Published on

Sistem Sedimentasi Bioflok untuk Praktisi: Analisis Swirler, Radial Sedimentasi, IPC, dan Kombinasi Swirler–IPC

Authors

Sistem Sedimentasi Bioflok untuk Praktisi: Analisis Swirler, Radial Sedimentasi, IPC, dan Kombinasi Swirler–IPC



Sistem Sedimentasi Bioflok untuk Praktisi: Analisis Swirler, Radial Sedimentasi, dan IPC

0. Abstrak / Ringkasan Praktis

Sistem bioflok bukan sistem air jernih konvensional. Di dalam air bioflok terdapat komunitas mikroba, bahan organik terflokulasi, sisa pakan, feses, partikel tersuspensi, dan agregat biologis yang sebagian masih berguna sebagai pakan alami serta media proses nitrogen. Karena itu, target pengelolaan bioflok bukan menghilangkan seluruh flok, melainkan mengendalikan konsentrasi padatan agar tetap berada dalam rentang aman dan produktif.

Sedimentasi diperlukan karena akumulasi padatan tersuspensi dapat meningkatkan konsumsi oksigen, memperbesar beban organik, membentuk lumpur anaerob, menurunkan stabilitas kualitas air, dan mengganggu performa ikan atau udang. Pada sistem intensif, masalah ini sering muncul bukan karena bioflok “gagal”, tetapi karena biomassa flok, sisa pakan, dan feses tidak memiliki jalur pembuangan padatan yang terkendali.

Artikel ini membahas tiga alternatif utama sistem sedimentasi bioflok:

  1. Swirler / swirl separator, yaitu pemisah berbasis aliran tangensial dan pusaran.
  2. Radial sedimentasi / radial-flow settler, yaitu pengendap beraliran radial dari feedwell tengah ke overflow keliling.
  3. IPC / inclined plate clarifier / lamella clarifier, yaitu pengendap dengan pelat miring untuk memperbesar luas pengendapan efektif.

Kesimpulan teknis awal dari pembahasan ini adalah bahwa kombinasi swirler + IPC merupakan konfigurasi paling seimbang untuk bioflok intensif. Swirler bekerja sebagai pre-settler yang menangkap padatan kasar, feses, flok besar, dan lumpur awal. IPC kemudian bekerja sebagai polishing clarifier yang menangkap flok lebih ringan dengan bantuan luas pengendapan efektif yang lebih besar.

Acuan kapasitas desain dalam artikel ini adalah:

Q=20 L/menit=1.2 m3/jam=28.8 m3/hariQ = 20\ L/menit = 1.2\ m^3/jam = 28.8\ m^3/hari

Kapasitas ini sengaja dipakai sebagai contoh praktis karena masih relevan untuk unit side-stream pada kolam bioflok kecil hingga menengah, sekaligus cukup besar untuk menunjukkan perbedaan nyata antara swirler, radial sedimentasi, dan IPC.

Kembali ke Atas


1. Pentingnya Sedimentasi Sebelum Perlakuan pada Bioflok

1.1 Karakter Khas Sistem Bioflok

Bioflok adalah sistem budidaya dengan kepadatan mikroba dan padatan tersuspensi yang relatif tinggi. Air bioflok umumnya berisi:

  • bakteri heterotrof;
  • mikroalga;
  • protozoa;
  • bahan organik terflokulasi;
  • feses;
  • sisa pakan;
  • partikel tersuspensi;
  • flok biologis yang dapat dimanfaatkan kembali oleh ikan atau udang.

Karena itu, bioflok tidak boleh dipahami sebagai “air kotor” yang harus dijernihkan total. Sebagian flok justru merupakan komponen produktif dalam sistem. Flok dapat berperan sebagai sumber protein tambahan, tempat berlangsungnya proses mikroba, serta bagian dari mekanisme daur ulang nutrien.

Prinsip praktisnya adalah:

Tujuan sedimentasi=mengontrol padatan, bukan mensterilkan airTujuan\ sedimentasi = mengontrol\ padatan,\ bukan\ mensterilkan\ air

atau lebih ringkas:

Bioflok perlu dikendalikan, bukan dihabiskanBioflok\ perlu\ dikendalikan,\ bukan\ dihabiskan

Bila sistem sedimentasi terlalu agresif, air memang bisa terlihat lebih jernih, tetapi biomassa flok yang berguna ikut terbuang. Sebaliknya, bila tidak ada pengendalian padatan, TSS dapat naik terus hingga sistem menjadi berat, boros oksigen, dan sulit dikontrol.

Diagram sederhana posisi flok dalam sistem bioflok:

Rendering diagram...

1.2 Masalah Bila TSS Tidak Dikendalikan

TSS atau total suspended solids adalah salah satu parameter paling penting dalam sistem bioflok. Pada tingkat tertentu, padatan tersuspensi masih bermanfaat. Namun, ketika akumulasinya berlebihan, sistem mulai mengalami tekanan biologis dan hidraulik.

Masalah yang umum terjadi bila TSS tidak dikendalikan:

  • konsumsi oksigen meningkat;
  • DO atau oksigen terlarut turun;
  • flok mati menjadi lumpur;
  • dasar kolam membentuk zona anaerob;
  • bau busuk mulai muncul;
  • amonia dan nitrit lebih sulit stabil;
  • insang ikan atau udang terganggu;
  • respons makan menurun;
  • efisiensi pakan turun;
  • sistem lebih sulit dipulihkan ketika terjadi gangguan.

Green melaporkan bahwa dalam sistem bioflok, akumulasi limbah pakan dan proses mikroba dapat meningkatkan TSS; studi tersebut mengevaluasi settling chamber dengan HRT 1818, 4343, dan 8787 menit, lalu menyimpulkan bahwa minimum HRT sekitar 4343 menit sesuai untuk biofloc culture hybrid striped bass / sunshine bass pada kondisi penelitian tersebut. (OUP Academic)

Hal penting bagi praktisi: angka 4343 menit bukan “angka sakti” untuk semua komoditas, semua kolam, dan semua jenis flok. Namun, angka tersebut jauh lebih kuat sebagai rujukan bioflok dibanding asumsi kasar HRT pendek tanpa validasi.

Secara operasional, TSS berlebih biasanya terlihat dari beberapa gejala lapangan:

Gejala lapanganInterpretasi praktis
Air terlalu pekat dan beratPadatan tersuspensi mulai berlebihan
Aerasi terlihat beratBeban organik dan respirasi mikroba meningkat
Lumpur mudah terkumpul di dasarFlok mati dan feses tidak terangkat
Bau menyengat saat drainAda indikasi zona anaerob
Ikan/udang menurun respons makanKualitas air dan kenyamanan biologis menurun
Outlet sedimentasi terlalu pekatDebit atau frekuensi pembuangan perlu diatur ulang

1.3 Posisi Sedimentasi dalam Rantai Perlakuan Air Bioflok

Sedimentasi pada bioflok sebaiknya dipahami sebagai unit pengendali padatan side-stream, bukan sebagai sistem filtrasi penuh yang mengambil seluruh arus utama kolam.

Skema paling aman:

KolamPengambilan sidestreamSedimentasiAir balikKolam \rightarrow Pengambilan\ side-stream \rightarrow Sedimentasi \rightarrow Air\ balik

Untuk sistem gabungan yang akan menjadi rekomendasi utama artikel ini:

KolamSwirlerIPCKolamKolam \rightarrow Swirler \rightarrow IPC \rightarrow Kolam

Mengapa side-stream lebih aman?

Pertama, kolam bioflok membutuhkan aerasi kuat dan mixing internal. Bila seluruh aliran utama dipaksa masuk ke unit sedimentasi, risiko gangguan hidraulik meningkat. Kedua, bioflok tidak boleh dibuang secara berlebihan. Dengan side-stream, operator dapat mengatur seberapa besar fraksi air yang diproses. Ketiga, sistem side-stream lebih fleksibel: bisa dioperasikan kontinu, periodik, atau memakai bypass.

Diagram posisi sedimentasi dalam sistem bioflok:

Rendering diagram...

Kembali ke Atas


2. Parameter Desain Utama yang Wajib Dipahami Praktisi

Sebelum membandingkan swirler, radial sedimentasi, dan IPC, praktisi perlu memahami beberapa parameter desain dasar. Tanpa parameter ini, desain alat sering hanya menjadi “perkiraan ukuran tangki”, bukan rancangan sedimentasi yang dapat diuji.

2.1 Debit Desain

Debit desain yang dipakai dalam artikel ini adalah:

Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

Konversinya:

Q=0.02 m3/menitQ = 0.02\ m^3/menit
Q=1.2 m3/jamQ = 1.2\ m^3/jam
Q=28.8 m3/hariQ = 28.8\ m^3/hari

Debit 20 L/menit20\ L/menit dapat dibaca sebagai debit side-stream, bukan debit total sirkulasi kolam. Misalnya pada kolam 10 m310\ m^3, debit ini setara dengan volume olah harian:

Turnover=28.8 m3/hari10 m3Turnover = \frac{28.8\ m^3/hari}{10\ m^3}
Turnover=2.88 kali/hariTurnover = 2.88\ kali/hari

Artinya, jika unit dijalankan kontinu, air yang melewati sistem sedimentasi setara sekitar 2.882.88 kali volume kolam 10 m310\ m^3 per hari. Namun dalam praktik, sistem tidak selalu harus berjalan 2424 jam. Operasi bisa disesuaikan dengan tren TSS, hasil Imhoff cone, respons makan, dan kondisi DO.

2.2 Hydraulic Retention Time

Hydraulic retention time atau HRT adalah waktu tinggal rata-rata air di dalam unit.

Formula dasarnya:

HRT=VQHRT = \frac{V}{Q}

Keterangan:

  • HRTHRT = waktu tinggal hidrolik;
  • VV = volume efektif unit;
  • QQ = debit masuk.

Jika VV dinyatakan dalam liter dan QQ dalam liter per menit, maka HRTHRT keluar dalam menit.

Contoh:

V=860 LV = 860\ L
Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

Maka:

HRT=86020HRT = \frac{860}{20}
HRT=43 menitHRT = 43\ menit

Pada bioflok, HRT perlu dibaca hati-hati. HRT panjang memberi peluang pengendapan lebih baik, tetapi juga memperbesar volume alat. HRT terlalu pendek dapat hanya menangkap partikel berat, sementara flok ringan tetap lolos. HRT terlalu panjang dapat membuat unit besar, mahal, dan berisiko menahan lumpur terlalu lama bila drain tidak baik.

Pembedaan penting:

UnitCara membaca HRT
SwirlerHRT membantu, tetapi pemisahan juga dipengaruhi pusaran dan inlet tangensial
Radial sedimentasiHRT dan surface loading sama-sama penting
IPCHRT penting, tetapi projected settling area lebih menentukan performa
Sistem kombinasiHRT total adalah penjumlahan volume seri dibagi debit

2.3 Overflow Velocity / Surface Loading

Parameter yang sangat penting dalam sedimentasi adalah overflow velocity atau surface loading rate.

Formula:

vo=QAv_o = \frac{Q}{A}

Keterangan:

  • vov_o = overflow velocity;
  • QQ = debit;
  • AA = luas pengendapan efektif.

Untuk sedimentasi gravitasi, prinsip dasarnya:

vs>vov_s > v_o

Keterangan:

  • vsv_s = kecepatan endap partikel atau flok;
  • vov_o = kecepatan overflow atau beban permukaan.

Jika kecepatan endap flok lebih kecil daripada overflow velocity, flok cenderung ikut keluar bersama air. Jika kecepatan endap flok lebih besar daripada overflow velocity, flok punya peluang lebih besar untuk tertahan.

Contoh pada radial sedimentasi:

Q=1.2 m3/jamQ = 1.2\ m^3/jam
A=1.131 m2A = 1.131\ m^2

Maka:

vo=1.21.131v_o = \frac{1.2}{1.131}
vo=1.06 m/jamv_o = 1.06\ m/jam

Artinya, flok dengan kecepatan endap lebih rendah dari 1.06 m/jam1.06\ m/jam akan lebih mudah lolos, sedangkan flok dengan kecepatan endap lebih tinggi akan lebih mudah tertahan.

2.4 Footprint

Footprint adalah luas tapak alat di lantai atau lahan. Untuk praktisi, footprint sering menjadi kendala utama karena unit sedimentasi harus masuk ke area produksi, dekat kolam, mudah diakses, dan tidak mengganggu operasional.

Untuk tangki bulat:

A=πD24A = \frac{\pi D^2}{4}

Keterangan:

  • AA = footprint;
  • DD = diameter tangki.

Untuk tangki rectangular:

A=L×WA = L \times W

Keterangan:

  • LL = panjang;
  • WW = lebar.

Dalam diskusi desain ini, footprint tiap metode berbeda:

MetodeFootprint contoh
Swirler D=800 mmD = 800\ mm0.503 m20.503\ m^2
Radial sedimentasi D=1200 mmD = 1200\ mm1.131 m21.131\ m^2
IPC rectangular 1200 mm×943 mm1200\ mm \times 943\ mm1.132 m21.132\ m^2

Perbedaan footprint ini penting. Swirler paling kecil, radial lebih besar, sedangkan IPC memiliki footprint mirip radial tetapi area pengendapan efektifnya lebih besar karena bantuan pelat miring.

2.5 Beban TSS

Selain debit dan volume, praktisi harus menghitung beban padatan yang masuk ke unit sedimentasi. Formula sederhana:

LTSS=Q×TSS×0.001L_{TSS} = Q \times TSS \times 0.001

Keterangan:

  • LTSSL_{TSS} = beban TSS dalam kg/harikg/hari;
  • QQ = debit harian dalam m3/harim^3/hari;
  • TSSTSS = total suspended solids dalam mg/Lmg/L;
  • 0.0010.001 = faktor konversi dari m3×mg/Lm^3 \times mg/L menjadi kgkg.

Contoh:

Q=28.8 m3/hariQ = 28.8\ m^3/hari
TSS=400 mg/LTSS = 400\ mg/L

Maka:

LTSS=28.8×400×0.001L_{TSS} = 28.8 \times 400 \times 0.001
LTSS=11.52 kg/hariL_{TSS} = 11.52\ kg/hari

Artinya, pada debit 20 L/menit20\ L/menit dan TSS 400 mg/L400\ mg/L, unit sedimentasi menerima beban padatan tersuspensi sekitar:

11.52 kg TSS/hari11.52\ kg\ TSS/hari

Namun beban ini bukan berarti seluruhnya harus dibuang. Pada bioflok, sebagian flok masih berguna. Maka target desain bukan sekadar removal setinggi mungkin, tetapi removal yang terkendali sesuai kondisi kolam.

Kembali ke Atas


3. Alternatif Metode Sedimentasi Bioflok

Bab ini membahas tiga metode sedimentasi utama: swirler, radial sedimentasi, dan IPC. Ketiganya sama-sama memisahkan padatan dari air, tetapi prinsip kerja, performa, footprint, risiko operasional, dan posisi terbaik dalam sistem berbeda.

3.1 Swirler / Swirl Separator

Sedimentasi bioflok swirler

Ilustrasi sedimentasi bioflok menggunakan swirler untuk membantu pemisahan padatan, pengendapan flok, dan pengelolaan kualitas air kolam.

3.1.1 Cara Kerja

Swirler adalah pemisah padatan-cairan yang memakai aliran masuk tangensial untuk membentuk pusaran. Air dari kolam masuk dari sisi tangki, bukan dari tengah. Arah masuk ini menciptakan gerakan melingkar. Partikel yang lebih berat, flok besar, feses, dan sisa pakan terdorong ke arah dinding dan turun ke bagian cone bawah. Air yang lebih ringan bergerak ke zona tengah/atas lalu keluar melalui outlet overflow.

Skema kerja swirler:

Rendering diagram...

Swirler efektif ketika targetnya adalah padatan kasar dan flok besar. Dalam konteks bioflok, fungsi terbaiknya bukan sebagai clarifier akhir, melainkan sebagai pre-settler atau sludge concentrator.

3.1.2 Kelebihan Swirler

Kelebihan swirler:

  • konstruksi sederhana;
  • biaya relatif rendah;
  • mudah dibuat dari drum, PVC, atau tangki fiber;
  • footprint kecil;
  • cocok untuk side-stream;
  • drain lumpur mudah dipasang di bagian cone bawah;
  • baik untuk menangkap feses, sisa pakan, pasir halus, flok besar, dan lumpur organik kasar;
  • dapat melindungi unit lanjutan seperti IPC dari beban padatan besar.

Swirler juga cocok untuk sistem yang membutuhkan alat sederhana dan mudah dirawat. Pada skala praktisi, swirler sering lebih realistis dibanding clarifier besar karena dapat dibuat lokal dan tidak memerlukan komponen internal rumit.

3.1.3 Kelemahan Swirler

Kelemahan utama swirler adalah performanya sangat bergantung pada karakter partikel dan hidraulika aliran. Bioflok bersifat biologis, ringan, berpori, dan mudah pecah. Bila inlet terlalu agresif, flok besar dapat terpecah menjadi partikel lebih halus. Partikel halus ini justru lebih sulit diendapkan.

Kelemahan swirler:

  • kurang baik untuk flok ringan dan sangat halus;
  • risiko shear bila aliran masuk terlalu cepat;
  • removal bisa fluktuatif;
  • tidak ideal sebagai polishing clarifier;
  • membutuhkan drain lumpur rutin;
  • jika terlalu sering membuang lumpur, biomassa flok berguna ikut hilang.

Karena itu, desain swirler bioflok harus memakai aliran tangensial yang cukup untuk membentuk pusaran, tetapi tidak terlalu kuat.

3.1.4 Performance Literatur

Performa swirler pada literatur RAS cukup bervariasi. Davidson dan Summerfelt membandingkan swirl separator dan radial-flow settler pada sistem coldwater RAS. Dalam studi tersebut, swirl separator menghasilkan rata-rata TSS removal sekitar 37.1±3.337.1 \pm 3.3%, sedangkan radial-flow settler mencapai sekitar 77.9±1.677.9 \pm 1.6%. Ini menunjukkan bahwa swirler dapat bekerja, tetapi performanya lebih rendah daripada radial-flow settler pada kondisi penelitian tersebut. (Academia)

Pfeiffer et al. mengevaluasi komponen penghilangan padatan pada RAS tilapia dan melaporkan bahwa swirl separator memiliki removal lebih dari 9090% untuk partikel lebih besar dari 250 μm250\ \mu m. Ini penting karena menunjukkan bahwa swirler sangat kuat pada fraksi partikel besar, tetapi tidak otomatis berarti unggul untuk partikel kecil atau flok ringan. (ScienceDirect)

Interpretasi praktisnya:

Fraksi padatanPerforma swirler
Feses besarBaik
Sisa pakanBaik
Flok besarCukup baik
Flok ringanSedang
Flok halusLemah–sedang
KoloidLemah

3.1.5 Posisi Terbaik dalam Sistem Bioflok

Kesimpulan teknis:

Swirler=presettler, bukan polishing clarifierSwirler = pre-settler,\ bukan\ polishing\ clarifier

Swirler paling tepat ditempatkan sebelum unit yang lebih sensitif seperti IPC. Dengan posisi ini, swirler menangkap padatan kasar lebih dulu, sehingga IPC tidak langsung menerima beban feses, sisa pakan, dan flok besar yang berisiko menyumbat plate pack.


3.2 Radial Sedimentasi / Radial-Flow Settler

Sedimentasi bioflok radial

Ilustrasi sedimentasi bioflok menggunakan sistem radial untuk membantu pemisahan padatan, pengendapan flok, dan menjaga kualitas air kolam.

3.2.1 Cara Kerja

Radial sedimentasi bekerja dengan mengalirkan air ke feedwell di tengah tangki. Feedwell berfungsi meredam energi aliran masuk. Setelah energi berkurang, air menyebar secara radial dari tengah ke tepi. Padatan turun ke dasar, sedangkan air yang lebih jernih keluar melalui overflow keliling atau launder.

Skema kerja radial sedimentasi:

Rendering diagram...

Aliran radial lebih tenang dibanding swirler karena tujuannya bukan menciptakan pusaran kuat, tetapi menciptakan zona pengendapan yang stabil.

3.2.2 Kelebihan Radial Sedimentasi

Kelebihan radial sedimentasi:

  • aliran lebih tenang;
  • shear lebih rendah;
  • lebih ramah untuk flok biologis yang rapuh;
  • lebih stabil daripada swirler;
  • cocok untuk TSS sedang hingga tinggi;
  • mudah dibersihkan;
  • drain lumpur relatif sederhana;
  • tidak memiliki plate pack yang mudah tersumbat.

