Published on

Puasa Itu Perisai… Tapi Kenapa Banyak yang Cuma Dapat Lapar?

Authors

🌙✨ Puasa Itu Perisai… Tapi Kenapa Banyak yang Cuma Dapat Lapar?



Kita hidup di zaman yang nggak pernah sepi.

Scroll sebentar:

  • Ada yang flexing.
  • Ada yang roasting.
  • Ada yang debat panas.
  • Ada yang viral karena salah ngomong.
  • Ada yang cancel orang tanpa klarifikasi.

Timeline panas. Komentar makin pedas. Opini makin keras.

Lalu Ramadan datang.

Kita puasa. Nahan lapar. Nahan haus. Tapi… apakah kita juga nahan ego?

Karena Rasulullah ﷺ pernah bilang sesuatu yang sangat dalam — dan sangat relevan buat zaman sekarang:


🕌 1. Puasa Itu Perisai

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ»

“Puasa adalah perisai. Maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada seseorang memeranginya atau mencacinya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Sahih al-Bukhari no. 1894; Sahih Muslim no. 1151)

Kata جُنَّةٌ (junnah) berarti perisai — pelindung.

Bukan cuma pelindung dari lapar. Bukan cuma pelindung dari haus. Tapi pelindung dari nafsu, emosi, dan kebodohan reaktif.


🌱 2. Target Puasa Itu Takwa, Bukan Sekadar Diet

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuannya jelas: agar kamu bertakwa.

Menurut tafsir Ibnu Katsir, takwa adalah menjaga diri dari murka Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Artinya: Puasa itu latihan kontrol diri.

Dan di era digital, kontrol diri adalah skill paling langka.


🔥 3. “Jangan Berkata Kotor dan Jangan Berbuat Bodoh”

Dalam hadis tadi disebut:

فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ

  • لا يرفث → jangan berkata kotor, vulgar, atau menyakiti.
  • لا يجهل → jangan bersikap jahil (emosional, kasar, reaktif).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa “jahl” di sini bukan kurang pendidikan, tapi kehilangan kendali karena emosi.

Sekarang jujur saja:

  • Pernah komentar pedas saat puasa?
  • Pernah sindiran halus tapi nyelekit?
  • Pernah share berita tanpa cek?
  • Pernah debat sampai menyerang personal?

Kalau iya, berarti puasanya belum sepenuhnya jadi perisai.


🧾 4. Semua Kata Dicatat — Termasuk yang Diketik

Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Di zaman sekarang, “perkataan” bukan cuma lisan.

Itu juga:

  • Caption.
  • Tweet.
  • Komentar.
  • DM.
  • Story.
  • Bahkan emoji sarkas.

Keyboard juga bagian dari amal.


💥 5. Tapi Ada Hadis yang Lebih Menampar

Rasulullah ﷺ bersabda:

«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ»

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Ahmad no. 8693; dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Ini bukan soal sah atau tidak sah.

Ini soal: Apakah puasa kita mengubah akhlak?

Kalau tidak, maka yang didapat hanya lapar.


🧠 6. Kenapa Bisa Cuma Lapar?

Karena puasanya hanya fisik.

Imam Al-Ghazali membagi puasa jadi tiga level:

  1. Menahan makan dan minum.
  2. Menahan anggota tubuh dari dosa.
  3. Menahan hati dari selain Allah.

Kalau cuma level pertama, maka hadis “hanya dapat lapar dan dahaga” bisa terjadi.

Puasa menahan perut tapi tidak menahan lisan? Itu belum jadi perisai.


📱 7. Relevansi di Era Gen Z

Kita hidup di zaman:

  • Semua orang ingin didengar.
  • Semua orang ingin viral.
  • Semua orang ingin menang debat.

Padahal Nabi ﷺ mengajarkan standar sederhana:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018; Muslim no. 47)

Kalau ini jadi prinsip hidup, timeline akan jauh lebih sehat.

Puasa seharusnya melatih:

  • Tidak semua hal harus dikomentari.
  • Tidak semua hinaan harus dibalas.
  • Tidak semua perbedaan harus dipermasalahkan.

Kadang yang paling kuat itu bukan yang paling keras, tapi yang paling tenang.


🎯 8. Jadi, Perisai atau Sekadar Lapar?

Puasa bisa jadi:

  • Perisai dari syahwat.
  • Perisai dari emosi.
  • Perisai dari toxic behavior.
  • Perisai dari algoritma yang memancing amarah.

Atau…

Puasa bisa jadi:

  • Sekadar rutinitas.
  • Sekadar tradisi.
  • Sekadar diet spiritual tahunan.

Bedanya ada di satu hal: Apakah kita benar-benar melatih takwa?

Kalau setelah Ramadan kita:

  • Lebih sabar.
  • Lebih santun.
  • Lebih selektif bicara.
  • Lebih tenang saat diserang.

Maka puasanya berhasil.

Kalau tidak? Mungkin kita termasuk yang disebut Nabi ﷺ:

«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ»


🚀 Call to Action

Mulai hari ini, upgrade puasamu.

Sebelum posting, tanya:

  • Ini bermanfaat?
  • Ini menyakiti?
  • Ini perlu?
  • Allah ridha?

Kalau ragu — tahan. Kalau emosi — ingat: “Inni shā’im.” Kalau ingin membalas — pilih diam.

Jadikan Ramadan bukan cuma momen menahan lapar, tapi momen melatih karakter.

Karena dunia tidak butuh lebih banyak orang yang keras suaranya. Dunia butuh lebih banyak orang yang kuat menahan dirinya.

Yuk, jadikan puasa benar-benar perisai — bukan sekadar rasa lapar.

Dan kalau tulisan ini relate, bagikan sebagai pengingat — bukan untuk terlihat saleh, tapi untuk saling menguatkan.


Referensi

  • Quran.com1. Rujukan penulisan Qur'an berikut terjemahan diambil dari Quran.com
  • Qur’an Kemenag2. Rujukan tafsir Qur’an Kemenag

Footnotes

  1. Quran.com

  2. Qur’an Kemenag