun, kesombongan dan kebodohan menjadi penghalang utama yang menjauhkan dari hidayah.
Tafsir Kontemporer: Dr. Wahbah az-Zuhaili
Dalam Tafsir al-Munir, beliau menafsirkan:
Ayat ini adalah hujjah atas kaum yang diberi akal dan pendengaran, namun tidak menggunakannya untuk memahami dan menerima petunjuk. Mereka bukan tidak tahu, tetapi memilih untuk mengabaikan karena terbuai oleh kesenangan dunia atau tunduk pada hawa nafsu. Maka penyesalan itu datang ketika akal sudah tidak lagi berfungsi dan telinga tidak lagi mampu mendengar.
Hikmah Praktis
- Petunjuk Allah tidak datang dalam bentuk mistik, melainkan melalui ayat, nasihat, khutbah, dan peringatan yang kita temui setiap hari.
- Akal dan pendengaran adalah amanah, bukan sekadar alat biologis, tapi sarana meraih keselamatan akhirat.
- Kesombongan intelektual dan ketertutupan hati adalah dua musuh terbesar hidayah. Ketika seseorang merasa cukup dengan pemahamannya sendiri dan menolak membuka diri terhadap kebenaran, ia telah mematikan potensi hidayah dalam dirinya.
- Jangan tunggu sampai waktu berlalu dan hati menyesal. Gunakan akal dan hati selagi bisa, karena penyesalan tidak bisa mengembalikan kesempatan yang hilang.
4. Penyesalan karena Meninggalkan Shalat
(QS Al-Muddatsir [74]: 42–43)
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
_"(Malaikat bertanya), ‘Apa yang memasukkan kalian ke dalam Saqar?’
Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.’"_
Ayat ini menampilkan pengakuan langsung para penghuni neraka tentang sebab utama kebinasaan mereka: meninggalkan shalat. Pengakuan ini sangat tegas dan tanpa perantara; shalat disebut pertama kali sebelum sebab-sebab dosa lain, menunjukkan kedudukannya yang fundamental dalam kehidupan iman.
Tafsir bil Ayat
- QS Maryam [19]: 59
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا ٱلشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
"Kemudian datang setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka akan menemui kesesatan."
⟶ Menyia-nyiakan shalat membuka pintu dominasi hawa nafsu dan berujung pada kesesatan.
- QS Al-Ma‘ūn [107]: 4–5
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
"Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu yang lalai terhadap shalatnya."
⟶ Bukan hanya meninggalkan shalat, kelalaian dan pengosongan makna shalat pun mendapat ancaman.
- QS Al-Baqarah [2]: 238
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ
"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha."
⟶ Perintah menjaga shalat menegaskan bahwa shalat memerlukan kesungguhan, kontinuitas, dan perhatian.
Bahaya Meninggalkan Shalat
Shalat adalah tiang agama dan indikator paling nyata dari hubungan seorang hamba dengan Allah. Ketika shalat ditinggalkan, runtuhlah bangunan iman secara perlahan. Meninggalkan shalat bukan sekadar meninggalkan kewajiban ritual, tetapi mencerminkan ketiadaan kepatuhan dan ketundukan batin kepada Allah.
Tafsir Ulama Klasik
- Ibnu Katsir menafsirkan bahwa pengakuan “lam naku minal mushallīn” menunjukkan meninggalkan shalat secara total, bukan sekadar kekurangan dalam kekhusyukan. Ini adalah sebab mendasar yang menjerumuskan mereka ke dalam Saqar.
- Al-Qurṭubi menegaskan bahwa shalat adalah pembeda antara iman dan kekufuran; meremehkannya berarti membuka jalan kebinasaan.
Tafsir Kontemporer: Prof. Quraish Shihab
Dalam Tafsir Al-Misbah, beliau menjelaskan bahwa:
Meninggalkan shalat mencerminkan pembangkangan ruhani. Shalat adalah simbol penerimaan otoritas Ilahi dalam kehidupan. Ketika shalat ditinggalkan, maka nilai-nilai ketuhanan pun tersingkir dari orientasi hidup.
Hikmah
- Shalat adalah tolok ukur iman dan ketaatan.
- Meninggalkan shalat adalah sebab utama kebinasaan, sebagaimana pengakuan penghuni neraka sendiri.
- Shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi komitmen harian untuk tunduk kepada Allah.
- Memprioritaskan shalat berarti menjaga keselamatan iman sebelum datang penyesalan yang tak lagi berguna.