Dalam konteks bioflok, radial sedimentasi sangat menarik bila targetnya adalah clarifier robust yang tidak terlalu sensitif terhadap perubahan karakter flok.

3.2.3 Kelemahan Radial Sedimentasi

Kelemahan utamanya adalah footprint. Untuk mencapai HRT dan surface loading rendah, radial sedimentasi membutuhkan diameter lebih besar. Dibanding swirler, unit radial lebih melebar. Dibanding IPC, area pengendapan efektif radial terbatas pada luas permukaan tangki.

Kelemahan radial sedimentasi:

  • footprint lebih besar;
  • volume lebih besar bila target HRT panjang;
  • tidak seefisien IPC dalam penggunaan area lantai;
  • konstruksi overflow keliling perlu rapi agar aliran merata;
  • feedwell harus benar agar tidak terjadi short-circuit.

3.2.4 Performance Literatur

Davidson dan Summerfelt menemukan bahwa radial-flow settler memiliki rata-rata TSS removal sekitar 77.9±1.677.9 \pm 1.6%, sedangkan swirl separator sekitar 37.1±3.337.1 \pm 3.3% pada sistem coldwater RAS. Studi tersebut juga menunjukkan radial-flow settler lebih konsisten pada berbagai konsentrasi TSS inlet. (Academia)

Untuk praktisi bioflok, hasil ini tidak boleh disalin mentah sebagai jaminan removal yang sama, karena karakter padatan bioflok berbeda dari padatan RAS coldwater. Namun, arah kesimpulannya kuat: aliran radial yang lebih tenang cenderung lebih baik untuk pengendapan padatan tersuspensi dibanding pusaran swirler yang lebih agresif.

3.2.5 Posisi Terbaik dalam Sistem Bioflok

Kesimpulan teknis:

Radial sedimentasi=clarifier lembut dan robustRadial\ sedimentasi = clarifier\ lembut\ dan\ robust

Radial sedimentasi cocok bila ruang tersedia dan operator menginginkan sistem yang stabil, mudah dirawat, serta lebih toleran terhadap variasi TSS. Namun, bila lahan sempit dan target performa per footprint tinggi, IPC lebih menarik.


3.3 IPC / Inclined Plate Clarifier / Lamella Clarifier

Sedimentasi bioflok IPC

Ilustrasi sedimentasi bioflok dengan sistem IPC untuk membantu pemisahan padatan, pengendapan flok, dan pengelolaan kualitas air kolam.

3.3.1 Cara Kerja

IPC atau inclined plate clarifier memakai kumpulan pelat miring untuk memperbesar area pengendapan efektif. Air mengalir melalui kanal antar-pelat. Partikel atau flok tidak perlu turun sedalam tangki biasa, tetapi cukup bergerak menuju permukaan pelat terdekat. Setelah menempel atau mencapai pelat, padatan meluncur turun ke zona lumpur, sedangkan air yang lebih jernih naik menuju outlet.

Prinsip utama IPC adalah:

Memperbesar luas pengendapan efektif tanpa memperbesar footprint secara proporsionalMemperbesar\ luas\ pengendapan\ efektif\ tanpa\ memperbesar\ footprint\ secara\ proporsional

Skema kerja IPC:

Rendering diagram...

3.3.2 Kelebihan IPC

Kelebihan IPC:

  • luas pengendapan efektif tinggi;
  • footprint efisien;
  • surface loading efektif rendah;
  • baik untuk flok dengan settling velocity rendah;
  • cocok sebagai polishing clarifier;
  • dapat menggandakan area settling dalam luas lantai yang sama.

Dalam desain yang dibahas dalam artikel ini, IPC dengan footprint sekitar 1.132 m21.132\ m^2 menghasilkan projected settling area:

AIPC=2.43 m2A_{IPC} = 2.43\ m^2

Sehingga area multiplier terhadap footprint adalah:

RA=2.431.132R_A = \frac{2.43}{1.132}
RA=2.15R_A = 2.15

Artinya, pada footprint yang sama, IPC memberi luas pengendapan efektif sekitar:

2.15×2.15\times

dibanding clarifier terbuka biasa.

3.3.3 Kelemahan IPC

Kelemahan IPC adalah sensitivitas terhadap clogging. Bioflok bersifat organik, lengket, dan mudah membentuk lapisan biofilm. Jika IPC menerima air bioflok mentah langsung dari kolam, plate pack dapat cepat kotor.

Kelemahan IPC:

  • risiko clogging antar-pelat;
  • plate pack perlu pembersihan rutin;
  • tidak ideal menerima flok kasar langsung;
  • distribusi inlet harus merata;
  • short-circuit dapat menurunkan performa;
  • sludge hopper harus didesain agar lumpur tidak tertahan terlalu lama.

Karena itu, IPC lebih aman bila ditempatkan setelah swirler atau pre-settler lain.

3.3.4 Performance dan Prinsip Literatur

Literatur desain lamella menyebut bahwa inclined plate clarifier menggunakan pelat miring yang umum dipasang pada sudut sekitar 4545^\circ6060^\circ dari horizontal. Variabel desain penting meliputi panjang lintasan, jarak antar-pelat, dan sudut pelat. (Hydroflotech)

Sumber teknis manufaktur juga menyebut pelat 6060^\circ banyak digunakan karena memberi projected surface area yang efisien, sementara sudut terlalu landai dapat mengganggu aliran lumpur dan meningkatkan potensi clogging. (Metchem)

Untuk bioflok, pemilihan spacing tidak boleh terlalu rapat. Spacing sekitar 50 mm50\ mm atau lebih aman daripada spacing sangat sempit karena bioflok dapat lengket dan membentuk lapisan organik. Pada desain artikel ini, spacing yang dipakai adalah:

s=50 mm=1.97 ins = 50\ mm = 1.97\ in

3.3.5 Posisi Terbaik dalam Sistem Bioflok

Kesimpulan teknis:

IPC=polishing clarifier, idealnya setelah swirlerIPC = polishing\ clarifier,\ idealnya\ setelah\ swirler

IPC paling kuat bila menerima air yang sudah dikurangi padatan kasarnya. Dengan demikian, plate pack tidak langsung menerima feses besar, sisa pakan, dan flok kasar. Kombinasi yang paling rasional adalah:

KolamSwirlerIPCKolamKolam \rightarrow Swirler \rightarrow IPC \rightarrow Kolam

atau secara fungsi:

Swirler=proteksi IPCSwirler = proteksi\ IPC
IPC=polishing flok ringanIPC = polishing\ flok\ ringan

Diagram posisi terbaik IPC:

Rendering diagram...

Referensi Bab 0–3

  1. Green, B. W. 2022. Evaluation of Settling Chamber Hydraulic Retention Time in a Biofloc Production System. Studi ini menjadi rujukan utama untuk penggunaan HRT sekitar 4343 menit pada settling chamber bioflok. (OUP Academic)
  2. Davidson & Summerfelt. RAS solids removal: swirl separator vs radial-flow settler. Studi ini menjadi rujukan perbandingan performa swirl separator dan radial-flow settler pada sistem RAS. (Academia)
  3. Pfeiffer et al. 2008. Particle sieve analysis for determining solids removal efficiency of water treatment components in a recirculating aquaculture system. Studi ini menjadi rujukan performa swirl separator terhadap fraksi partikel besar. (ScienceDirect)
  4. HydroFlo Tech. Theory of Inclined Plate Clarifier Design. Rujukan prinsip dasar lamella/IPC, sudut pelat, dan variabel desain utama. (Hydroflotech)
  5. Met-Chem. Lamella Clarifier Manufacturer / Inclined Plate Clarifier. Rujukan teknis praktis tentang penggunaan pelat 6060^\circ dan projected surface area. (Metchem)

Kembali ke Atas


Kembali ke Atas

4. Desain Masing-Masing Metode untuk Kapasitas 20 L/menit20\ L/menit

Bab ini menerjemahkan prinsip sedimentasi menjadi desain praktis. Semua metode dihitung dengan basis debit yang sama:

Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

Konversi debit:

Q=0.02 m3/menitQ = 0.02\ m^3/menit
Q=1.2 m3/jamQ = 1.2\ m^3/jam
Q=28.8 m3/hariQ = 28.8\ m^3/hari

Basis ini penting agar perbandingan antar-metode tidak bias. Swirler, radial sedimentasi, dan IPC tidak dibandingkan pada kondisi yang berbeda, tetapi pada beban debit yang sama. Perbedaannya terletak pada volume, area pengendapan efektif, karakter aliran, risiko clogging, dan fungsi terbaik dalam sistem bioflok.

Sebagai catatan desain, HRT 4343 menit untuk settling chamber bioflok digunakan sebagai acuan konservatif karena Green mengevaluasi HRT 1818, 4343, dan 8787 menit pada sistem bioflok dan menyimpulkan HRT minimum sekitar 4343 menit sesuai untuk biofloc culture hybrid striped bass pada kondisi studi tersebut. (Wiley Online Library)


4.1 Desain Swirler / Swirl Separator

Swirler dalam desain ini diposisikan sebagai pre-settler, bukan sebagai clarifier akhir. Artinya, targetnya bukan menghasilkan air superjernih, tetapi mengurangi padatan kasar, feses, sisa pakan, flok besar, dan lumpur awal sebelum air masuk ke unit berikutnya.

4.1.1 Data Desain

ParameterNilai
Debit20 L/menit20\ L/menit
Volume aktual302 L302\ L
HRT aktual15.1 menit15.1\ menit
Diameter800 mm800\ mm
Tinggi silinder450 mm450\ mm
Tinggi cone450 mm450\ mm
Tinggi total900 mm900\ mm
Footprint0.503 m20.503\ m^2
Overflow velocity2.39 m/jam2.39\ m/jam
InletDN40
OutletDN50
Drain lumpurDN32

Desain ini lebih tepat dibaca sebagai swirl pre-separator. HRT 15.115.1 menit tidak dipakai sebagai standar universal bioflok, tetapi sebagai ukuran praktis untuk unit pusaran yang menangkap partikel besar. Pfeiffer et al. melaporkan bahwa swirl separator pada sistem RAS sangat efektif untuk partikel besar, dengan removal lebih dari 9090% untuk partikel berukuran lebih dari 250 μm250\ \mu m. (ScienceDirect)

4.1.2 Skema Desain Swirler

Rendering diagram...

4.1.3 Perhitungan Volume Swirler

Diameter swirler:

D=0.8 mD = 0.8\ m

Luas penampang:

A=πD24A = \frac{\pi D^2}{4}
A=3.1416×0.824A = \frac{3.1416 \times 0.8^2}{4}
A=0.503 m2A = 0.503\ m^2

Volume bagian silinder:

Vsilinder=A×H1V_{silinder} = A \times H_1
Vsilinder=0.503×0.45V_{silinder} = 0.503 \times 0.45
Vsilinder=0.226 m3V_{silinder} = 0.226\ m^3
Vsilinder=226 LV_{silinder} = 226\ L

Volume bagian cone:

Vcone=13×A×H2V_{cone} = \frac{1}{3} \times A \times H_2
Vcone=13×0.503×0.45V_{cone} = \frac{1}{3} \times 0.503 \times 0.45
Vcone=0.075 m3V_{cone} = 0.075\ m^3
Vcone=75 LV_{cone} = 75\ L

Volume aktual:

Vtotal=Vsilinder+VconeV_{total} = V_{silinder} + V_{cone}
Vtotal=226+75V_{total} = 226 + 75
Vtotal=301 LV_{total} = 301\ L

Dalam tabel desain dibulatkan menjadi:

Vtotal302 LV_{total} \approx 302\ L

4.1.4 HRT Swirler

HRT=VQHRT = \frac{V}{Q}
HRT=30220HRT = \frac{302}{20}
HRT=15.1 menitHRT = 15.1\ menit

Interpretasi praktisnya: HRT ini cukup untuk pre-settling partikel besar, tetapi tidak cukup konservatif untuk menjadikan swirler sebagai unit utama pengendapan bioflok halus.

4.1.5 Footprint Swirler

Afootprint=πD24A_{footprint} = \frac{\pi D^2}{4}
Afootprint=3.1416×0.824A_{footprint} = \frac{3.1416 \times 0.8^2}{4}
Afootprint=0.503 m2A_{footprint} = 0.503\ m^2

Swirler adalah metode paling hemat area dari tiga metode yang dibahas.

4.1.6 Overflow Velocity Swirler

vo=QAv_o = \frac{Q}{A}
vo=1.20.503v_o = \frac{1.2}{0.503}
vo=2.39 m/jamv_o = 2.39\ m/jam

Nilai ini cukup tinggi dibanding radial sedimentasi dan IPC. Artinya, hanya flok yang cukup besar atau cukup berat yang akan tertangkap efektif. Flok ringan dengan kecepatan endap lebih rendah dari 2.39 m/jam2.39\ m/jam berpotensi lolos.

4.1.7 Kecepatan Inlet Tangensial

Asumsi diameter dalam DN40:

di=0.04 md_i = 0.04\ m

Luas inlet:

Ai=πdi24A_i = \frac{\pi d_i^2}{4}
Ai=3.1416×0.0424A_i = \frac{3.1416 \times 0.04^2}{4}
Ai=0.001257 m2A_i = 0.001257\ m^2

Debit dalam satuan detik:

Q=20 L/menit=0.000333 m3/detikQ = 20\ L/menit = 0.000333\ m^3/detik

Kecepatan inlet:

vi=QAiv_i = \frac{Q}{A_i}
vi=0.0003330.001257v_i = \frac{0.000333}{0.001257}
vi=0.265 m/detikv_i = 0.265\ m/detik

Kecepatan sekitar 0.27 m/detik0.27\ m/detik masih cukup lembut untuk bioflok. Bila inlet dibuat terlalu kecil atau debit dinaikkan tanpa kontrol, gaya geser meningkat dan flok dapat pecah menjadi partikel lebih halus.

4.1.8 Catatan Desain Swirler

Swirler cocok sebagai:

pre-settler+sludge concentratorpre\text{-}settler + sludge\ concentrator

Namun swirler tidak disarankan sebagai satu-satunya clarifier bila targetnya adalah menurunkan TSS bioflok secara stabil. Davidson dan Summerfelt melaporkan swirl separator memiliki rata-rata TSS removal 37.1±3.337.1 \pm 3.3%, lebih rendah daripada radial-flow settler pada sistem RAS yang sama. (ScienceDirect)

Catatan lapangan:

  • gunakan inlet tangensial yang tidak terlalu agresif;
  • pasang drain lumpur di titik terendah cone;
  • buang lumpur sedikit tetapi sering;
  • jangan mengejar air terlalu jernih;
  • idealnya swirler ditempatkan sebelum IPC.

4.2 Desain Radial Sedimentasi

Radial sedimentasi adalah alternatif yang lebih lembut dibanding swirler. Air masuk ke feedwell tengah, energi aliran diredam, lalu air menyebar secara radial ke arah overflow keliling. Karena alirannya lebih tenang, radial sedimentasi lebih ramah untuk flok biologis yang rapuh.

4.2.1 Data Desain

ParameterNilai
Debit20 L/menit20\ L/menit
Volume aktual867 L867\ L
HRT aktual43.4 menit43.4\ menit
Diameter tangki1200 mm1200\ mm
Diameter feedwell300 mm300\ mm
Tinggi silinder650 mm650\ mm
Tinggi cone350 mm350\ mm
Tinggi air total1000 mm1000\ mm
Footprint1.131 m21.131\ m^2
Overflow velocity1.06 m/jam1.06\ m/jam
InletDN40
Outlet launderDN50
Drain lumpurDN32

Dimensi ini dibuat untuk mendekati acuan HRT 4343 menit yang lebih relevan untuk settling chamber bioflok. Green menunjukkan HRT 4343 menit lebih layak daripada 1818 menit pada kondisi studi bioflok yang diuji. (Wiley Online Library)

4.2.2 Skema Desain Radial Sedimentasi

Rendering diagram...

4.2.3 Footprint Radial Sedimentasi

Diameter tangki:

D=1.2 mD = 1.2\ m

Footprint:

A=πD24A = \frac{\pi D^2}{4}
A=3.1416×1.224A = \frac{3.1416 \times 1.2^2}{4}
A=1.131 m2A = 1.131\ m^2

Dibanding swirler, footprint radial lebih besar:

ΔA=1.1310.503\Delta A = 1.131 - 0.503
ΔA=0.628 m2\Delta A = 0.628\ m^2

Persentase tambahan footprint radial terhadap swirler:

% Tambahan = \frac{0.628}{0.503} \times 100
% Tambahan = 124.9%

Jadi radial sedimentasi memakai area lebih dari dua kali swirler. Namun, tambahan area ini menghasilkan aliran yang lebih tenang dan overflow velocity lebih rendah.

4.2.4 Perhitungan Volume Radial Sedimentasi

Luas penampang:

A=1.131 m2A = 1.131\ m^2

Tinggi silinder:

H1=0.65 mH_1 = 0.65\ m

Tinggi cone:

H2=0.35 mH_2 = 0.35\ m

Volume silinder:

Vsilinder=A×H1V_{silinder} = A \times H_1
Vsilinder=1.131×0.65V_{silinder} = 1.131 \times 0.65
Vsilinder=0.735 m3V_{silinder} = 0.735\ m^3
Vsilinder=735 LV_{silinder} = 735\ L

Volume cone:

Vcone=13×A×H2V_{cone} = \frac{1}{3} \times A \times H_2
Vcone=13×1.131×0.35V_{cone} = \frac{1}{3} \times 1.131 \times 0.35
Vcone=0.132 m3V_{cone} = 0.132\ m^3
Vcone=132 LV_{cone} = 132\ L

Volume total:

Vtotal=735+132V_{total} = 735 + 132
Vtotal=867 LV_{total} = 867\ L

4.2.5 HRT Radial Sedimentasi

HRT=VQHRT = \frac{V}{Q}
HRT=86720HRT = \frac{867}{20}
HRT=43.35 menitHRT = 43.35\ menit

Dibulatkan menjadi:

HRT=43.4 menitHRT = 43.4\ menit

Ini sesuai dengan target desain konservatif bioflok.

4.2.6 Overflow Velocity Radial Sedimentasi

vo=QAv_o = \frac{Q}{A}
vo=1.21.131v_o = \frac{1.2}{1.131}
vo=1.06 m/jamv_o = 1.06\ m/jam

Nilai ini lebih rendah daripada swirler:

vo,swirler=2.39 m/jamv_{o,swirler} = 2.39\ m/jam
vo,radial=1.06 m/jamv_{o,radial} = 1.06\ m/jam

Penurunan overflow velocity:

2.391.062.39×100=55.6\frac{2.39 - 1.06}{2.39} \times 100 = 55.6%

Artinya, radial sedimentasi memberi kondisi pengendapan sekitar 55.655.6% lebih ringan dibanding swirler. Ini penting untuk flok bioflok yang ringan dan rapuh.

4.2.7 Feedwell

Diameter feedwell yang dipakai:

Dfeedwell=300 mm=0.3 mD_{feedwell} = 300\ mm = 0.3\ m

Rasio feedwell terhadap diameter tangki:

R=DfeedwellDtankR = \frac{D_{feedwell}}{D_{tank}}
R=0.31.2R = \frac{0.3}{1.2}
R=0.25R = 0.25

Jadi diameter feedwell adalah:

2525%

dari diameter tangki. Rasio ini praktis karena feedwell cukup besar untuk meredam energi aliran masuk, tetapi tidak terlalu besar sehingga mengurangi area pengendapan secara berlebihan.

4.2.8 Catatan Desain Radial Sedimentasi

Radial sedimentasi cocok sebagai:

clarifier lembut+robust settlerclarifier\ lembut + robust\ settler

Keunggulannya bukan pada footprint, tetapi pada kestabilan aliran dan rendahnya shear. Dalam studi Davidson dan Summerfelt, radial-flow settler memiliki rata-rata TSS removal 77.9±1.677.9 \pm 1.6%, jauh lebih tinggi dan lebih konsisten daripada swirl separator pada sistem RAS yang sama. (ScienceDirect)

Catatan lapangan:

  • feedwell harus benar-benar meredam energi inlet;
  • overflow keliling harus rata;
  • drain lumpur harus berada pada titik terendah cone;
  • jangan membuat inlet langsung menembak ke zona pengendapan;
  • cocok untuk operator yang mengutamakan kestabilan dan kemudahan perawatan.

4.3 Desain IPC / Inclined Plate Clarifier

IPC adalah sistem sedimentasi dengan pelat miring. Keunggulannya adalah memperbesar area pengendapan efektif tanpa memperbesar footprint secara proporsional. Karena itu IPC sangat menarik untuk lahan terbatas, tetapi harus dilindungi dari padatan kasar agar tidak cepat clogging.

4.3.1 Data Desain

ParameterNilai
Debit20 L/menit20\ L/menit
Panjang tangki47.24 in=1200 mm47.24\ in = 1200\ mm
Lebar tangki37.13 in=943 mm37.13\ in = 943\ mm
Footprint12.18 ft2=1.132 m212.18\ ft^2 = 1.132\ m^2
Volume efektif228 gal=863 L\approx 228\ gal = 863\ L
HRT aktual43.2 menit43.2\ menit
Jumlah pelat1010
Jumlah channel99
Panjang pelat23.62 in=600 mm23.62\ in = 600\ mm
Lebar pelat35.43 in=900 mm35.43\ in = 900\ mm
Sudut pelat6060^\circ
Spacing pelat1.97 in=50 mm1.97\ in = 50\ mm
Projected settling area26.16 ft2=2.43 m226.16\ ft^2 = 2.43\ m^2
Effective surface loading0.494 m/jam0.494\ m/jam
InletDN40
OutletDN50
Drain lumpurDN32

Literatur lamella menyebut pelat miring umumnya berada pada sudut 4545^\circ sampai 6060^\circ, dan jarak antar-pelat dapat berada sekitar 4040 sampai 120 mm120\ mm tergantung aplikasi. Untuk bioflok, spacing 50 mm50\ mm dipilih sebagai batas bawah yang masih lebih aman daripada spacing terlalu rapat karena flok organik mudah lengket. (ScienceDirect)

4.3.2 Skema Desain IPC

Rendering diagram...

4.3.3 Footprint IPC

Panjang tangki:

Lt=1.20 mL_t = 1.20\ m

Lebar tangki:

Wt=0.943 mW_t = 0.943\ m

Footprint:

Afootprint=Lt×WtA_{footprint} = L_t \times W_t
Afootprint=1.20×0.943A_{footprint} = 1.20 \times 0.943
Afootprint=1.132 m2A_{footprint} = 1.132\ m^2

Konversi ke kaki persegi:

1.132 m2×10.764=12.18 ft21.132\ m^2 \times 10.764 = 12.18\ ft^2

Footprint IPC sengaja dibuat hampir sama dengan radial sedimentasi:

AIPC,footprintAradialA_{IPC,footprint} \approx A_{radial}

Tujuannya agar komparasi performa IPC vs radial sedimentasi menjadi adil.

4.3.4 Projected Settling Area IPC

IPC tidak hanya dihitung dari footprint. Yang lebih penting adalah projected settling area, yaitu jumlah proyeksi horizontal pelat miring.

Formula:

AIPC=Nc×Lp×Wp×cosθA_{IPC} = N_c \times L_p \times W_p \times \cos \theta

Keterangan:

  • AIPCA_{IPC} = projected settling area;
  • NcN_c = jumlah channel efektif;
  • LpL_p = panjang pelat;
  • WpW_p = lebar pelat;
  • θ\theta = sudut pelat terhadap horizontal.

Data desain:

Nc=9N_c = 9
Lp=0.60 mL_p = 0.60\ m
Wp=0.90 mW_p = 0.90\ m
θ=60\theta = 60^\circ

Karena:

cos60=0.5\cos 60^\circ = 0.5

Maka:

AIPC=9×0.60×0.90×0.5A_{IPC} = 9 \times 0.60 \times 0.90 \times 0.5
AIPC=2.43 m2A_{IPC} = 2.43\ m^2

Konversi ke kaki persegi:

2.43 m2×10.764=26.16 ft22.43\ m^2 \times 10.764 = 26.16\ ft^2

4.3.5 Area Multiplier

Area multiplier menunjukkan seberapa besar peningkatan area pengendapan efektif dibanding footprint.

RA=AIPCAfootprintR_A = \frac{A_{IPC}}{A_{footprint}}
RA=2.431.132R_A = \frac{2.43}{1.132}
RA=2.15R_A = 2.15

Artinya, pada footprint 1.132 m21.132\ m^2, IPC memberikan area pengendapan efektif sekitar:

2.15×2.15\times

lebih besar daripada clarifier terbuka dengan footprint yang sama.

4.3.6 Effective Surface Loading IPC

vIPC=QAIPCv_{IPC} = \frac{Q}{A_{IPC}}
vIPC=1.22.43v_{IPC} = \frac{1.2}{2.43}
vIPC=0.494 m/jamv_{IPC} = 0.494\ m/jam

Konversi ke ft/jamft/jam:

0.494 m/jam×3.281=1.62 ft/jam0.494\ m/jam \times 3.281 = 1.62\ ft/jam

Nilai ini jauh lebih rendah daripada radial sedimentasi dan swirler.

Perbandingan:

UnitSurface loading
Swirler2.39 m/jam2.39\ m/jam
Radial sedimentasi1.06 m/jam1.06\ m/jam
IPC0.494 m/jam0.494\ m/jam

4.3.7 Volume dan HRT IPC

Volume gross:

Vgross=928 LV_{gross} = 928\ L

Karena ada plate pack, baffle, dan ruang yang tidak semuanya efektif, digunakan volume efektif:

Veff=863 LV_{eff} = 863\ L

HRT:

HRT=VeffQHRT = \frac{V_{eff}}{Q}
HRT=86320HRT = \frac{863}{20}
HRT=43.15 menitHRT = 43.15\ menit

Dibulatkan menjadi:

HRT=43.2 menitHRT = 43.2\ menit

4.3.8 Kecepatan Aliran Antar-Pelat

Jumlah channel:

Nc=9N_c = 9

Lebar pelat:

Wp=0.90 mW_p = 0.90\ m

Spacing:

s=0.05 ms = 0.05\ m

Luas kanal total:

Achannel=Nc×Wp×sA_{channel} = N_c \times W_p \times s
Achannel=9×0.90×0.05A_{channel} = 9 \times 0.90 \times 0.05
Achannel=0.405 m2A_{channel} = 0.405\ m^2

Kecepatan aliran kanal:

vchannel=QAchannelv_{channel} = \frac{Q}{A_{channel}}
vchannel=1.20.405v_{channel} = \frac{1.2}{0.405}
vchannel=2.96 m/jamv_{channel} = 2.96\ m/jam

Konversi:

2.96 m/jam=0.000823 m/detik2.96\ m/jam = 0.000823\ m/detik

Kecepatan ini rendah, sehingga secara hidraulik relatif aman untuk flok bioflok. Namun, rendahnya kecepatan juga berarti area plate pack harus rutin dibersihkan agar tidak menjadi zona akumulasi biofilm.

4.3.9 Catatan Desain IPC

IPC cocok sebagai:

polishing clarifierpolishing\ clarifier

Namun IPC tidak ideal jika langsung menerima air bioflok mentah. Plate pack dapat cepat tersumbat oleh flok kasar, feses, dan sisa pakan. Karena itu, posisi terbaiknya adalah setelah swirler.

Catatan lapangan:

  • gunakan spacing minimal 50 mm50\ mm;
  • plate pack harus mudah diangkat;
  • sediakan akses pembersihan;
  • inlet harus memakai baffle distribusi;
  • outlet launder harus rata;
  • drain lumpur harus efektif;
  • jangan biarkan lumpur menumpuk di hopper.

Kembali ke Atas


5. Komparasi Performance Antar-Metode

Bab ini membandingkan performa swirler, radial sedimentasi, dan IPC bukan hanya dari “mana yang paling bagus”, tetapi dari fungsi, risiko, dan konteks pemakaian. Dalam bioflok, alat paling baik bukan selalu yang paling tinggi removal-nya, tetapi yang mampu menjaga TSS dalam rentang aman tanpa menghilangkan seluruh manfaat flok.


5.1 Tabel Ringkasan Performance

ParameterSwirlerRadial sedimentasiIPC
Fungsi terbaikPre-settlerClarifier lembutPolishing clarifier
Footprint0.503 m20.503\ m^21.131 m21.131\ m^21.132 m21.132\ m^2
HRT desain15.1 menit15.1\ menit43.4 menit43.4\ menit43.2 menit43.2\ menit
Area settling efektif0.503 m20.503\ m^21.131 m21.131\ m^22.43 m22.43\ m^2
Surface loading2.39 m/jam2.39\ m/jam1.06 m/jam1.06\ m/jam0.494 m/jam0.494\ m/jam
Risiko shearSedangRendahRendah bila distribusi baik
Risiko cloggingRendahRendahSedang–tinggi
Kemudahan cleaningMudahMudahSedang
Flok kasarBaikBaikBaik, tetapi rawan kotor
Flok halus/ringanSedangBaikSangat baik secara teori
Robustness lapanganTinggiTinggiSedang

5.2 Komparasi Berdasarkan Surface Loading

Surface loading menentukan peluang flok untuk mengendap. Semakin rendah surface loading, semakin besar peluang partikel dengan kecepatan endap rendah untuk tertangkap.

Rendering diagram...

Perbandingan surface loading:

vswirler=2.39 m/jamv_{swirler} = 2.39\ m/jam
vradial=1.06 m/jamv_{radial} = 1.06\ m/jam
vIPC=0.494 m/jamv_{IPC} = 0.494\ m/jam

Dibanding swirler, radial menurunkan surface loading sebesar:

2.391.062.39×100=55.6\frac{2.39 - 1.06}{2.39} \times 100 = 55.6%

Dibanding radial, IPC menurunkan surface loading sebesar:

1.060.4941.06×100=53.4\frac{1.06 - 0.494}{1.06} \times 100 = 53.4%

Dibanding swirler, IPC menurunkan surface loading sebesar:

2.390.4942.39×100=79.3\frac{2.39 - 0.494}{2.39} \times 100 = 79.3%

Secara hidraulik, IPC paling kuat dalam menurunkan beban permukaan. Namun, performa lapangan tetap ditentukan oleh kebersihan plate pack, distribusi aliran, dan karakter flok.


5.3 Komparasi Berdasarkan Footprint

Footprint tiap metode:

Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2
Aradial=1.131 m2A_{radial} = 1.131\ m^2
AIPC=1.132 m2A_{IPC} = 1.132\ m^2

Swirler paling hemat area. Namun area yang kecil membuat overflow velocity lebih tinggi. Radial dan IPC memakai footprint hampir sama, tetapi IPC memiliki area pengendapan efektif lebih besar.

Perbandingan area pengendapan efektif:

Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2
Aradial=1.131 m2A_{radial} = 1.131\ m^2
AIPC,effective=2.43 m2A_{IPC,effective} = 2.43\ m^2

Rasio IPC terhadap radial:

2.431.131=2.15\frac{2.43}{1.131} = 2.15

Jadi, pada footprint yang hampir sama, IPC memberi area pengendapan efektif sekitar:

2.15×2.15\times

radial sedimentasi.


5.4 Komparasi Berdasarkan Performance Literatur

Davidson dan Summerfelt membandingkan swirl separator dengan radial-flow settler pada sistem coldwater RAS. Rata-rata TSS removal swirl separator adalah 37.1±3.337.1 \pm 3.3%, sedangkan radial-flow settler mencapai 77.9±1.677.9 \pm 1.6%. Studi tersebut juga menyatakan radial-flow settler lebih konsisten pada berbagai konsentrasi TSS inlet. (ScienceDirect)

Interpretasi praktis:

UnitTSS removal literatur RASCatatan
Swirl separator37.1±3.337.1 \pm 3.3%Lebih cocok untuk padatan besar
Radial-flow settler77.9±1.677.9 \pm 1.6%Lebih stabil dan lebih lembut
IPCBergantung desain dan pre-treatmentSecara teori area efektif lebih besar

Pfeiffer et al. menunjukkan bahwa swirl separator dapat sangat efektif untuk partikel besar, terutama di atas 250 μm250\ \mu m. Maka swirler tidak boleh dianggap buruk; ia hanya harus ditempatkan pada fungsi yang benar, yaitu menangkap fraksi kasar. (ScienceDirect)

Untuk IPC, literatur lamella menegaskan bahwa pelat miring meningkatkan area pemisahan dalam footprint kompak. Namun data spesifik IPC untuk bioflok tidak sekuat data radial-flow settler dan swirl separator pada RAS. Karena itu, performa IPC dalam artikel ini lebih tepat dibaca sebagai proyeksi hidraulik berbasis area efektif, bukan klaim removal pasti. (ScienceDirect)


5.5 Komparasi Berdasarkan Karakter Flok

Bioflok tidak seragam. Ada flok besar, flok ringan, flok halus, partikel organik, feses, dan sisa pakan. Setiap unit memiliki respons berbeda terhadap fraksi tersebut.

Karakter padatanSwirlerRadial sedimentasiIPC
Feses besarBaikBaikBaik, tetapi bisa mengotori plate
Sisa pakanBaikBaikTidak ideal bila langsung masuk
Flok besarBaikBaikBaik
Flok ringanSedangBaikSangat baik secara teori
Flok halusLemah–sedangSedang–baikBaik bila tidak clogging
Lumpur lengketBaik bila drain rutinBaikRisiko menempel
BiofilmRendahRendahTinggi

Secara praktis:

Swirler=kuat untuk fraksi kasarSwirler = kuat\ untuk\ fraksi\ kasar
Radial=stabil untuk flok rapuhRadial = stabil\ untuk\ flok\ rapuh
IPC=kuat untuk flok lambat mengendap, tetapi sensitif cloggingIPC = kuat\ untuk\ flok\ lambat\ mengendap,\ tetapi\ sensitif\ clogging

5.6 Interpretasi Praktis

Swirler menang pada kesederhanaan, biaya, dan footprint. Ia cocok untuk mengurangi beban kasar sebelum air masuk ke unit lain. Kelemahannya adalah tidak cukup kuat sebagai polishing unit bila flok dominan ringan dan halus.

Radial sedimentasi menang pada stabilitas dan kelembutan aliran. Ia cocok untuk praktisi yang ingin sistem robust, mudah dibersihkan, dan tidak terlalu sensitif terhadap TSS tinggi. Kelemahannya adalah footprint lebih besar dan area efektifnya tidak sebesar IPC.

IPC menang pada luas pengendapan efektif dan surface loading. Dengan footprint yang sama seperti radial, IPC dapat memberi area efektif sekitar 2.15×2.15\times lebih besar. Namun, IPC lebih sensitif terhadap clogging, sehingga sebaiknya tidak menerima air bioflok mentah langsung.

Kesimpulan performance:

Swirler terbaik sebagai pre-settlerSwirler\ terbaik\ sebagai\ pre\text{-}settler
Radial terbaik sebagai robust clarifierRadial\ terbaik\ sebagai\ robust\ clarifier
IPC terbaik sebagai polishing clarifierIPC\ terbaik\ sebagai\ polishing\ clarifier

Kembali ke Atas


6. Kombinasi Antar-Metode dan Tinjauan Performance

Sistem bioflok intensif jarang ideal jika hanya memakai satu alat sedimentasi. Setiap metode punya kekuatan dan kelemahan. Karena itu, kombinasi antar-metode sering lebih masuk akal daripada memilih satu metode tunggal.


6.1 Kombinasi 1 — Swirler Saja

6.1.1 Konsep

Skema:

KolamSwirlerKolamKolam \rightarrow Swirler \rightarrow Kolam

Diagram:

Rendering diagram...

6.1.2 Cocok Untuk

Swirler saja cocok untuk:

  • sistem kecil;
  • kontrol lumpur kasar;
  • pembuangan periodik;
  • ruang terbatas;
  • biaya fabrikasi rendah;
  • operator ingin alat sederhana.

6.1.3 Kelemahan

Kelemahannya:

  • tidak optimal untuk flok ringan;
  • outlet bisa masih keruh;
  • performa tergantung ukuran flok;
  • jika pusaran terlalu kuat, flok bisa pecah;
  • tidak cocok sebagai polishing clarifier.

6.1.4 Penilaian Performance

Swirler saja cukup bila targetnya hanya:

mengurangi padatan kasarmengurangi\ padatan\ kasar

Namun kurang kuat bila targetnya:

menstabilkan TSS bioflok intensifmenstabilkan\ TSS\ bioflok\ intensif

6.2 Kombinasi 2 — Radial Sedimentasi Saja

6.2.1 Konsep

Skema:

KolamRadial sedimentasiKolamKolam \rightarrow Radial\ sedimentasi \rightarrow Kolam

Diagram:

Rendering diagram...

6.2.2 Cocok Untuk

Radial sedimentasi saja cocok untuk:

  • sistem yang membutuhkan aliran lembut;
  • flok bioflok mudah pecah;
  • operator ingin perawatan mudah;
  • ruang tersedia;
  • TSS relatif tinggi;
  • sistem ingin tetap robust tanpa plate pack.

6.2.3 Kelemahan

Kelemahannya:

  • footprint lebih besar;
  • area efektif tidak sebesar IPC;
  • jika overflow keliling tidak rata, bisa terjadi short-circuit;
  • volume lebih besar dibanding swirler.

6.2.4 Penilaian Performance

Radial sedimentasi adalah pilihan paling aman bila operator mengutamakan:

stabilitas+kemudahan perawatanstabilitas + kemudahan\ perawatan

Namun dari sisi performa per footprint, radial kalah dari IPC.


6.3 Kombinasi 3 — IPC Saja

6.3.1 Konsep

Skema:

KolamIPCKolamKolam \rightarrow IPC \rightarrow Kolam

Diagram:

Rendering diagram...

6.3.2 Cocok Untuk

IPC saja hanya cocok bila:

  • TSS tidak terlalu tinggi;
  • sudah ada pre-screen atau pre-settling;
  • flok tidak terlalu lengket;
  • operator siap membersihkan plate pack;
  • inlet distribusi benar-benar merata.

6.3.3 Kelemahan Utama

Kelemahan utamanya:

IPC langsung dari kolam bioflok=risiko clogging tinggiIPC\ langsung\ dari\ kolam\ bioflok = risiko\ clogging\ tinggi

Bioflok mengandung bahan organik, feses, sisa pakan, dan flok berlendir. Bila semuanya langsung masuk ke plate pack, kanal antar-pelat dapat cepat tertutup.

6.3.4 Penilaian Performance

Secara hidraulik IPC sangat kuat. Namun secara operasional, IPC saja terlalu berisiko untuk bioflok pekat. IPC lebih aman sebagai tahap kedua, bukan tahap pertama.


6.4 Kombinasi 4 — Swirler + Radial Sedimentasi

6.4.1 Konsep

Skema:

KolamSwirlerRadial sedimentasiKolamKolam \rightarrow Swirler \rightarrow Radial\ sedimentasi \rightarrow Kolam

Diagram:

Rendering diagram...

6.4.2 Kelebihan

Kelebihan kombinasi ini:

  • sangat robust;
  • cocok untuk TSS tinggi;
  • risiko clogging rendah;
  • swirler mengurangi padatan kasar;
  • radial menangani pengendapan lembut;
  • perawatan relatif mudah.

6.4.3 Kelemahan

Kelemahannya:

  • footprint lebih besar;
  • volume total besar;
  • tidak seefisien IPC per luas lantai;
  • biaya material bisa lebih tinggi karena dua tangki besar.

6.4.4 Estimasi Dimensi Sistem

Swirler:

Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2

Radial:

Aradial=1.131 m2A_{radial} = 1.131\ m^2

Footprint bersih:

Atotal=0.503+1.131A_{total} = 0.503 + 1.131
Atotal=1.634 m2A_{total} = 1.634\ m^2

Volume total:

Vtotal=302+867V_{total} = 302 + 867
Vtotal=1169 LV_{total} = 1169\ L

HRT total:

HRTtotal=116920HRT_{total} = \frac{1169}{20}
HRTtotal=58.45 menitHRT_{total} = 58.45\ menit

6.4.5 Penilaian Performance

Kombinasi swirler + radial sangat baik untuk sistem yang mengutamakan ketahanan dan rendah risiko clogging. Namun, jika ruang terbatas dan targetnya adalah performa tinggi per footprint, kombinasi ini kalah efisien dibanding swirler + IPC.


6.5 Kombinasi 5 — Swirler + IPC

6.5.1 Konsep

Skema:

KolamSwirlerIPCKolamKolam \rightarrow Swirler \rightarrow IPC \rightarrow Kolam

Diagram:

Rendering diagram...