5. Penyesalan karena Tidak Bertaubat
(QS Al-Mu’minūn [23]: 99–100)
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu hanyalah kata-kata yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”
Ayat ini menampilkan puncak penyesalan manusia: keinginan bertaubat dan beramal setelah kematian tiba. Permintaan itu disampaikan dengan nada memohon, namun dijawab dengan satu kata yang tegas dan final: كَلَّا (sekali-kali tidak). Ini menandai bahwa kesempatan telah berakhir dan keputusan Allah tidak dapat ditawar.
Tafsir bil Ayat
- QS Fāṭir [35]: 37
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ
“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh…”
⟶ Permintaan kembali untuk beramal selalu muncul setelah azab disaksikan, bukan saat kesempatan masih terbuka.
- QS As-Sajdah [32]: 12
فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَـٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
“Kembalikanlah kami agar kami beramal saleh; sungguh kini kami telah yakin.”
⟶ Keyakinan yang lahir setelah melihat kebenaran secara langsung tidak bernilai sebagai iman.
- QS An-Nisā’ [4]: 18
وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٔـٰنَ
“Taubat tidak diterima dari orang-orang yang terus berbuat dosa hingga apabila kematian datang, ia berkata: ‘Sekarang aku bertaubat.’”
⟶ Taubat memiliki batas waktu yang jelas: sebelum sakaratul maut.
Makna “Barzakh”
Kata barzakh dalam ayat ini bermakna pembatas yang tidak bisa dilampaui. Ia adalah fase antara dunia dan akhirat, tempat manusia menunggu kebangkitan tanpa kemampuan untuk menambah amal atau memperbaiki dosa. Barzakh menegaskan bahwa kematian menutup seluruh peluang perubahan.
Tafsir Ulama
- At-Thabari menjelaskan bahwa barzakh adalah dinding pemisah total; tidak ada jalan kembali ke dunia, tidak ada kesempatan baru untuk beramal.
- Ibnu Katsir menegaskan bahwa permintaan kembali ini hanyalah penyesalan lisan. Seandainya mereka dikembalikan, mereka akan mengulangi perbuatan yang sama. Karena itu, Allah menolaknya secara mutlak.
- Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini membongkar ilusi manusia yang menunda taubat. Ketika ajal tiba, kesadaran muncul, tetapi kehendak untuk beramal telah terputus. Penyesalan itu jujur secara emosi, namun tidak sah secara spiritual.
Hikmah
- Taubat hanya diterima selama hayat masih ada.
- Menunda taubat adalah bentuk kelalaian yang paling berbahaya karena tampak aman, padahal mematikan.
- Kematian mengakhiri amal, bukan membuka peluang baru.
- Setiap penundaan taubat hari ini berpotensi menjadi penyesalan yang tidak berguna esok hari.
Taubat bukan untuk ditunggu, tetapi untuk segera dilakukan, sebelum datang saat di mana kata “kembalikanlah aku” tidak lagi didengar.
Penutup: Benang Merah dari Lima Penyesalan
Kelima bentuk penyesalan yang digambarkan Al-Qur’an — tidak beramal shalih, berteman dengan orang salah, mengabaikan petunjuk Allah, meninggalkan shalat, dan menunda taubat — memiliki satu akar penyebab yang sama: penundaan dalam ketaatan dan kelalaian terhadap peringatan.
Al-Qur’an dengan sangat jelas menyampaikan bahwa manusia tidak kekurangan fasilitas untuk mendapat hidayah. Umur yang cukup panjang, akal untuk berpikir, pendengaran untuk menerima nasihat, serta peringatan melalui ayat, rasul, dan kematian di sekelilingnya, semuanya telah Allah berikan. Yang menjadi masalah adalah sikap abai dan menunda, seolah waktu masih panjang dan kematian tidak mendesak.
Penyesalan tidak akan pernah absen dari kehidupan akhirat bagi mereka yang menyia-nyiakan kehidupan dunia. Namun, semua bentuk penyesalan itu terlambat, sebab setelah kematian, tidak ada lagi perbaikan, hanya pertanggungjawaban.
Karena itu, sekarang adalah satu-satunya kesempatan yang kita miliki. Tidak ada hari esok yang dijamin. Maka gunakan hidup untuk:
- Beramal shalih dengan sungguh-sungguh.
- Mencari dan menjaga teman yang saleh.
- Mendengar dan merenungi peringatan Allah.
- Menegakkan shalat sebagai komitmen harian.
- Bertaubat tanpa menunda.
"Kesempatan itu bernama hidup, dan ia tidak pernah kembali."
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sadar sebelum terlambat, yang memanfaatkan waktu dengan amal, bukan dengan penyesalan.
Referensi
Quran.com1. Rujukan penulisan Qur'an berikut terjemahan diambil dari Quran.com
Qur’an Kemenag2. Rujukan tafsir Qur’an Kemenag