6.5.2 Alasan Kombinasi Ini Paling Kuat

Kombinasi ini menyatukan kekuatan dua metode:

Swirler menangkap padatan kasarSwirler\ menangkap\ padatan\ kasar
IPC menangkap flok ringanIPC\ menangkap\ flok\ ringan
Swirler melindungi IPCSwirler\ melindungi\ IPC
IPC meningkatkan performance per footprintIPC\ meningkatkan\ performance\ per\ footprint

Swirler mengurangi fraksi padatan yang paling berisiko menyumbat IPC. Setelah padatan kasar turun di swirler, IPC menerima air yang lebih ringan sehingga plate pack bekerja lebih stabil. Ini membuat IPC tidak dipaksa menjadi alat pertama yang menghadapi feses besar, sisa pakan, dan flok kasar.

6.5.3 Total Volume dan HRT

Swirler:

Vswirler=302 LV_{swirler} = 302\ L

IPC:

VIPC=863 LV_{IPC} = 863\ L

Volume total:

Vtotal=302+863V_{total} = 302 + 863
Vtotal=1165 LV_{total} = 1165\ L

HRT total:

HRTtotal=116520HRT_{total} = \frac{1165}{20}
HRTtotal=58.25 menitHRT_{total} = 58.25\ menit

6.5.4 Total Footprint

Swirler:

Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2

IPC:

AIPC=1.132 m2A_{IPC} = 1.132\ m^2

Footprint bersih:

Atotal=0.503+1.132A_{total} = 0.503 + 1.132
Atotal=1.635 m2A_{total} = 1.635\ m^2

Dengan ruang akses, valve, pipa, dan area servis sekitar 2020% sampai 3030%:

Ainstalasi2.02.2 m2A_{instalasi} \approx 2.0 - 2.2\ m^2

6.5.5 Estimasi Removal Sistem Seri

Untuk unit seri, efisiensi total tidak dijumlahkan langsung. Formula yang benar:

Rtotal=1(1R1)(1R2)R_{total} = 1 - (1 - R_1)(1 - R_2)

Keterangan:

  • RtotalR_{total} = removal total;
  • R1R_1 = removal swirler;
  • R2R_2 = removal IPC terhadap sisa padatan setelah swirler.

Contoh skenario:

SkenarioRemoval swirlerRemoval IPC terhadap sisaRemoval total
Konservatif2020%5050%6060%
Moderat3030%6060%7272%
Baik4040%7070%8282%
Sangat baik5050%7070%8585%

Contoh skenario moderat:

Rtotal=1(10.30)(10.60)R_{total} = 1 - (1 - 0.30)(1 - 0.60)
Rtotal=1(0.70×0.40)R_{total} = 1 - (0.70 \times 0.40)
Rtotal=10.28R_{total} = 1 - 0.28
Rtotal=0.72R_{total} = 0.72
Rtotal=72R_{total} = 72%

Angka ini adalah model estimasi desain, bukan janji performa universal. Verifikasi lapangan tetap wajib memakai TSS inlet–outlet.

6.5.6 Beban TSS pada Kombinasi Swirler + IPC

Jika:

TSS=400 mg/LTSS = 400\ mg/L

dan:

Q=28.8 m3/hariQ = 28.8\ m^3/hari

Maka beban TSS masuk:

LTSS=Q×TSS×0.001L_{TSS} = Q \times TSS \times 0.001
LTSS=28.8×400×0.001L_{TSS} = 28.8 \times 400 \times 0.001
LTSS=11.52 kg/hariL_{TSS} = 11.52\ kg/hari

Jika skenario removal total 7272%:

TSSremoved=11.52×0.72TSS_{removed} = 11.52 \times 0.72
TSSremoved=8.29 kg/hariTSS_{removed} = 8.29\ kg/hari

Jika removal total 6060%:

TSSremoved=11.52×0.60TSS_{removed} = 11.52 \times 0.60
TSSremoved=6.91 kg/hariTSS_{removed} = 6.91\ kg/hari

Jika removal total 8282%:

TSSremoved=11.52×0.82TSS_{removed} = 11.52 \times 0.82
TSSremoved=9.45 kg/hariTSS_{removed} = 9.45\ kg/hari

Dalam bioflok, removal tinggi harus dikendalikan. Tujuannya bukan membuat air kosong dari flok, tetapi mencegah TSS melewati batas yang mengganggu oksigen, insang, dan stabilitas mikroba.


6.6 Perbandingan Kombinasi

KombinasiKelebihanKelemahanKesesuaian bioflok
Swirler sajaMurah, sederhana, footprint kecilKurang baik untuk flok halusBaik untuk kontrol kasar
Radial sajaStabil, lembut, mudah dirawatFootprint lebih besarBaik dan robust
IPC sajaArea efektif besarRisiko clogging tinggiKurang aman bila tanpa pre-treatment
Swirler + radialSangat robustFootprint lebih besarSangat baik untuk TSS tinggi
Swirler + IPCKompak, performa tinggi, saling melindungiIPC tetap butuh cleaningTerbaik untuk intensif dengan ruang terbatas

6.7 Kesimpulan Bab 6

Dari seluruh kombinasi, pilihan paling seimbang adalah:

SwirlerIPCSwirler \rightarrow IPC

Alasannya:

  1. Swirler menangkap padatan kasar sebelum mencapai IPC.
  2. IPC bekerja pada beban padatan yang sudah lebih ringan.
  3. Surface loading IPC sangat rendah, yaitu 0.494 m/jam0.494\ m/jam.
  4. Area pengendapan efektif IPC mencapai 2.43 m22.43\ m^2 pada footprint 1.132 m21.132\ m^2.
  5. Total footprint bersih sistem masih kompak, sekitar 1.635 m21.635\ m^2.
  6. Dengan ruang servis, sistem masih realistis pada area sekitar 2.02.0 sampai 2.2 m22.2\ m^2.

Secara teknis:

Swirler=proteksi+pemekatan padatan kasarSwirler = proteksi + pemekatan\ padatan\ kasar
IPC=polishing+penangkapan flok ringanIPC = polishing + penangkapan\ flok\ ringan

Secara praktis:

Swirler+IPC=kombinasi terbaik untuk bioflok intensifSwirler + IPC = kombinasi\ terbaik\ untuk\ bioflok\ intensif

Referensi Bab 4–6

  1. Green, B. W. Evaluation of Settling Chamber Hydraulic Retention Time in a Biofloc Production System. Rujukan HRT settling chamber bioflok 1818, 4343, dan 8787 menit, dengan rekomendasi minimum sekitar 4343 menit pada kondisi studi. (Wiley Online Library)
  2. Davidson, J., & Summerfelt, S. Solids removal from a coldwater recirculating system—comparison of a swirl separator and a radial-flow settler. Rujukan perbandingan TSS removal swirl separator 37.1±3.337.1 \pm 3.3% dan radial-flow settler 77.9±1.677.9 \pm 1.6%. (ScienceDirect)
  3. Pfeiffer, T. J. et al. Particle sieve analysis for determining solids removal efficiency of water treatment components in a recirculating aquaculture system. Rujukan performa swirl separator terhadap partikel besar lebih dari 250 μm250\ \mu m. (ScienceDirect)
  4. ScienceDirect Topics. Lamella Clarifiers. Rujukan prinsip pelat miring, kisaran sudut 4545^\circ sampai 6060^\circ, dan spacing pelat sekitar 4040 sampai 120 mm120\ mm. (ScienceDirect)
  5. HydroFlo Tech. Theory of Inclined Plate Clarifier Design. Rujukan variabel desain IPC: path length, plate spacing, dan plate angle.

Kembali ke Atas


7. Desain Kombinasi Terbaik: Swirler + IPC

Kombinasi terbaik dari seluruh alternatif yang telah dibahas adalah:

Kolam bioflokSwirlerIPCKolam bioflokKolam\ bioflok \rightarrow Swirler \rightarrow IPC \rightarrow Kolam\ bioflok

Secara fungsi, kombinasi ini membagi pekerjaan sedimentasi menjadi dua tahap. Swirler ditempatkan sebagai unit awal untuk menangkap padatan kasar, feses, sisa pakan, dan flok besar. Setelah beban padatan kasar berkurang, air masuk ke IPC / inclined plate clarifier untuk menangkap flok yang lebih ringan dengan bantuan projected settling area yang lebih besar.

Kombinasi ini lebih kuat daripada swirler saja, karena swirler kurang optimal untuk flok ringan. Kombinasi ini juga lebih aman daripada IPC saja, karena IPC tanpa pre-settler berisiko cepat tersumbat oleh flok besar, feses, dan lumpur organik. Secara konsep, swirler melindungi IPC, sedangkan IPC meningkatkan performa polishing.

Rujukan literatur mendukung pembagian fungsi ini. Swirl separator dilaporkan sangat efektif untuk partikel besar, terutama partikel di atas 250 μm250\ \mu m, sehingga cocok sebagai pre-separator padatan kasar. Sementara itu, prinsip IPC/lamella adalah memperbesar area pengendapan efektif dengan pelat miring, biasanya pada sudut 4545^\circ6060^\circ. (ScienceDirect)


7.1 Diagram Alur Sistem

Diagram sistem berikut menunjukkan alur utama kombinasi swirler + IPC. Diagram ini dibuat vertikal agar mudah dibaca di layar ponsel.

Rendering diagram...

Urutan tersebut penting. IPC sebaiknya tidak ditempatkan sebelum swirler, karena air bioflok mentah masih membawa padatan kasar yang berpotensi menyumbat kanal antar-pelat. IPC bekerja lebih stabil bila menerima air yang sudah dipra-sedimentasi.

Secara teknis:

Swirler=coarse solids removal+sludge concentratorSwirler = coarse\ solids\ removal + sludge\ concentrator
IPC=polishing clarifier+fine floc settlingIPC = polishing\ clarifier + fine\ floc\ settling

7.2 Spesifikasi Tahap 1: Swirler

Swirler pada sistem ini bukan dirancang sebagai clarifier akhir. Ia dirancang sebagai pre-settler atau sludge concentrator. Tugas utamanya adalah menurunkan beban padatan kasar sebelum air masuk ke IPC.

ParameterNilai
Debit20 L/menit20\ L/menit
Volume302 L302\ L
HRT15.1 menit15.1\ menit
Diameter800 mm800\ mm
Tinggi total900 mm900\ mm
Footprint0.503 m20.503\ m^2
Fungsipre-settler / sludge concentrator

7.2.1 Peran Swirler dalam Kombinasi

Fungsi swirler dalam kombinasi ini adalah:

  1. Menangkap flok besar.
  2. Menangkap feses dan sisa pakan.
  3. Memekatkan lumpur organik di cone bawah.
  4. Menurunkan risiko clogging pada IPC.
  5. Mengurangi beban TSS kasar sebelum polishing.

Swirler tidak perlu dibuat terlalu agresif. Bila pusaran terlalu kuat, flok besar bisa pecah menjadi fraksi halus. Fraksi halus tersebut justru lebih sulit diendapkan dan akan membebani IPC.

7.2.2 HRT Swirler

Volume swirler:

Vswirler=302 LV_{swirler} = 302\ L

Debit:

Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

Maka:

HRTswirler=VswirlerQHRT_{swirler} = \frac{V_{swirler}}{Q}
HRTswirler=30220HRT_{swirler} = \frac{302}{20}
HRTswirler=15.1 menitHRT_{swirler} = 15.1\ menit

HRT ini tidak dimaksudkan untuk menjadi acuan utama bioflok. HRT 15.115.1 menit lebih tepat dibaca sebagai HRT unit pre-settler. Untuk settling chamber bioflok yang lebih konservatif, Green melaporkan pengujian HRT 1818, 4343, dan 8787 menit, dengan kesimpulan bahwa minimum HRT sekitar 4343 menit sesuai untuk sistem bioflok hybrid striped bass pada kondisi studi tersebut. (DigitalCommons)

7.2.3 Footprint Swirler

Diameter swirler:

D=0.8 mD = 0.8\ m

Footprint:

Aswirler=πD24A_{swirler} = \frac{\pi D^2}{4}
Aswirler=3.1416×0.824A_{swirler} = \frac{3.1416 \times 0.8^2}{4}
Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2

Footprint ini relatif kecil, sehingga swirler mudah ditempatkan dekat kolam sebagai unit pra-pengendapan.

7.2.4 Overflow Velocity Swirler

Debit dalam satuan m3/jamm^3/jam:

Q=1.2 m3/jamQ = 1.2\ m^3/jam

Overflow velocity:

vo,swirler=QAswirlerv_{o,swirler} = \frac{Q}{A_{swirler}}
vo,swirler=1.20.503v_{o,swirler} = \frac{1.2}{0.503}
vo,swirler=2.39 m/jamv_{o,swirler} = 2.39\ m/jam

Nilai ini relatif tinggi. Artinya, swirler paling efektif untuk partikel yang cukup besar atau cukup berat. Karena itu, dalam sistem kombinasi, swirler harus diposisikan sebagai tahap pertama, bukan tahap polishing.


7.3 Spesifikasi Tahap 2: IPC

IPC berfungsi sebagai polishing clarifier. Setelah air melewati swirler, fraksi padatan kasar sudah berkurang. IPC kemudian menangani flok yang lebih ringan dengan memanfaatkan area pengendapan efektif yang lebih besar.

ParameterNilai
Debit20 L/menit20\ L/menit
Volume efektif863 L863\ L
HRT43.2 menit43.2\ menit
Footprint1.132 m21.132\ m^2
Projected settling area2.43 m22.43\ m^2
Area multiplier2.15×2.15\times
Surface loading efektif0.494 m/jam0.494\ m/jam
Fungsipolishing clarifier

7.3.1 Peran IPC dalam Kombinasi

Fungsi IPC adalah:

  1. Menurunkan surface loading efektif.
  2. Menangkap flok dengan settling velocity lebih rendah.
  3. Mengurangi fraksi TSS yang lolos dari swirler.
  4. Menstabilkan kualitas air balik ke kolam.
  5. Memperbesar area pengendapan tanpa memperbesar footprint secara proporsional.

IPC tidak boleh diperlakukan sebagai bak lumpur. Lumpur yang tertangkap harus dikeluarkan secara rutin agar plate pack tidak menjadi zona anaerob atau sumber pelepasan kembali bahan organik.

7.3.2 Projected Settling Area IPC

Data plate pack:

Nc=9N_c = 9
Lp=0.60 mL_p = 0.60\ m
Wp=0.90 mW_p = 0.90\ m
θ=60\theta = 60^\circ

Projected settling area:

AIPC=Nc×Lp×Wp×cosθA_{IPC} = N_c \times L_p \times W_p \times \cos \theta
AIPC=9×0.60×0.90×cos60A_{IPC} = 9 \times 0.60 \times 0.90 \times \cos 60^\circ

Karena:

cos60=0.5\cos 60^\circ = 0.5

Maka:

AIPC=9×0.60×0.90×0.5A_{IPC} = 9 \times 0.60 \times 0.90 \times 0.5
AIPC=2.43 m2A_{IPC} = 2.43\ m^2

IPC/lamella bekerja dengan prinsip memperbesar area pengendapan melalui pelat miring. Desain lamella umumnya memakai pelat miring pada sudut 4545^\circ6060^\circ, dengan path length, plate spacing, dan angle sebagai variabel desain utama. (Hydroflotech)

7.3.3 Area Multiplier IPC

Footprint IPC:

Afootprint,IPC=1.132 m2A_{footprint,IPC} = 1.132\ m^2

Area multiplier:

RA=AIPCAfootprint,IPCR_A = \frac{A_{IPC}}{A_{footprint,IPC}}
RA=2.431.132R_A = \frac{2.43}{1.132}
RA=2.15R_A = 2.15

Artinya, IPC memberi area pengendapan efektif sekitar:

2.15×2.15\times

lebih besar daripada footprint fisiknya.

7.3.4 Effective Surface Loading IPC

vIPC=QAIPCv_{IPC} = \frac{Q}{A_{IPC}}
vIPC=1.22.43v_{IPC} = \frac{1.2}{2.43}
vIPC=0.494 m/jamv_{IPC} = 0.494\ m/jam

Nilai ini jauh lebih rendah dibanding swirler:

vo,swirler=2.39 m/jamv_{o,swirler} = 2.39\ m/jam

dan juga lebih rendah dibanding radial sedimentasi desain sebelumnya:

vo,radial=1.06 m/jamv_{o,radial} = 1.06\ m/jam

Karena itu, IPC secara hidraulik lebih kuat untuk menangkap flok yang settling velocity-nya rendah. Namun, keunggulan ini hanya muncul bila plate pack tidak tersumbat dan distribusi inlet merata.


7.4 Total Sistem

7.4.1 Volume Total

Volume swirler:

Vswirler=302 LV_{swirler} = 302\ L

Volume efektif IPC:

VIPC=863 LV_{IPC} = 863\ L

Maka volume total sistem seri:

Vtotal=Vswirler+VIPCV_{total} = V_{swirler} + V_{IPC}
Vtotal=302+863V_{total} = 302 + 863
Vtotal=1165 LV_{total} = 1165\ L

7.4.2 HRT Total

Debit:

Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

HRT total:

HRTtotal=VtotalQHRT_{total} = \frac{V_{total}}{Q}
HRTtotal=116520HRT_{total} = \frac{1165}{20}
HRTtotal=58.25 menitHRT_{total} = 58.25\ menit

HRT total ini tidak berarti semua pengendapan terjadi merata di seluruh sistem. Swirler bekerja cepat untuk padatan kasar, sedangkan IPC memberi waktu dan area pengendapan tambahan untuk flok ringan. Jadi interpretasi yang benar adalah:

HRTtotal=waktu kontak sistem seriHRT_{total} = waktu\ kontak\ sistem\ seri

bukan:

HRTtotal=jaminan removal totalHRT_{total} = jaminan\ removal\ total

7.4.3 Footprint Bersih

Footprint swirler:

Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2

Footprint IPC:

AIPC=1.132 m2A_{IPC} = 1.132\ m^2

Footprint bersih:

Atotal=Aswirler+AIPCA_{total} = A_{swirler} + A_{IPC}
Atotal=0.503+1.132A_{total} = 0.503 + 1.132
Atotal=1.635 m2A_{total} = 1.635\ m^2

7.4.4 Footprint Instalasi dengan Ruang Servis

Dalam instalasi nyata, footprint bersih belum cukup. Perlu tambahan ruang untuk:

  • valve;
  • pipa inlet dan outlet;
  • akses drain lumpur;
  • ruang mengangkat plate pack;
  • ruang operator;
  • akses pembersihan.

Maka footprint instalasi disarankan:

Ainstalasi2.02.2 m2A_{instalasi} \approx 2.0-2.2\ m^2

Untuk praktisi, angka ini sangat penting. Sistem swirler + IPC dengan kapasitas 20 L/menit20\ L/menit masih realistis ditempatkan pada area kecil, asalkan layout pipa dan akses maintenance dirancang sejak awal.


7.5 Estimasi Removal Sistem Seri

7.5.1 Formula Removal Seri

Untuk unit yang dipasang seri, removal total tidak boleh dijumlahkan langsung. Formula yang benar adalah:

Rtotal=1(1R1)(1R2)R_{total} = 1 - (1 - R_1)(1 - R_2)

Keterangan:

  • RtotalR_{total} = removal total sistem;
  • R1R_1 = removal tahap pertama, yaitu swirler;
  • R2R_2 = removal tahap kedua, yaitu IPC terhadap sisa TSS setelah swirler.

Contoh: bila swirler membuang 3030% TSS, maka masih ada 7070% TSS yang masuk IPC. Bila IPC membuang 6060% dari sisa tersebut, maka total removal bukan 9090%, tetapi:

Rtotal=1(10.30)(10.60)R_{total} = 1 - (1 - 0.30)(1 - 0.60)
Rtotal=1(0.70×0.40)R_{total} = 1 - (0.70 \times 0.40)
Rtotal=10.28R_{total} = 1 - 0.28
Rtotal=0.72R_{total} = 0.72
Rtotal=72R_{total} = 72%

7.5.2 Contoh Skenario Estimasi

SkenarioRemoval swirlerRemoval IPC terhadap sisaRemoval total
Konservatif2020%5050%6060%
Moderat3030%6060%7272%
Baik4040%7070%8282%
Sangat baik5050%7070%8585%

Angka pada tabel tersebut adalah model estimasi, bukan klaim universal. Removal aktual sangat dipengaruhi oleh ukuran flok, densitas flok, TSS inlet, waktu operasi, debit aktual, distribusi aliran, dan kebersihan IPC. Verifikasi wajib dilakukan dengan pengukuran TSS inlet–outlet.

7.5.3 Mengapa Estimasi Tidak Boleh Dianggap Pasti

Ada beberapa alasan:

  1. Bioflok bukan partikel mineral seragam.
  2. Flok bisa pecah bila terkena shear.
  3. Densitas flok berubah mengikuti umur flok dan komposisi organik.
  4. TSS dapat berubah setelah feeding.
  5. IPC dapat kehilangan performa bila plate pack berlendir.
  6. Swirler dapat berubah performa bila drain lumpur tidak rutin.

Data literatur pada RAS menunjukkan radial-flow settler dapat memberikan TSS removal lebih tinggi dan lebih stabil dibanding swirl separator, sedangkan swirl separator sangat baik pada partikel besar. Namun data spesifik kombinasi swirler + IPC untuk bioflok harus divalidasi di lapangan. (ScienceDirect)

Kembali ke Atas


8. Strategi Operasi Sistem Swirler + IPC

Desain yang baik dapat gagal bila mode operasinya salah. Pada bioflok, operator tidak boleh hanya mengejar air jernih. Tujuan utama adalah menjaga padatan pada level yang masih produktif tetapi tidak membebani sistem.

Strategi operasi swirler + IPC sebaiknya disesuaikan dengan:

  • padat tebar;
  • jumlah pakan harian;
  • tren TSS;
  • hasil Imhoff cone;
  • DO;
  • respons makan;
  • kondisi lumpur;
  • kemampuan operator melakukan cleaning.

8.1 Mode Kontinu Side-Stream

Mode kontinu berarti unit swirler + IPC berjalan terus-menerus pada debit side-stream tertentu.

Debit desain:

Qtreatment=20 L/menitQ_{treatment} = 20\ L/menit

Mode ini cocok untuk:

  • padat tebar tinggi;
  • feeding tinggi;
  • sistem intensif;
  • TSS naik cepat;
  • operator tersedia untuk drain lumpur rutin;
  • sistem membutuhkan stabilitas harian.

8.1.1 Alur Operasi Kontinu

Rendering diagram...

8.1.2 Kelebihan Mode Kontinu

Kelebihan mode kontinu:

  • TSS lebih stabil;
  • tidak menunggu lumpur menumpuk;
  • beban IPC lebih konsisten;
  • cocok untuk sistem intensif;
  • risiko lonjakan padatan setelah feeding dapat ditekan.

8.1.3 Risiko Mode Kontinu

Risikonya:

  • bioflok berguna bisa terlalu banyak terbuang;
  • IPC lebih cepat kotor jika swirler tidak rutin didrain;
  • energi pompa lebih tinggi;
  • operator harus disiplin memantau sistem.

Jika air terlalu cepat jernih dan respons makan menurun, debit treatment perlu dikurangi atau mode operasi diubah menjadi periodik/bypass.


8.2 Mode Periodik

Mode periodik berarti sistem hanya dijalankan pada waktu tertentu. Mode ini cocok untuk sistem kecil-menengah atau sistem yang TSS-nya belum terlalu tinggi.

Contoh operasi:

  • pagi 1122 jam;
  • sore 1122 jam;
  • tambahan saat hasil Imhoff cone meningkat;
  • tambahan setelah feeding tinggi bila air terlihat terlalu pekat.

8.2.1 Alur Operasi Periodik

Rendering diagram...

8.2.2 Kelebihan Mode Periodik

Kelebihan mode periodik:

  • lebih hemat energi;
  • mengurangi risiko membuang flok berlebihan;
  • lebih mudah diterapkan pada skala kecil;
  • cocok untuk operator yang belum memiliki alat ukur TSS harian;
  • fleksibel mengikuti kondisi kolam.

8.2.3 Risiko Mode Periodik

Risikonya:

  • TSS bisa naik di luar jam operasi;
  • lumpur dapat menumpuk bila jadwal tidak disiplin;
  • perubahan kualitas air bisa lebih fluktuatif;
  • kurang cocok untuk sistem dengan feeding tinggi dan padat tebar sangat tinggi.

Mode periodik sebaiknya tetap berbasis indikator, bukan hanya jam tetap. Jika Imhoff cone dan visual air menunjukkan padatan naik, durasi operasi harus ditambah.


8.3 Mode Bypass

Mode bypass adalah mode paling fleksibel. Sistem tetap memiliki pompa, tetapi sebagian aliran bisa langsung kembali ke kolam tanpa melewati swirler + IPC, sedangkan sebagian lain masuk unit sedimentasi.

8.3.1 Diagram Mode Bypass

Rendering diagram...

8.3.2 Manfaat Bypass

Manfaat bypass:

  • tidak terlalu agresif membuang bioflok;
  • debit ke IPC lebih stabil;
  • risiko clogging lebih rendah;
  • operator dapat menyesuaikan treatment dengan kondisi TSS;
  • pompa bisa tetap berjalan tanpa memaksa seluruh debit melewati IPC.

8.3.3 Contoh Pengaturan Bypass

Misalnya debit pompa:

Qpompa=40 L/menitQ_{pompa} = 40\ L/menit

Tetapi debit yang ingin masuk treatment:

Qtreatment=20 L/menitQ_{treatment} = 20\ L/menit

Maka debit bypass:

Qbypass=QpompaQtreatmentQ_{bypass} = Q_{pompa} - Q_{treatment}
Qbypass=4020Q_{bypass} = 40 - 20
Qbypass=20 L/menitQ_{bypass} = 20\ L/menit

Dengan pengaturan ini, hanya separuh aliran side-stream yang diproses, sedangkan separuh lainnya kembali langsung ke kolam.

8.3.4 Kapan Bypass Dibutuhkan

Bypass sangat dianjurkan bila:

  • TSS tidak selalu tinggi;
  • bioflok masih ingin dipertahankan sebagai pakan alami;
  • IPC mulai menunjukkan tanda kotor;
  • DO rendah dan sistem tidak boleh terlalu terganggu;
  • debit pompa lebih besar daripada debit desain IPC;
  • operator ingin fleksibilitas.

Kembali ke Atas


9. Monitoring, Validasi, dan Indikator Keberhasilan

Sistem sedimentasi tidak boleh dinilai hanya dari air yang terlihat lebih jernih. Pada bioflok, air yang terlalu jernih belum tentu baik. Yang harus dinilai adalah apakah sistem mampu menjaga TSS, DO, dan performa biologis dalam kondisi stabil.

Monitoring diperlukan untuk menjawab tiga pertanyaan:

  1. Apakah sedimentasi benar-benar menurunkan TSS?
  2. Apakah bioflok yang berguna tidak terbuang berlebihan?
  3. Apakah sistem tidak menciptakan masalah baru seperti sludge anaerob atau clogging IPC?

9.1 Parameter Lapangan

ParameterFungsi
TSS inlet–outletmengukur removal aktual
Imhoff conemelihat settleable solids
DOmemastikan sedimentasi tidak menekan oksigen
pHmemantau stabilitas sistem
TAN/amoniamelihat beban nitrogen
Nitritindikator stres nitrogen
Bau lumpurdeteksi anaerob
Respons makanindikator biologis
Visual flokmelihat apakah flok pecah atau terlalu halus

9.1.1 TSS Inlet–Outlet

TSS inlet–outlet adalah metode validasi paling langsung. Sampel inlet diambil sebelum swirler. Sampel outlet diambil setelah IPC. Dari selisih keduanya, operator bisa menghitung removal aktual.

Titik sampling ideal:

Rendering diagram...

Tiga titik sampling memberi informasi lebih kaya:

  • sampling 1 menunjukkan beban awal;
  • sampling 2 menunjukkan performa swirler;
  • sampling 3 menunjukkan performa total sistem.

9.1.2 Imhoff Cone

Imhoff cone berguna untuk melihat settleable solids secara cepat. Uji ini sangat praktis untuk operator karena tidak membutuhkan laboratorium rumit. Ambil sampel air 1 L1\ L, masukkan ke Imhoff cone, diamkan sesuai waktu pengamatan, lalu baca volume endapan.

Hasil Imhoff cone tidak sama dengan TSS, tetapi sangat berguna untuk memantau tren harian. Jika endapan naik terus, sistem sedimentasi perlu dijalankan lebih lama atau drain lumpur perlu diperbaiki.

9.1.3 DO

DO harus dipantau karena sedimentasi memindahkan padatan organik dan dapat memengaruhi dinamika oksigen. TSS tinggi meningkatkan respirasi mikroba dan konsumsi oksigen. Bila DO turun setelah sistem dioperasikan, penyebabnya bisa berupa mixing terganggu, lumpur anaerob teraduk, atau padatan terlalu lama tertahan.

Target praktis umum:

DO>45 mg/LDO > 4-5\ mg/L

Nilai target dapat berubah sesuai komoditas, umur, kepadatan, suhu, dan sistem aerasi.

9.1.4 Bau Lumpur

Bau lumpur adalah indikator lapangan yang sering lebih cepat daripada angka laboratorium. Lumpur yang normal biasanya berbau organik ringan. Lumpur anaerob biasanya berbau tajam, busuk, atau seperti telur busuk.

Jika bau anaerob muncul, tindakan praktis:

  • tingkatkan frekuensi drain swirler;
  • drain IPC lebih sering;
  • cek dead zone;
  • cek apakah hopper menahan lumpur terlalu lama;
  • jangan biarkan lumpur menumpuk di plate pack.

9.1.5 Visual Flok

Visual flok penting untuk melihat apakah swirler terlalu agresif. Jika setelah swirler flok terlihat lebih halus dan air outlet IPC tetap keruh, kemungkinan flok pecah menjadi partikel kecil. Dalam kasus ini, operator perlu:

  • menurunkan debit ke swirler;
  • memperbesar diameter inlet;
  • mengurangi tekanan pompa;
  • memakai airlift bila memungkinkan;
  • mengatur bypass.

9.2 Formula Validasi Removal

Formula dasar removal TSS:

Removal TSS=TSSinTSSoutTSSin×100Removal\ TSS = \frac{TSS_{in} - TSS_{out}}{TSS_{in}} \times 100%

Keterangan:

  • TSSinTSS_{in} = TSS sebelum sistem sedimentasi;
  • TSSoutTSS_{out} = TSS setelah sistem sedimentasi;
  • Removal TSSRemoval\ TSS = efisiensi pengurangan TSS.

Contoh:

TSSin=400 mg/LTSS_{in} = 400\ mg/L
TSSout=160 mg/LTSS_{out} = 160\ mg/L

Maka:

Removal TSS=400160400×100Removal\ TSS = \frac{400 - 160}{400} \times 100%
Removal TSS=240400×100Removal\ TSS = \frac{240}{400} \times 100%
Removal TSS=60Removal\ TSS = 60%

Jika ingin mengukur performa tiap tahap:

Removal Swirler

Removalswirler=TSSin,swirlerTSSout,swirlerTSSin,swirler×100Removal_{swirler} = \frac{TSS_{in,swirler} - TSS_{out,swirler}}{TSS_{in,swirler}} \times 100%

Removal IPC terhadap Outlet Swirler

RemovalIPC=TSSout,swirlerTSSout,IPCTSSout,swirler×100Removal_{IPC} = \frac{TSS_{out,swirler} - TSS_{out,IPC}}{TSS_{out,swirler}} \times 100%

Removal Total Sistem

Removaltotal=TSSin,swirlerTSSout,IPCTSSin,swirler×100Removal_{total} = \frac{TSS_{in,swirler} - TSS_{out,IPC}}{TSS_{in,swirler}} \times 100%

Dengan tiga formula ini, operator bisa melihat apakah masalah ada di swirler, IPC, atau keduanya.


9.3 Beban Padatan Harian

Beban TSS harian membantu operator memahami berapa banyak padatan yang masuk ke sistem sedimentasi per hari.

Formula:

LTSS=Q×TSS×0.001L_{TSS} = Q \times TSS \times 0.001

Keterangan:

  • LTSSL_{TSS} = beban TSS dalam kg/harikg/hari;
  • QQ = debit harian dalam m3/harim^3/hari;
  • TSSTSS = konsentrasi TSS dalam mg/Lmg/L;
  • 0.0010.001 = faktor konversi.

Jika:

Q=28.8 m3/hariQ = 28.8\ m^3/hari

dan:

TSS=400 mg/LTSS = 400\ mg/L

maka:

LTSS=28.8×400×0.001L_{TSS} = 28.8 \times 400 \times 0.001
LTSS=11.52 kg/hariL_{TSS} = 11.52\ kg/hari

Jadi beban padatan yang melewati sistem sedimentasi adalah:

11.52 kg/hari11.52\ kg/hari

Jika removal total sistem adalah 7272%, maka padatan yang dibuang:

TSSremoved=11.52×0.72TSS_{removed} = 11.52 \times 0.72
TSSremoved=8.29 kg/hariTSS_{removed} = 8.29\ kg/hari

Jika removal total sistem adalah 6060%:

TSSremoved=11.52×0.60TSS_{removed} = 11.52 \times 0.60
TSSremoved=6.91 kg/hariTSS_{removed} = 6.91\ kg/hari

Jika removal total sistem adalah 8282%:

TSSremoved=11.52×0.82TSS_{removed} = 11.52 \times 0.82
TSSremoved=9.45 kg/hariTSS_{removed} = 9.45\ kg/hari

Angka ini harus dipakai hati-hati. Pada bioflok, tidak semua TSS adalah limbah yang harus dibuang. Sebagian flok masih bernilai biologis. Karena itu, target monitoring bukan hanya removal tinggi, tetapi stabilitas sistem.


9.4 Indikator Keberhasilan Sistem

Sistem swirler + IPC dapat dianggap bekerja baik bila memenuhi indikator berikut:

IndikatorTanda sistem baik
TSS inlet–outletAda penurunan konsisten
Imhoff coneTren endapan terkendali
DOTidak turun setelah sistem berjalan
Bau lumpurTidak anaerob
Outlet IPCTidak membawa flok kasar
Plate packTidak cepat berlendir atau tersumbat
Respons makanStabil atau membaik
Visual flokFlok tidak hancur menjadi partikel sangat halus
Drain lumpurLumpur keluar pekat, bukan hanya air encer

9.4.1 Kriteria Praktis yang Lebih Penting daripada Air Jernih

Dalam bioflok, air yang terlalu jernih bisa menjadi sinyal bahwa flok terlalu banyak terbuang. Karena itu, indikator terbaik bukan kejernihan maksimum, melainkan keseimbangan:

TSS terkendali+DO stabil+respons makan baikTSS\ terkendali + DO\ stabil + respons\ makan\ baik

Jika air menjadi lebih terkendali tetapi ikan/udang tetap aktif makan, DO stabil, dan bau lumpur tidak muncul, maka sistem bekerja baik.


9.5 Troubleshooting Awal Berdasarkan Hasil Monitoring

Rendering diagram...

Tabel ringkas troubleshooting:

GejalaKemungkinan penyebabTindakan
Outlet IPC masih keruhPlate pack kotor atau distribusi inlet burukCuci plate pack, cek baffle inlet
Flok terlihat pecahInlet swirler terlalu agresifTurunkan debit, perbesar inlet, gunakan bypass
Lumpur berbau busukDrain tidak rutin atau dead zoneDrain lebih sering, cek hopper
TSS turun terlalu cepatOperasi terlalu lama atau debit terlalu besarKurangi durasi, aktifkan bypass
IPC cepat cloggingSwirler tidak efektif sebagai pre-settlerPerbaiki swirler dan frekuensi drain
Air balik membawa flok besarSwirler overload atau HRT terlalu pendekTurunkan debit treatment

Referensi Bab 7–9

  1. Green, B. W. melaporkan evaluasi settling chamber bioflok pada HRT 1818, 4343, dan 8787 menit, dengan kesimpulan minimum sekitar 4343 menit sesuai untuk biofloc culture hybrid striped bass pada kondisi penelitian tersebut. (DigitalCommons)
  2. Davidson dan Summerfelt melaporkan perbandingan swirl separator dan radial-flow settler pada RAS, dengan rata-rata TSS removal masing-masing 37.1±3.337.1 \pm 3.3% dan 77.9±1.677.9 \pm 1.6%. (ScienceDirect)
  3. Pfeiffer et al. melaporkan swirl separator efektif untuk partikel besar, dengan removal lebih dari 9090% untuk partikel di atas 250 μm250\ \mu m. (ScienceDirect)
  4. HydroFlo Tech menjelaskan prinsip inclined plate clarifier / lamella, termasuk penggunaan pelat miring 4545^\circ6060^\circ serta path length, plate spacing, dan angle sebagai variabel desain utama. (Hydroflotech)

Kembali ke Atas


10. SOP Praktis Harian

SOP sistem swirler + IPC harus dibuat sederhana, berulang, dan mudah dijalankan operator. Targetnya bukan membuat air bioflok sejernih air RAS konvensional, tetapi menjaga agar padatan tetap terkendali, DO stabil, lumpur tidak anaerob, dan IPC tidak tersumbat.

Pada sistem ini, swirler berperan sebagai pre-settler, sedangkan IPC berperan sebagai polishing clarifier. Pembagian fungsi ini penting karena swirl separator lebih tepat untuk menangkap fraksi padatan kasar, sedangkan IPC lebih efektif secara hidraulik untuk memperbesar area pengendapan dalam footprint kecil. Studi Pfeiffer et al. menunjukkan swirl separator sangat efektif untuk partikel besar, terutama fraksi di atas 250 μm250\ \mu m, sementara literatur lamella menjelaskan bahwa pelat miring meningkatkan area pemisahan efektif dalam ruang kompak. (DigitalCommons)


10.1 SOP Pagi

Pagi adalah waktu kritis karena DO biasanya berada pada titik rendah setelah malam hari. FAO menjelaskan bahwa DO kolam berfluktuasi harian: fotosintesis meningkatkan oksigen pada siang hari, sedangkan pada malam hari respirasi organisme dan dekomposisi bahan organik mengonsumsi oksigen. (FAOHome)

10.1.1 Urutan Pemeriksaan Pagi

Rendering diagram...

10.1.2 Cek DO

Langkah pertama adalah mengukur DO sebelum sistem sedimentasi dijalankan. Jangan langsung menyalakan pompa dan membuka drain bila DO sedang rendah, karena pengadukan lumpur atau perubahan aliran dapat menambah stres pada ikan atau udang.

Target praktis umum untuk banyak komoditas budidaya adalah menjaga DO sekitar >4>45 mg/L5\ mg/L, tetapi angka aman harus disesuaikan dengan komoditas, suhu, salinitas, padat tebar, dan fase budidaya. Sumber teknis akuakultur umumnya menempatkan DO sebagai parameter utama kualitas air, dengan kebutuhan optimal banyak spesies berada sekitar 5 mg/L5\ mg/L atau lebih. (static.horiba.com)

Catatan praktis:

Kondisi DO pagiTindakan
DO stabilSistem boleh dijalankan sesuai jadwal
DO rendahTunda operasi penuh, tingkatkan aerasi
DO turun setelah sistem berjalanCek lumpur anaerob, debit, dan titik pengambilan air
DO sangat fluktuatifKurangi durasi operasi dan evaluasi beban organik

10.1.3 Cek Perilaku Ikan/Udang

Setelah DO, amati perilaku organisme budidaya. Pada bioflok, respons biologis sering lebih cepat memberi sinyal daripada angka laboratorium.

Perhatikan:

  • ikan/udang mendekati permukaan;
  • gerakan lambat;
  • nafsu makan turun;
  • berenang tidak normal;
  • udang sering naik ke dinding atau pinggir;
  • ikan berkumpul di area aerasi.

Jika perilaku tidak normal, jangan langsung mengejar pembuangan TSS besar-besaran. Stabilkan aerasi, cek bau lumpur, dan pastikan tidak ada akumulasi bahan organik anaerob.

10.1.4 Uji Imhoff Cone

Uji Imhoff cone adalah alat keputusan harian yang sangat praktis. Ambil air bioflok sebanyak 1 L1\ L, masukkan ke Imhoff cone, lalu diamkan. Tujuannya melihat tren settleable solids, bukan menggantikan uji TSS laboratorium.

Interpretasi praktis:

Hasil Imhoff coneInterpretasi
Endapan stabilOperasi normal
Endapan naik perlahanTambah durasi sedimentasi
Endapan naik tajamJalankan swirler + IPC lebih lama
Endapan sangat rendah tetapi air terlalu jernihBioflok mungkin terlalu banyak terbuang

Imhoff cone membantu menghindari kesalahan umum: menjalankan sedimentasi hanya berdasarkan visual air. Dalam bioflok, air tidak harus jernih total.

10.1.5 Jalankan Sistem Bila Endapan Tinggi

Jika hasil Imhoff cone menunjukkan endapan tinggi, jalankan sistem:

KolamSwirlerIPCKolamKolam \rightarrow Swirler \rightarrow IPC \rightarrow Kolam

Debit operasi standar:

Qtreatment=20 L/menitQ_{treatment} = 20\ L/menit

Jika sistem memakai bypass, pastikan debit yang benar-benar masuk treatment tetap mendekati nilai desain:

Qtreatment=20 L/menitQ_{treatment} = 20\ L/menit

Bila debit aktual terlalu tinggi, HRT turun dan surface loading naik. Dampaknya, flok ringan lebih mudah lolos dan IPC lebih cepat kotor.

10.1.6 Drain Swirler Singkat dan Sering

Swirler sebaiknya didrain singkat tetapi sering. Jangan menunggu cone penuh. Lumpur yang terlalu lama tertahan akan mulai membusuk, terutama bila kaya bahan organik.

Prinsipnya:

Drain pendek dan rutin>drain panjang tetapi jarangDrain\ pendek\ dan\ rutin > drain\ panjang\ tetapi\ jarang

Tanda drain swirler bekerja baik:

  • lumpur keluar lebih pekat pada awal drain;
  • bau tidak menyengat;
  • setelah beberapa detik, air drain mulai lebih encer;
  • tidak ada penyumbatan di valve;
  • aliran keluar tidak tersendat.

10.1.7 Cek Outlet IPC

Outlet IPC adalah titik cepat untuk menilai apakah sistem bekerja. Perhatikan apakah air outlet masih membawa flok kasar. Jika outlet IPC masih membawa flok besar, masalah kemungkinan ada di swirler atau debit terlalu tinggi. Jika outlet IPC membawa flok halus terus-menerus, masalah bisa ada pada plate pack, distribusi inlet, atau flok terlalu ringan.


10.2 SOP Sore

Sore adalah waktu evaluasi kedua. Pada sore hari, aktivitas pakan sudah terjadi, bahan organik bertambah, dan flok dapat berubah konsentrasi. Pemeriksaan sore membantu mencegah masalah yang muncul pada malam hari.

10.2.1 Urutan Pemeriksaan Sore

Rendering diagram...

10.2.2 Cek Visual Air

Visual air tidak boleh menjadi satu-satunya acuan, tetapi tetap penting. Amati:

  • warna air terlalu pekat;
  • partikel besar melayang;
  • flok tampak pecah menjadi halus;
  • busa berlebih;
  • air outlet IPC berubah keruh;
  • permukaan air berminyak atau berlendir.

Jika air sangat pekat pada sore hari, sistem dapat dijalankan tambahan 1122 jam. Jika air terlalu jernih dan flok hampir hilang, kurangi durasi operasi atau buka bypass lebih besar.

10.2.3 Cek Bau Lumpur

Cek bau dari drain swirler dan drain IPC. Bau lumpur normal biasanya organik ringan. Bau anaerob biasanya tajam, busuk, atau mirip telur busuk.

Jika bau anaerob muncul, tindakan cepat:

  1. Drain lumpur sedikit lebih sering.
  2. Jangan biarkan lumpur tertahan di cone.
  3. Cek apakah hopper IPC memiliki dead zone.
  4. Pastikan pipa drain tidak terlalu kecil atau tersumbat.
  5. Evaluasi apakah feeding terlalu tinggi.

10.2.4 Drain IPC Bila Ada Akumulasi

IPC bukan tempat menyimpan lumpur. Lumpur yang tertangkap di plate pack dan hopper harus keluar. Jika dibiarkan, IPC dapat berubah menjadi sumber masalah: clogging, bau, pelepasan kembali bahan organik, dan short-circuit.

Tanda IPC perlu didrain:

  • outlet mulai keruh;
  • aliran antar-pelat terlihat lambat;
  • plate mulai berlendir;
  • hopper tampak penuh endapan;
  • ada bau saat valve dibuka;
  • perbedaan visual inlet–outlet makin kecil.

10.2.5 Pastikan Plate Pack Tidak Mulai Berlendir

Bioflok kaya bahan organik. Permukaan pelat IPC dapat menjadi tempat tumbuh biofilm. Karena itu, plate pack harus diperiksa visual. Literatur lamella menunjukkan spacing pelat umum berada sekitar 4040120 mm120\ mm; desain artikel ini memakai spacing 50 mm50\ mm sebagai kompromi antara area efektif dan risiko clogging pada bioflok. (ScienceDirect)

Jika plate mulai berlendir:

  • kurangi beban padatan ke IPC;
  • pastikan swirler efektif;
  • tambah frekuensi drain swirler;
  • jadwalkan cuci plate pack;
  • jangan menaikkan debit sebelum plate bersih.

10.3 SOP Mingguan

SOP mingguan bertujuan menjaga performa sistem. Masalah IPC sering tidak muncul mendadak, tetapi akumulatif: plate makin berlendir, baffle mulai kotor, debit turun, dan drain mulai tersumbat.

10.3.1 Checklist Mingguan

Rendering diagram...

10.3.2 Angkat dan Cuci Plate Pack IPC

Plate pack harus dirancang removable. Ini bukan opsi tambahan, melainkan syarat praktis. IPC bioflok yang plate pack-nya tidak bisa diangkat akan sulit dirawat.

Cuci plate pack dengan prinsip:

  • gunakan air bertekanan sedang;
  • hindari merusak permukaan pelat;
  • bersihkan lendir dan lumpur menempel;
  • cek apakah ada kanal yang buntu;
  • pastikan plate dipasang kembali dengan spacing sama.

Jika plate pack terlalu sering kotor, masalahnya bukan hanya pada IPC. Biasanya ada masalah di tahap sebelumnya: swirler kurang efektif, drain swirler jarang, debit terlalu tinggi, atau TSS kolam memang terlalu pekat.

10.3.3 Cek Valve Drain

Valve drain adalah titik kegagalan umum. Lumpur bioflok bisa lengket dan menyumbat valve kecil. Karena itu, drain swirler dan IPC sebaiknya mudah dibuka, tidak terlalu kecil, dan tidak memiliki banyak belokan tajam.

Cek:

  • valve mudah dibuka-tutup;
  • tidak ada sumbatan;
  • aliran drain keluar lancar;
  • lumpur tidak mengeras di pipa;
  • tidak ada kebocoran.

10.3.4 Cek Inlet Baffle

Baffle inlet pada IPC bertugas meratakan aliran. Jika baffle kotor atau posisi aliran salah, air bisa mengambil jalur pendek langsung ke outlet. Ini disebut short-circuiting.

Tanda short-circuiting:

  • outlet keruh walaupun plate bersih;
  • sebagian plate kotor, sebagian lain bersih;
  • aliran hanya dominan di satu sisi;
  • removal TSS turun tanpa perubahan TSS inlet.

10.3.5 Ukur Debit Aktual dengan Ember Ukur

Jangan hanya mengandalkan spesifikasi pompa. Debit aktual dipengaruhi oleh head, kotoran pipa, valve, elbow, dan kondisi pompa.

Cara sederhana:

  1. Siapkan ember dengan volume diketahui.
  2. Arahkan outlet sistem ke ember.
  3. Catat waktu pengisian.
  4. Hitung debit.

Formula:

Q=VembertQ = \frac{V_{ember}}{t}

Jika ember 20 L20\ L penuh dalam 60 detik60\ detik:

Q=20 L1 menitQ = \frac{20\ L}{1\ menit}
Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

Jika debit aktual naik menjadi 30 L/menit30\ L/menit, maka HRT IPC turun:

HRTIPC=86330HRT_{IPC} = \frac{863}{30}
HRTIPC=28.8 menitHRT_{IPC} = 28.8\ menit

Ini jauh lebih pendek dari desain awal:

HRTdesain=43.2 menitHRT_{desain} = 43.2\ menit

10.3.6 Bandingkan TSS Inlet dan Outlet

Minimal mingguan, lakukan perbandingan:

TSSinTSS_{in}

dan:

TSSoutTSS_{out}

Formula:

Removal TSS=TSSinTSSoutTSSin×100Removal\ TSS = \frac{TSS_{in} - TSS_{out}}{TSS_{in}} \times 100%

Jika removal turun, jangan langsung memperbesar debit. Langkah yang lebih tepat adalah memeriksa:

  • apakah swirler penuh lumpur;
  • apakah IPC berlendir;
  • apakah baffle kotor;
  • apakah ada short-circuit;
  • apakah debit aktual terlalu tinggi;
  • apakah flok pecah di swirler.

Kembali ke Atas


11. Risiko Desain dan Mitigasi

Sistem swirler + IPC kuat, tetapi tidak bebas risiko. Risiko utama dalam bioflok bukan hanya alat gagal memisahkan padatan, tetapi alat bekerja terlalu agresif sehingga menghilangkan flok berguna atau menimbulkan masalah baru seperti clogging dan lumpur anaerob.


11.1 Flok Terlalu Banyak Terbuang

11.1.1 Penyebab

Flok terlalu banyak terbuang biasanya terjadi karena:

  • sistem dijalankan terlalu lama;
  • debit treatment terlalu besar;
  • tidak ada bypass;
  • drain dilakukan terlalu agresif;
  • operator mengejar air terlalu jernih;
  • IPC terlalu efektif menangkap flok tanpa kontrol.

Pada bioflok, sebagian flok memiliki nilai biologis dan nutrisi. Karena itu, air yang terlalu jernih tidak selalu menjadi indikator keberhasilan.

11.1.2 Dampak

Dampak flok terlalu banyak terbuang:

  • sumber pakan alami berkurang;
  • kestabilan komunitas mikroba terganggu;
  • sistem menjadi lebih mirip RAS biasa tetapi tanpa biofilter lengkap;
  • kebutuhan pakan bisa naik;
  • dinamika nitrogen dapat berubah.

11.1.3 Mitigasi

Mitigasi utama:

  • gunakan bypass;
  • jangan operasikan 2424 jam bila TSS sudah turun;
  • cek Imhoff cone;
  • jangan mengejar air terlalu jernih;
  • kurangi durasi operasi;
  • turunkan debit treatment;
  • lakukan drain lumpur singkat, bukan panjang.

Diagram keputusan:

Rendering diagram...

11.2 IPC Clogging

11.2.1 Penyebab

IPC clogging adalah risiko utama sistem ini. Penyebabnya:

  • IPC menerima air bioflok mentah tanpa swirler;
  • spacing pelat terlalu rapat;
  • plate pack tidak removable;
  • drain lumpur jarang;
  • ada dead zone di hopper;
  • inlet tidak merata;
  • flok terlalu lengket;
  • biofilm tumbuh di permukaan pelat.

Lamella clarifier bekerja dengan pelat miring dan jarak antar-pelat tertentu; sumber teknis menyebut kisaran sudut pelat umum 4545^\circ6060^\circ dan spacing sekitar 4040120 mm120\ mm. Pada bioflok, desain terlalu rapat meningkatkan risiko kotor dan buntu. (ScienceDirect)

11.2.2 Dampak

Dampak clogging IPC:

  • aliran tidak merata;
  • sebagian kanal mati;
  • short-circuit meningkat;
  • outlet makin keruh;
  • lumpur menjadi anaerob;
  • tekanan pompa naik;
  • cleaning makin sulit.

11.2.3 Mitigasi

Mitigasi:

  • swirler wajib di depan;
  • spacing pelat minimal 50 mm50\ mm;
  • plate pack harus removable;
  • drain lumpur rutin;
  • hindari dead zone;
  • gunakan baffle distribusi;
  • jangan menaikkan debit saat plate mulai kotor.

Prinsip desain:

IPC bioflok harus mudah dibersihkanIPC\ bioflok\ harus\ mudah\ dibersihkan

bukan hanya:

IPC bioflok harus kompakIPC\ bioflok\ harus\ kompak

11.3 Flok Pecah di Swirler

11.3.1 Penyebab

Flok pecah di swirler terjadi bila gaya geser terlalu tinggi. Penyebab umum:

  • inlet terlalu kecil;
  • debit terlalu tinggi;
  • pompa terlalu kuat;
  • pusaran terlalu agresif;
  • pipa masuk menembak langsung ke zona outlet;
  • tidak ada bypass.

Dalam desain ini, inlet DN40 pada debit 20 L/menit20\ L/menit menghasilkan kecepatan inlet sekitar:

vi0.27 m/sv_i \approx 0.27\ m/s

Nilai ini relatif lembut untuk pre-settling bioflok. Namun, bila debit dinaikkan tanpa memperbesar inlet, kecepatan dan shear akan naik.

11.3.2 Dampak

Dampak flok pecah:

  • partikel menjadi lebih halus;
  • swirler terlihat kurang efektif;
  • IPC menerima beban flok halus lebih banyak;
  • outlet IPC bisa tetap keruh;
  • TSS sulit turun walaupun sistem berjalan.

11.3.3 Mitigasi

Mitigasi:

  • inlet DN40 pada 20 L/menit20\ L/menit dipertahankan;
  • hindari pompa tekanan tinggi;
  • gunakan airlift bila memungkinkan;
  • jangan membuat pusaran terlalu agresif;
  • pakai bypass untuk menurunkan debit treatment;
  • cek visual flok sebelum dan sesudah swirler.

Diagram troubleshooting flok pecah:

Rendering diagram...

11.4 Lumpur Anaerob

11.4.1 Penyebab

Lumpur anaerob muncul ketika bahan organik menumpuk terlalu lama tanpa oksigen cukup. Dalam sistem sedimentasi, lokasi rawan adalah:

  • cone bawah swirler;
  • sludge hopper IPC;
  • pipa drain;
  • sudut mati;
  • plate pack yang tertutup lendir.

FAO menjelaskan bahwa konsumsi oksigen di dasar kolam dipengaruhi oleh dekomposisi bahan organik dan aktivitas organisme bentik; prinsip yang sama relevan dalam unit sedimentasi, karena lumpur organik yang tertahan akan mengonsumsi oksigen dan dapat menciptakan kondisi reduktif. (FAOHome)

11.4.2 Gejala

Gejala lumpur anaerob:

  • bau busuk tajam;
  • warna lumpur sangat gelap;
  • gelembung gas saat drain;
  • outlet mendadak keruh setelah drain;
  • ikan/udang stres setelah lumpur teraduk;
  • DO turun setelah sistem dijalankan.

11.4.3 Mitigasi

Mitigasi:

  • drain lumpur sedikit tetapi sering;
  • jangan menunggu cone penuh;
  • gunakan pipa drain cukup besar;
  • cek bau lumpur;
  • hindari dead zone;
  • jangan biarkan plate pack tertutup biofilm;
  • pastikan hopper memiliki kemiringan cukup ke titik drain.

Prinsip operasi:

Lumpur harus keluar sebelum membusukLumpur\ harus\ keluar\ sebelum\ membusuk

bukan:

Lumpur ditahan sampai penuhLumpur\ ditahan\ sampai\ penuh

11.5 Ringkasan Risiko dan Mitigasi

RisikoPenyebab utamaMitigasi utama
Flok terlalu banyak terbuangOperasi terlalu lama, debit terlalu besarGunakan bypass, cek Imhoff cone
IPC cloggingPadatan kasar masuk plate packSwirler wajib di depan, spacing 50 mm50\ mm
Flok pecah di swirlerShear terlalu tinggiDebit lembut, inlet cukup besar, airlift
Lumpur anaerobLumpur tertahan terlalu lamaDrain sedikit tapi sering
Outlet tetap keruhShort-circuit, plate kotor, flok halusCek baffle, cuci plate, ukur debit
TSS tidak turunDebit terlalu tinggi atau sistem overloadKurangi debit, tambah durasi terkendali

Kembali ke Atas


12. Rekomendasi Akhir untuk Praktisi

Bagian ini adalah ringkasan keputusan. Tidak semua lokasi membutuhkan sistem yang sama. Pilihan unit sedimentasi harus disesuaikan dengan ruang, padat tebar, karakter flok, kapasitas operator, dan target pengendalian TSS.


12.1 Bila Hanya Punya Ruang Kecil

Pilih:

Swirler\text{Swirler}

Swirler adalah pilihan paling sederhana dan hemat footprint. Dengan desain yang telah dibahas:

D=800 mmD = 800\ mm
Ht=900 mmH_t = 900\ mm
V=302 LV = 302\ L
A=0.503 m2A = 0.503\ m^2

Namun, praktisi harus memahami batasannya. Swirler lebih cocok sebagai pengendali padatan kasar, bukan clarifier akhir. Studi Davidson dan Summerfelt menunjukkan swirl separator memiliki rata-rata TSS removal lebih rendah daripada radial-flow settler pada sistem RAS, yaitu sekitar 37.1±3.337.1 \pm 3.3% dibanding 77.9±1.677.9 \pm 1.6%. (ScienceDirect)

Cocok untuk:

  • kolam kecil;
  • lahan sempit;
  • budget terbatas;
  • kontrol lumpur kasar;
  • operasi periodik;
  • pre-treatment sebelum unit lain.

Tidak ideal untuk:

  • flok sangat halus;
  • target outlet sangat stabil;
  • TSS sangat tinggi tanpa unit lanjutan;
  • sistem yang ingin polishing kuat.

12.2 Bila Ingin Sistem Robust dan Mudah Dirawat

Pilih:

Radial sedimentasi\text{Radial\ sedimentasi}

Radial sedimentasi lebih lembut daripada swirler karena aliran diredam di feedwell lalu menyebar radial ke overflow keliling. Untuk bioflok yang floknya rapuh, radial sedimentasi lebih aman dibanding pusaran agresif.

Desain yang telah dibahas:

D=1200 mmD = 1200\ mm
Dfeedwell=300 mmD_{feedwell} = 300\ mm
V=867 LV = 867\ L
HRT=43.4 menitHRT = 43.4\ menit
A=1.131 m2A = 1.131\ m^2

Kelebihannya adalah stabilitas dan kemudahan perawatan. Kekurangannya adalah footprint lebih besar. Jika lokasi masih memiliki ruang, radial sedimentasi adalah pilihan aman untuk operator yang ingin sistem sederhana tetapi performanya lebih stabil.

Cocok untuk:

  • bioflok dengan TSS sedang–tinggi;
  • operator yang ingin cleaning mudah;
  • sistem yang tidak ingin plate pack;
  • flok rapuh;
  • lokasi dengan ruang cukup.

Tidak ideal untuk:

  • ruang sangat terbatas;
  • target area settling maksimum per footprint;
  • desain ultra-kompak.

12.3 Bila Ingin Performa Tinggi per Footprint

Pilih:

IPC\text{IPC}

IPC memberi performa hidraulik tinggi karena area pengendapan efektif lebih besar daripada footprint fisiknya. Dalam desain artikel ini:

Afootprint=1.132 m2A_{footprint} = 1.132\ m^2
Aprojected=2.43 m2A_{projected} = 2.43\ m^2
RA=2.15×R_A = 2.15\times
vIPC=0.494 m/jamv_{IPC} = 0.494\ m/jam

Secara teori, IPC lebih mampu menangkap flok dengan settling velocity lebih rendah. Literatur lamella juga menjelaskan bahwa pelat miring digunakan untuk memaksimalkan area pemisahan, dengan sudut umum 4545^\circ6060^\circ dan spacing pelat sekitar 4040120 mm120\ mm. (ScienceDirect)

Namun, IPC sebaiknya tidak dipakai sendirian untuk bioflok pekat. Risiko clogging terlalu besar bila air bioflok mentah langsung masuk ke plate pack. IPC paling baik ditempatkan setelah pre-settler.

Cocok untuk:

  • lahan terbatas;
  • target polishing;
  • TSS sudah dikurangi sebelumnya;
  • operator siap melakukan cleaning rutin;
  • sistem intensif dengan kontrol baik.

Tidak ideal untuk:

  • bioflok sangat pekat tanpa pre-treatment;
  • operator minim maintenance;
  • desain tanpa plate pack removable;
  • sistem dengan banyak feses dan sisa pakan langsung masuk.

12.4 Pilihan Terbaik

Rekomendasi final:

SwirlerIPC\text{Swirler} \rightarrow \text{IPC}

Dengan fungsi:

Swirler=proteksi IPC+pemekatan lumpur\text{Swirler} = \text{proteksi IPC} + \text{pemekatan lumpur}
IPC=polishing+pengendapan flok ringan\text{IPC} = \text{polishing} + \text{pengendapan flok ringan}

Kombinasi ini paling seimbang karena:

  1. Swirler menangkap fraksi kasar yang berisiko menyumbat IPC.
  2. IPC menangkap fraksi ringan yang lolos dari swirler.
  3. Total footprint masih kompak.
  4. Surface loading efektif IPC rendah.
  5. Sistem bisa dioperasikan kontinu, periodik, atau bypass.
  6. Risiko operasional dapat dikendalikan dengan SOP yang jelas.

Diagram keputusan akhir:

Rendering diagram...

12.5 Spesifikasi Final yang Direkomendasikan

Untuk kapasitas:

Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

gunakan paket:

Tahap 1 — Swirler

ParameterRekomendasi
Debit20 L/menit20\ L/menit
Volume302 L302\ L
HRT15.1 menit15.1\ menit
Diameter800 mm800\ mm
Tinggi total900 mm900\ mm
Footprint0.503 m20.503\ m^2
InletDN40
OutletDN50
DrainDN32

Tahap 2 — IPC

ParameterRekomendasi
Debit20 L/menit20\ L/menit
Volume efektif863 L863\ L
HRT43.2 menit43.2\ menit
Footprint1.132 m21.132\ m^2
Projected settling area2.43 m22.43\ m^2
Area multiplier2.15×2.15\times
Surface loading efektif0.494 m/jam0.494\ m/jam
Spacing pelat50 mm50\ mm
Sudut pelat6060^\circ

Total Sistem

Vtotal=302+863V_{total} = 302 + 863
Vtotal=1165 LV_{total} = 1165\ L
HRTtotal=116520HRT_{total} = \frac{1165}{20}
HRTtotal=58.25 menitHRT_{total} = 58.25\ menit
Atotal=0.503+1.132A_{total} = 0.503 + 1.132
Atotal=1.635 m2A_{total} = 1.635\ m^2

Dengan ruang servis:

Ainstalasi2.02.2 m2A_{instalasi} \approx 2.0-2.2\ m^2

12.6 Take-Home Message

Untuk bioflok, sedimentasi yang baik bukan sedimentasi yang membuang semua flok. Sedimentasi yang baik adalah sedimentasi yang menjaga padatan tetap terkendali tanpa merusak fungsi biologis bioflok.

Ringkasan keputusan:

KondisiPilihan
Ruang sangat terbatasSwirler
Ingin sistem lembut dan mudah dirawatRadial sedimentasi
Ingin area efektif tinggi per footprintIPC
Bioflok intensif dan ingin sistem paling seimbangSwirler + IPC

Rekomendasi akhir:

SwirlerIPC\boxed{\text{Swirler} \rightarrow \text{IPC}}

Dengan prinsip operasi:

Jalankan seperlunya, ukur hasilnya, dan jangan mengejar air terlalu jernih\text{Jalankan seperlunya, ukur hasilnya, dan jangan mengejar air terlalu jernih}

Sistem ini kuat bila dioperasikan dengan disiplin: cek DO, cek Imhoff cone, drain lumpur sedikit tetapi sering, bersihkan plate pack, dan validasi performa dengan TSS inlet–outlet. Green menunjukkan pentingnya parameter HRT dalam settling chamber bioflok, sementara studi Davidson dan Summerfelt menunjukkan bahwa desain aliran memengaruhi stabilitas removal TSS; keduanya menguatkan bahwa sedimentasi bioflok harus dirancang dan divalidasi, bukan hanya dibuat berdasarkan ukuran tangki. (DigitalCommons)


Referensi Bab 10–12

  1. Green, B. W. Evaluation of Settling Chamber Hydraulic Retention Time in a Biofloc Production System. Rujukan HRT settling chamber bioflok 1818, 4343, dan 8787 menit, dengan kesimpulan minimum sekitar 4343 menit pada kondisi studi. (DigitalCommons)
  2. Davidson, J., & Summerfelt, S. Solids removal from a coldwater recirculating system—comparison of a swirl separator and a radial-flow settler. Rujukan perbandingan TSS removal swirl separator dan radial-flow settler. (ScienceDirect)
  3. Pfeiffer et al. Particle sieve analysis for determining solids removal efficiency of water treatment components in a recirculating aquaculture system. Rujukan efektivitas swirl separator pada partikel besar. (DigitalCommons)
  4. ScienceDirect Topics. Lamella Clarifiers. Rujukan prinsip pelat miring, kisaran sudut 4545^\circ6060^\circ, dan spacing pelat sekitar 4040120 mm120\ mm. (ScienceDirect)
  5. FAO. Aeration and Oxygenation in Aquaculture. Rujukan pentingnya DO, fluktuasi harian oksigen, dan konsumsi oksigen oleh proses biologis di kolam. (FAOHome)

Kembali ke Atas


13. Lampiran Perhitungan Desain

Lampiran ini merangkum formula inti yang dipakai sepanjang artikel. Tujuannya agar praktisi dapat menyesuaikan desain bila debit, volume kolam, target HRT, atau ukuran unit berubah.

Acuan desain artikel:

Q=20 L/menit=1.2 m3/jam=28.8 m3/hariQ = 20\ L/menit = 1.2\ m^3/jam = 28.8\ m^3/hari

13.1 Konversi Debit

Debit awal:

Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

Konversi ke m3/menitm^3/menit:

20 L/menit=0.02 m3/menit20\ L/menit = 0.02\ m^3/menit

Konversi ke m3/jamm^3/jam:

Q=0.02×60Q = 0.02 \times 60
Q=1.2 m3/jamQ = 1.2\ m^3/jam

Konversi ke m3/harim^3/hari:

Q=1.2×24Q = 1.2 \times 24
Q=28.8 m3/hariQ = 28.8\ m^3/hari

Konversi ke gpmgpm:

20 L/menit5.28 gpm20\ L/menit \approx 5.28\ gpm

13.2 Hydraulic Retention Time

Formula dasar HRT:

HRT=VQHRT = \frac{V}{Q}

Keterangan:

  • HRTHRT = waktu tinggal hidrolik;
  • VV = volume efektif unit;
  • QQ = debit masuk.

Jika VV dalam liter dan QQ dalam L/menitL/menit, maka HRTHRT keluar dalam menit.

Contoh swirler

Vswirler=302 LV_{swirler} = 302\ L
Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit
HRTswirler=30220HRT_{swirler} = \frac{302}{20}
HRTswirler=15.1 menitHRT_{swirler} = 15.1\ menit

Contoh IPC

VIPC=863 LV_{IPC} = 863\ L
Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit
HRTIPC=86320HRT_{IPC} = \frac{863}{20}
HRTIPC=43.15 menitHRT_{IPC} = 43.15\ menit

Dibulatkan:

HRTIPC43.2 menitHRT_{IPC} \approx 43.2\ menit

13.3 Footprint Tangki Bulat

Untuk tangki berbentuk silinder atau lingkaran:

A=πD24A = \frac{\pi D^2}{4}

Keterangan:

  • AA = footprint atau luas tapak;
  • DD = diameter internal tangki.

Contoh swirler

D=0.8 mD = 0.8\ m
Aswirler=3.1416×0.824A_{swirler} = \frac{3.1416 \times 0.8^2}{4}
Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2

Contoh radial sedimentasi

D=1.2 mD = 1.2\ m
Aradial=3.1416×1.224A_{radial} = \frac{3.1416 \times 1.2^2}{4}
Aradial=1.131 m2A_{radial} = 1.131\ m^2

13.4 Footprint Rectangular

Untuk tangki berbentuk persegi panjang:

A=L×WA = L \times W

Keterangan:

  • AA = footprint;
  • LL = panjang tangki;
  • WW = lebar tangki.

Contoh IPC

L=1.20 mL = 1.20\ m
W=0.943 mW = 0.943\ m
AIPC=1.20×0.943A_{IPC} = 1.20 \times 0.943
AIPC=1.132 m2A_{IPC} = 1.132\ m^2

Konversi ke kaki persegi:

AIPC=1.132×10.764A_{IPC} = 1.132 \times 10.764
AIPC=12.18 ft2A_{IPC} = 12.18\ ft^2

13.5 Overflow Velocity / Surface Loading

Formula:

vo=QAv_o = \frac{Q}{A}

Keterangan:

  • vov_o = overflow velocity atau surface loading;
  • QQ = debit dalam m3/jamm^3/jam;
  • AA = luas pengendapan dalam m2m^2.

Prinsip sedimentasi:

vs>vov_s > v_o

Keterangan:

  • vsv_s = kecepatan endap partikel/flok;
  • vov_o = overflow velocity.

Jika vsv_s lebih kecil dari vov_o, flok cenderung lolos ke outlet.

Contoh swirler

Q=1.2 m3/jamQ = 1.2\ m^3/jam
Aswirler=0.503 m2A_{swirler} = 0.503\ m^2
vo,swirler=1.20.503v_{o,swirler} = \frac{1.2}{0.503}
vo,swirler=2.39 m/jamv_{o,swirler} = 2.39\ m/jam

Contoh radial sedimentasi

Aradial=1.131 m2A_{radial} = 1.131\ m^2
vo,radial=1.21.131v_{o,radial} = \frac{1.2}{1.131}
vo,radial=1.06 m/jamv_{o,radial} = 1.06\ m/jam

Contoh IPC

Untuk IPC, luas yang dipakai bukan hanya footprint, tetapi projected settling area:

AIPC=2.43 m2A_{IPC} = 2.43\ m^2
vIPC=1.22.43v_{IPC} = \frac{1.2}{2.43}
vIPC=0.494 m/jamv_{IPC} = 0.494\ m/jam

13.6 Projected Settling Area IPC

Formula projected settling area IPC:

AIPC=Nc×Lp×Wp×cosθA_{IPC} = N_c \times L_p \times W_p \times \cos \theta

Keterangan:

  • AIPCA_{IPC} = projected settling area;
  • NcN_c = jumlah channel antar-pelat;
  • LpL_p = panjang pelat;
  • WpW_p = lebar pelat;
  • θ\theta = sudut pelat terhadap horizontal.

Data desain:

Nc=9N_c = 9
Lp=0.60 mL_p = 0.60\ m
Wp=0.90 mW_p = 0.90\ m
θ=60\theta = 60^\circ

Karena:

cos60=0.5\cos 60^\circ = 0.5

Maka:

AIPC=9×0.60×0.90×0.5A_{IPC} = 9 \times 0.60 \times 0.90 \times 0.5
AIPC=2.43 m2A_{IPC} = 2.43\ m^2

Konversi:

2.43 m2=26.16 ft22.43\ m^2 = 26.16\ ft^2

Area multiplier terhadap footprint:

RA=AIPCAfootprintR_A = \frac{A_{IPC}}{A_{footprint}}
RA=2.431.132R_A = \frac{2.43}{1.132}
RA=2.15R_A = 2.15

Artinya, IPC memberi projected settling area sekitar:

2.15×2.15\times

lebih besar daripada footprint fisiknya.


13.7 TSS Removal

Formula:

Removal TSS=TSSinTSSoutTSSin×100Removal\ TSS = \frac{TSS_{in} - TSS_{out}}{TSS_{in}} \times 100%

Keterangan:

  • TSSinTSS_{in} = TSS sebelum unit sedimentasi;
  • TSSoutTSS_{out} = TSS setelah unit sedimentasi;
  • Removal TSSRemoval\ TSS = efisiensi pengurangan TSS.

Contoh

TSSin=400 mg/LTSS_{in} = 400\ mg/L
TSSout=160 mg/LTSS_{out} = 160\ mg/L
Removal TSS=400160400×100Removal\ TSS = \frac{400 - 160}{400} \times 100%
Removal TSS=60Removal\ TSS = 60%

Untuk sistem swirler + IPC, sebaiknya dihitung di tiga titik:

Rendering diagram...

Dengan tiga titik ini, operator dapat mengetahui apakah masalah terjadi di swirler, IPC, atau keduanya.


13.8 Removal Sistem Seri

Untuk dua unit yang dipasang seri, removal total tidak dijumlahkan langsung.

Formula:

Rtotal=1(1R1)(1R2)R_{total} = 1 - (1 - R_1)(1 - R_2)

Keterangan:

  • RtotalR_{total} = removal total;
  • R1R_1 = removal tahap pertama;
  • R2R_2 = removal tahap kedua terhadap sisa padatan setelah tahap pertama.

Contoh

Jika:

R1=30R_1 = 30% = 0.30

dan:

R2=60R_2 = 60% = 0.60

Maka:

Rtotal=1(10.30)(10.60)R_{total} = 1 - (1 - 0.30)(1 - 0.60)
Rtotal=1(0.70×0.40)R_{total} = 1 - (0.70 \times 0.40)
Rtotal=10.28R_{total} = 1 - 0.28
Rtotal=0.72R_{total} = 0.72
Rtotal=72R_{total} = 72%

13.9 Beban TSS Harian

Formula:

LTSS=Q×TSS×0.001L_{TSS} = Q \times TSS \times 0.001

Keterangan:

  • LTSSL_{TSS} = beban TSS dalam kg/harikg/hari;
  • QQ = debit harian dalam m3/harim^3/hari;
  • TSSTSS = konsentrasi TSS dalam mg/Lmg/L.

Contoh:

Q=28.8 m3/hariQ = 28.8\ m^3/hari
TSS=400 mg/LTSS = 400\ mg/L
LTSS=28.8×400×0.001L_{TSS} = 28.8 \times 400 \times 0.001
LTSS=11.52 kg/hariL_{TSS} = 11.52\ kg/hari

Jika removal total 7272%:

TSSremoved=11.52×0.72TSS_{removed} = 11.52 \times 0.72
TSSremoved=8.29 kg/hariTSS_{removed} = 8.29\ kg/hari

13.10 Ringkasan Formula Cepat

Kebutuhan hitungFormula
HRTHRT=VQHRT = \frac{V}{Q}
Footprint bulatA=πD24A = \frac{\pi D^2}{4}
Footprint rectangularA=L×WA = L \times W
Overflow velocityvo=QAv_o = \frac{Q}{A}
Projected area IPCAIPC=Nc×Lp×Wp×cosθA_{IPC} = N_c \times L_p \times W_p \times \cos \theta
Area multiplier IPCRA=AIPCAfootprintR_A = \frac{A_{IPC}}{A_{footprint}}
TSS removalRemoval TSS=TSSinTSSoutTSSin×100Removal\ TSS = \frac{TSS_{in} - TSS_{out}}{TSS_{in}} \times 100%
Removal seriRtotal=1(1R1)(1R2)R_{total} = 1 - (1 - R_1)(1 - R_2)
Beban TSSLTSS=Q×TSS×0.001L_{TSS} = Q \times TSS \times 0.001

Kembali ke Atas


14. Daftar Visual yang Perlu Dibuat dalam Artikel

Visual penting karena praktisi lebih mudah memahami sistem sedimentasi dari alur, posisi pipa, dimensi unit, dan fungsi tiap tahap. Semua visual sebaiknya dibuat sederhana, vertikal, dan ramah layar ponsel.


14.1 Diagram Alur Umum Sedimentasi Bioflok

Tujuan visual:

  • menunjukkan posisi sedimentasi sebagai side-stream treatment;
  • menegaskan bahwa air tidak harus seluruhnya melewati sistem;
  • menunjukkan alur utama: kolam → swirler → IPC → kolam.
Rendering diagram...

14.2 Ilustrasi Swirler Lengkap Dimensi

Visual ini perlu dibuat sebagai gambar teknik atau infografik.

Data yang harus tampil:

KomponenNilai
Diameter800 mm800\ mm
Tinggi silinder450 mm450\ mm
Tinggi cone450 mm450\ mm
Tinggi total900 mm900\ mm
Volume aktual302 L302\ L
HRT15.1 menit15.1\ menit
Footprint0.503 m20.503\ m^2
InletDN40
OutletDN50
Drain lumpurDN32

Label penting:

  • inlet tangensial;
  • zona pusaran;
  • zona pengendapan;
  • sludge cone;
  • drain lumpur;
  • outlet air lebih ringan.

Skema konsep:

Rendering diagram...

14.3 Ilustrasi Radial Sedimentasi Lengkap Dimensi

Visual ini menjelaskan alternatif radial sedimentasi sebagai clarifier lembut dan robust.

Data yang harus tampil:

KomponenNilai
Diameter tangki1200 mm1200\ mm
Diameter feedwell300 mm300\ mm
Tinggi silinder650 mm650\ mm
Tinggi cone350 mm350\ mm
Tinggi air total1000 mm1000\ mm
Volume aktual867 L867\ L
HRT43.4 menit43.4\ menit
Footprint1.131 m21.131\ m^2
Overflow velocity1.06 m/jam1.06\ m/jam
InletDN40
Outlet launderDN50
Drain lumpurDN32

Label penting:

  • feedwell tengah;
  • aliran radial;
  • overflow keliling;
  • zona pengendapan tenang;
  • sludge cone;
  • drain lumpur.

Skema konsep:

Rendering diagram...

14.4 Ilustrasi IPC Lengkap Dimensi dalam Inci

Visual IPC perlu dibuat paling detail karena banyak dimensi internal.

Data utama:

KomponenNilai
Panjang tangki47.24 in=1200 mm47.24\ in = 1200\ mm
Lebar tangki37.13 in=943 mm37.13\ in = 943\ mm
Footprint12.18 ft2=1.132 m212.18\ ft^2 = 1.132\ m^2
Jumlah pelat1010
Jumlah channel99
Panjang pelat23.62 in=600 mm23.62\ in = 600\ mm
Lebar pelat35.43 in=900 mm35.43\ in = 900\ mm
Sudut pelat6060^\circ
Spacing pelat1.97 in=50 mm1.97\ in = 50\ mm
Projected settling area26.16 ft2=2.43 m226.16\ ft^2 = 2.43\ m^2
Surface loading efektif0.494 m/jam0.494\ m/jam
Volume efektif228 gal=863 L228\ gal = 863\ L

Label penting:

  • zona inlet/distribusi;
  • baffle inlet;
  • plate pack;
  • clear water zone;
  • outlet launder;
  • sludge hopper;
  • drain lumpur;
  • plate angle;
  • plate spacing.

Skema konsep:

Rendering diagram...

14.5 Diagram Performance per Footprint

Visual ini menunjukkan mengapa IPC menarik dari sisi area efektif.

Data performance:

UnitFootprintArea settling efektifSurface loading
Swirler0.503 m20.503\ m^20.503 m20.503\ m^22.39 m/jam2.39\ m/jam
Radial sedimentasi1.131 m21.131\ m^21.131 m21.131\ m^21.06 m/jam1.06\ m/jam
IPC1.132 m21.132\ m^22.43 m22.43\ m^20.494 m/jam0.494\ m/jam

Diagram ringkas:

Rendering diagram...

14.6 Diagram Kombinasi Terbaik

Visual ini menjadi diagram utama kesimpulan artikel.

Rendering diagram...

Pesan utama visual:

Swirler=proteksi IPCSwirler = proteksi\ IPC
IPC=polishing flok ringanIPC = polishing\ flok\ ringan

14.7 Diagram Keputusan Pemilihan Unit

Diagram ini membantu praktisi memilih metode berdasarkan kondisi lapangan.

Rendering diagram...

Kembali ke Atas


15. Referensi Utama Artikel

Bagian ini memuat referensi inti yang menjadi dasar teknis artikel. Referensi dibagi berdasarkan fungsi: bioflok dan HRT, swirler, radial-flow settler, dan IPC/lamella clarifier.


15.1 Green 2022 — HRT Settling Chamber pada Sistem Bioflok

Green meneliti settling chamber pada sistem bioflok sunshine bass / hybrid striped bass dengan HRT 1818, 4343, dan 8787 menit. HRT dihitung dari volume chamber dibagi flow rate, dan hasil studi menyimpulkan bahwa HRT minimum sekitar 4343 menit sesuai untuk kondisi bioflok yang diuji. Referensi ini menjadi dasar utama penggunaan HRT 4343 menit dalam desain radial sedimentasi dan IPC pada artikel ini. (Wiley Online Library)

Penggunaan dalam artikel:

  • dasar HRT konservatif bioflok;
  • pembanding terhadap HRT swirler yang lebih pendek;
  • alasan bahwa swirler 15.115.1 menit sebaiknya diposisikan sebagai pre-settler, bukan clarifier utama bioflok.

15.2 Davidson & Summerfelt 2005 — Swirl Separator vs Radial-Flow Settler

Davidson dan Summerfelt membandingkan swirl separator dan radial-flow settler pada sistem coldwater RAS. Studi tersebut melaporkan mean TSS removal swirl separator sekitar 37.1±3.337.1 \pm 3.3%, sedangkan radial-flow settler sekitar 77.9±1.677.9 \pm 1.6%. Radial-flow settler juga dilaporkan lebih konsisten pada berbagai konsentrasi TSS inlet. (ScienceDirect)

Penggunaan dalam artikel:

  • dasar performa relatif swirler vs radial sedimentasi;
  • alasan radial sedimentasi diposisikan sebagai clarifier yang lebih lembut dan robust;
  • pembanding bahwa swirler lebih tepat sebagai pre-settler.

15.3 Pfeiffer et al. 2008 — Particle Sieve Analysis pada RAS Tilapia

Pfeiffer et al. mengevaluasi komponen penghilangan padatan pada sistem RAS tilapia. Studi tersebut melaporkan bahwa swirl separator memiliki average suspended solids removal sekitar 65.665.6%, bekerja pada flow 40 L/menit40\ L/menit dengan HRT sekitar 1515 menit, dan removal lebih dari 9090% untuk partikel lebih besar dari 250 μm250\ \mu m. (ScienceDirect)

Penggunaan dalam artikel:

  • dasar bahwa swirler efektif untuk partikel besar;
  • pembenaran fungsi swirler sebagai pre-settler;
  • alasan swirler ditempatkan sebelum IPC agar padatan kasar tidak langsung masuk ke plate pack.

15.4 Literatur IPC / Lamella Clarifier

Prinsip IPC / lamella clarifier adalah memperbesar area pengendapan efektif dengan pelat miring. Sumber teknis menyebut lamella menggunakan pelat miring pada sudut sekitar 4545^\circ6060^\circ, dan variabel desain utamanya meliputi path length, plate spacing, dan plate angle. Sumber industri lain menyebut konfigurasi pelat 6060^\circ dan spacing 8080100 mm100\ mm pada unit tertentu, sementara sumber teknis lain menyebut spacing 505080 mm80\ mm sebagai kisaran desain umum. (Hydroflotech)

Penggunaan dalam artikel:

  • dasar penggunaan sudut pelat 6060^\circ;
  • dasar pemilihan spacing 50 mm50\ mm sebagai batas bawah praktis bioflok;
  • dasar perhitungan projected settling area;
  • alasan IPC lebih cocok sebagai polishing clarifier setelah swirler.

15.5 Batasan Penggunaan Referensi

Referensi yang digunakan berasal dari beberapa konteks berbeda:

ReferensiKonteks asliCara digunakan dalam artikel
Green 2022Bioflok sunshine bass / hybrid striped bassDasar HRT bioflok sekitar 4343 menit
Davidson & Summerfelt 2005Coldwater RASPembanding performa swirler vs radial-flow settler
Pfeiffer et al. 2008RAS tilapiaDasar swirler efektif untuk partikel besar
Literatur lamellaWater treatment / clarifier designDasar prinsip IPC, sudut pelat, dan spacing

Karena tidak semua referensi berasal dari sistem bioflok yang sama, angka performa tidak boleh dianggap universal. Artikel ini memakai referensi tersebut sebagai dasar desain awal yang harus divalidasi dengan pengukuran lapangan.

Validasi wajib:

Removal TSS=TSSinTSSoutTSSin×100Removal\ TSS = \frac{TSS_{in} - TSS_{out}}{TSS_{in}} \times 100%

dan pemantauan harian:

DO, Imhoff cone, bau lumpur, visual flok, respons makanDO,\ Imhoff\ cone,\ bau\ lumpur,\ visual\ flok,\ respons\ makan

15.6 Rekomendasi Sitasi Artikel

Format ringkas referensi utama:

  1. Green, B. W. 2022. Evaluation of Settling Chamber Hydraulic Retention Time in a Biofloc Production System. North American Journal of Aquaculture. (Wiley Online Library)
  2. Davidson, J., & Summerfelt, S. T. 2005. Solids removal from a coldwater recirculating system—comparison of a swirl separator and a radial-flow settler. Aquacultural Engineering. (ScienceDirect)
  3. Pfeiffer, T. J. et al. 2008. Particle sieve analysis for determining solids removal efficiency of water treatment components in a recirculating aquaculture system. Aquacultural Engineering. (ScienceDirect)
  4. HydroFlo Tech. Theory of Inclined Plate Clarifier Design. Rujukan teknis prinsip lamella/IPC. (Hydroflotech)
  5. ScienceDirect Topics. Lamella Clarifiers. Rujukan umum prinsip lamella clarifier dan penggunaan pelat miring. (Scribd)

Kembali ke Atas


Penutup Artikel

Sistem sedimentasi bioflok harus dirancang dengan filosofi yang berbeda dari penjernihan air biasa. Pada bioflok, flok masih memiliki fungsi biologis. Karena itu, targetnya bukan menghilangkan semua padatan, tetapi menjaga padatan dalam rentang yang produktif dan aman.

Kesimpulan akhir desain:

SwirlerIPC\boxed{Swirler \rightarrow IPC}

Dengan fungsi:

Swirler=pre-settler+sludge concentratorSwirler = pre\text{-}settler + sludge\ concentrator
IPC=polishing clarifier+fine floc settlingIPC = polishing\ clarifier + fine\ floc\ settling

Untuk kapasitas:

Q=20 L/menitQ = 20\ L/menit

paket desain yang direkomendasikan adalah:

TahapUnitFungsiUkuran utama
1SwirlerPadatan kasar dan lumpur awal302 L302\ L, D=800 mmD = 800\ mm, HRT=15.1 menitHRT = 15.1\ menit
2IPCPolishing flok ringan863 L863\ L, AIPC=2.43 m2A_{IPC} = 2.43\ m^2, HRT=43.2 menitHRT = 43.2\ menit

Total sistem:

Vtotal=1165 LV_{total} = 1165\ L
HRTtotal=58.25 menitHRT_{total} = 58.25\ menit
Atotal=1.635 m2A_{total} = 1.635\ m^2

Dengan ruang servis:

Ainstalasi2.02.2 m2A_{instalasi} \approx 2.0-2.2\ m^2

Kalimat kunci untuk praktisi:

Jangan mengejar air terlalu jernih; kejar TSS terkendali, DO stabil, dan respons makan baik.Jangan\ mengejar\ air\ terlalu\ jernih;\ kejar\ TSS\ terkendali,\ DO\ stabil,\ dan\ respons\ makan\ baik.

Kembali ke Atas


Lampiran A. Batas BFV Operasional agar Sedimentasi Tetap Mendukung Sistem BFT

Lampiran ini melengkapi artikel utama tentang sedimentasi bioflok. Jika artikel utama menjelaskan cara membuang padatan, lampiran ini menjelaskan berapa banyak padatan yang boleh dipertahankan agar sistem tetap bekerja sebagai biofloc technology / BFT, bukan berubah menjadi sistem terlalu kotor atau terlalu bersih.

Dalam konteks praktisi, BFV tidak boleh dilihat sebagai angka laboratorium saja. BFV memengaruhi biaya pakan, FCR, SGR, kebutuhan aerasi, stabilitas kualitas air, risiko stres insang, dan frekuensi pembuangan lumpur.


A.1 Kenapa BFV Harus Dibatasi?

BFV / biofloc volume adalah volume flok yang mengendap dari sampel air, biasanya memakai Imhoff cone, dengan satuan:

mL/LmL/L

Hargreaves menjelaskan bahwa settleable solids diukur dari volume padatan yang mengendap dari 1 L1\ L air sistem, dan waktu pembacaan perlu distandarkan, biasanya 10102020 menit. Jadi, hasil BFV hanya valid dibandingkan bila metode dan waktu sedimentasinya sama.

Secara bisnis, BFV harus dibatasi karena ada dua sisi ekstrem:

Rendering diagram...

Bila BFV terlalu rendah, kontribusi bioflok sebagai pakan tambahan dan buffer biologis berkurang. Bila BFV terlalu tinggi, mikroba dan bahan organik meningkatkan kebutuhan oksigen, memperberat aerasi, meningkatkan risiko penyumbatan insang, dan dapat menekan feed intake. CIBA menyebut kelebihan settleable solids dan TSS dapat menciptakan oxygen demand, gill occlusion, dan stres pada organisme budidaya.

Dari sisi biaya, hubungan paling sederhana adalah:

Biaya pakan per kg biomassa=FCR×Harga pakan per kgBiaya\ pakan\ per\ kg\ biomassa = FCR \times Harga\ pakan\ per\ kg

Jika FCR naik dari 1.201.20 menjadi 1.351.35, dan harga pakan Rp12,000/kgRp12{,}000/kg, maka tambahan biaya pakan per kg biomassa adalah:

ΔBiaya=(1.351.20)×12,000\Delta Biaya = (1.35 - 1.20) \times 12{,}000
ΔBiaya=Rp1,800/kg biomassa\Delta Biaya = Rp1{,}800/kg\ biomassa

Jadi, BFV yang tidak terkendali bukan hanya masalah kualitas air, tetapi langsung masuk ke biaya produksi.


A.2 Batasan BFV Valid Berdasarkan Komoditas dan Fase Budidaya

Tidak ada satu angka BFV yang berlaku untuk semua komoditas. Udang, nila, dan lele memiliki toleransi berbeda. Selain itu, fase benih biasanya lebih sensitif dibanding fase pembesaran.

A.2.1 Udang Vannamei / Shrimp BFT

Untuk udang, target BFV umumnya lebih rendah dibanding nila atau lele. Hargreaves menyebut target settleable solids pada kolam udang bioflok berlapis sekitar 101015 mL/L15\ mL/L. CIBA juga mencantumkan settling solids ideal untuk shrimp sebesar 101015 mL/L15\ mL/L.

Rekomendasi operasional:

Fase udangBFV targetStatusTindakan
Nursery awal338 mL/L8\ mL/Lkonservatifpertahankan flok rendah–sedang
Nursery lanjut5510 mL/L10\ mL/Lamanoperasi sedimentasi minimal
Grow-out BFT101015 mL/L15\ mL/Loptimum umumpertahankan
Waspada151520 mL/L20\ mL/Lmulai berataktifkan sedimentasi periodik
Berlebih>20 mL/L>20\ mL/Lrisiko tinggijalankan swirler + IPC lebih intensif

Rumus keputusan:

BFVudang,target=1015 mL/LBFV_{udang,target} = 10-15\ mL/L
BFVudang>15 mL/Lmulai tingkatkan sedimentasiBFV_{udang} > 15\ mL/L \Rightarrow mulai\ tingkatkan\ sedimentasi
BFVudang>20 mL/Lremoval padatan perlu dipercepatBFV_{udang} > 20\ mL/L \Rightarrow removal\ padatan\ perlu\ dipercepat

Untuk fase kecil, batas bawah lebih aman karena insang dan toleransi stres lebih sensitif. Rujukan terbaru juga menyebut bahwa floc volume tinggi dapat menurunkan oksigen tersedia dan berisiko menyumbat insang; beberapa penulis menyarankan kisaran 5515 mL/L15\ mL/L untuk shrimp. (Springer)


A.2.2 Nila / Tilapia BFT

Nila lebih toleran terhadap BFV lebih tinggi dan dapat memanfaatkan flok secara baik. Hargreaves menyebut settleable solids 252550 mL/L50\ mL/L memberi fungsi yang baik pada sistem bioflok tilapia, dan CIBA juga mencantumkan 252550 mL/L50\ mL/L untuk tilapia.

Untuk tilapia fingerlings, rujukan lain menyebut rekomendasi volume bioflok yang diukur dengan Imhoff cone berada pada 5520 mL/L20\ mL/L. (ScienceDirect)

Rekomendasi operasional:

Fase nilaBFV targetStatusTindakan
Fry / benih kecil3310 mL/L10\ mL/Lkonservatifjangan biarkan terlalu pekat
Fingerling5520 mL/L20\ mL/Lamankontrol ringan
Juvenile151530 mL/L30\ mL/Ltransisimonitor DO dan TSS
Grow-out252550 mL/L50\ mL/Loptimum umumpertahankan
Berlebih>50 mL/L>50\ mL/Lrisiko kualitas airtingkatkan sludge removal

Rumus keputusan:

BFVnila,fingerling=520 mL/LBFV_{nila,fingerling} = 5-20\ mL/L
BFVnila,growout=2550 mL/LBFV_{nila,growout} = 25-50\ mL/L
BFVnila>50 mL/Ltingkatkan sedimentasiBFV_{nila} > 50\ mL/L \Rightarrow tingkatkan\ sedimentasi

Untuk pembesaran nila, BFV 252550 mL/L50\ mL/L masih dapat mendukung fungsi BFT, tetapi tetap harus dikaitkan dengan DO, TSS, pH, TAN, nitrit, dan respons makan.


A.2.3 Lele / African Catfish / Clarias BFT

Untuk lele, rujukan batas BFV tidak sekuat udang dan nila karena standar operasionalnya lebih bervariasi. Namun ada studi pada Clarias gariepinus yang menguji floc volume density 20204040, 40406060, 60608080, dan 8080100 mL/L100\ mL/L. Studi tersebut melaporkan bahwa 606080 mL/L80\ mL/L lebih sesuai untuk kultur lele bioflok; FCR terbaik berada pada 606080 mL/L80\ mL/L, sedangkan 8080100 mL/L100\ mL/L menunjukkan SGR lebih rendah. (ResearchGate)

Rekomendasi operasional yang lebih aman untuk praktisi:

Fase leleBFV targetStatusTindakan
Benih awal101025 mL/L25\ mL/Lkonservatifhindari flok pekat
Benih lanjut / pendederan202040 mL/L40\ mL/Lamankontrol ringan
Pembesaran awal404060 mL/L60\ mL/Lproduktifmonitor DO
Pembesaran intensif606080 mL/L80\ mL/Loptimum berdasarkan studi Clariaspertahankan bila DO stabil
Berlebih>80 mL/L>80\ mL/Lmulai berisikotingkatkan sedimentasi
Sangat berlebih>100 mL/L>100\ mL/Lrisiko SGR turunlakukan removal kuat terkendali

Rumus keputusan:

BFVlele,pembesaran=6080 mL/LBFV_{lele,pembesaran} = 60-80\ mL/L
BFVlele>80 mL/Lmulai tingkatkan sludge removalBFV_{lele} > 80\ mL/L \Rightarrow mulai\ tingkatkan\ sludge\ removal
BFVlele>100 mL/Lrisiko performa meningkatBFV_{lele} > 100\ mL/L \Rightarrow risiko\ performa\ meningkat

Catatan penting: lele memang lebih tahan terhadap kualitas air berat dibanding beberapa komoditas lain, tetapi itu bukan alasan membiarkan BFV terlalu tinggi. Studi Clarias tersebut menunjukkan FVD 8080100 mL/L100\ mL/L memiliki SGR lebih rendah, diduga terkait DO yang lebih rendah pada perlakuan tersebut. (ResearchGate)


A.2.4 Ringkasan Batas BFV Praktis

Komoditas / faseBFV targetBatas mulai tindakanCatatan
Udang nursery awal338 mL/L8\ mL/L>10 mL/L>10\ mL/Lkonservatif
Udang grow-out BFT101015 mL/L15\ mL/L>15>1520 mL/L20\ mL/Lrujukan kuat
Nila fingerling5520 mL/L20\ mL/L>20>2025 mL/L25\ mL/Lfase kecil
Nila grow-out252550 mL/L50\ mL/L>50 mL/L>50\ mL/Lrujukan kuat
Lele benih101040 mL/L40\ mL/L>40>4060 mL/L60\ mL/Lkonservatif
Lele pembesaran606080 mL/L80\ mL/L>80 mL/L>80\ mL/Lberbasis studi Clarias
Lele risiko tinggi>100 mL/L>100\ mL/Lwajib removalSGR berpotensi turun

A.3 BFV, Kualitas Air, dan Kesehatan Ikan/Udang

BFV harus dibaca bersama kualitas air. Jika BFV berada dalam target tetapi DO rendah, sistem tetap tidak sehat. Jika BFV tinggi tetapi DO masih stabil, tindakan tetap perlu disiapkan karena risiko dapat muncul setelah feeding, malam hari, atau saat aerasi terganggu.

CIBA memberi acuan praktis kualitas air BFT: DO >5 ppm>5\ ppm, pH 778.58.5, alkalinitas 100100150 ppm150\ ppm, settling solids 101015 mL/L15\ mL/L untuk shrimp, 252550 mL/L50\ mL/L untuk tilapia, dan TSS 250250450 ppm450\ ppm. CIBA juga menekankan bahwa kelebihan SS dan TSS meningkatkan oxygen demand, gill occlusion, dan stres.

ParameterTarget praktis BFTRisiko bila buruk
DO>5 mg/L>5\ mg/Lfeed intake turun, stres, mortalitas
pH778.58.5proses mikroba terganggu
Alkalinitas100100150 mg/L as CaCO3150\ mg/L\ as\ CaCO_3nitrifikasi dan stabilitas pH melemah
TANserendah mungkin; acuan praktis <1.5 mg/L<1.5\ mg/Ltoksisitas amonia
Nitritserendah mungkin; acuan praktis <2 mg/L<2\ mg/L sebagai NO2NNO_2-Nstres osmoregulasi dan darah
TSS250250450 mg/L450\ mg/Linsang, DO, dan sludge load
BFV udang101015 mL/L15\ mL/Lbila tinggi: insang dan DO
BFV nila grow-out252550 mL/L50\ mL/Lbila tinggi: DO dan feeding
BFV lele grow-out606080 mL/L80\ mL/Lbila tinggi: DO dan SGR

Hubungan BFV dengan kesehatan dapat diringkas:

Rendering diagram...

BFV yang tinggi tidak selalu langsung mematikan, tetapi menurunkan margin keamanan. Sistem menjadi sangat bergantung pada aerasi. Jika listrik turun, diffuser tersumbat, blower melemah, atau feeding terlalu tinggi, kolam dapat cepat masuk zona stres.


A.4 Integrasi BFV dengan Sistem Pengendapan / Sedimentasi

Sistem sedimentasi dalam artikel ini tidak boleh dioperasikan untuk membuat BFV mendekati nol. Fungsinya adalah menjaga BFV dalam zona target.

Konfigurasi yang direkomendasikan:

Kolam bioflokSwirlerIPCKolamKolam\ bioflok \rightarrow Swirler \rightarrow IPC \rightarrow Kolam

Dengan fungsi:

Swirler=menangkap flok kasar+feses+sisa pakanSwirler = menangkap\ flok\ kasar + feses + sisa\ pakan
IPC=menangkap flok ringan+polishing padatan tersuspensiIPC = menangkap\ flok\ ringan + polishing\ padatan\ tersuspensi

A.4.1 Rule Operasi Berdasarkan BFV Udang

BFV udangStatusAksi sedimentasi
<5 mL/L<5\ mL/Lterlalu rendahhentikan removal, pertahankan flok
5510 mL/L10\ mL/Laman konservatifstandby / operasi pendek
101015 mL/L15\ mL/Loptimumoperasi ringan bila perlu
151520 mL/L20\ mL/Lwaspadajalankan swirler + IPC periodik
>20 mL/L>20\ mL/Lberlebihoperasi lebih intensif, drain rutin

A.4.2 Rule Operasi Berdasarkan BFV Nila

BFV nilaStatusAksi sedimentasi
<5 mL/L<5\ mL/Lterlalu rendahjangan buang flok; cek TAN dan C/N
5520 mL/L20\ mL/Lcocok fingerlingoperasi minimal
202050 mL/L50\ mL/Lnormal pembesaranoperasi sesuai DO/TSS
>50 mL/L>50\ mL/Lberlebihtingkatkan sludge removal
>60 mL/L>60\ mL/Lrisiko meningkatcek DO pagi dan kondisi insang

A.4.3 Rule Operasi Berdasarkan BFV Lele

BFV leleStatusAksi sedimentasi
<20 mL/L<20\ mL/Lrendah untuk pembesaranjangan agresif membuang flok
202040 mL/L40\ mL/Laman untuk benih/pendederanoperasi ringan
404060 mL/L60\ mL/Lbaik untuk pembesaran awalmonitor DO
606080 mL/L80\ mL/Ltarget pembesaran intensifpertahankan
>80 mL/L>80\ mL/Lwaspadatingkatkan drain dan sedimentasi
>100 mL/L>100\ mL/Lberlebihremoval kuat terkendali

A.4.4 Diagram Integrasi BFV dan Sedimentasi

Rendering diagram...

A.5 Formula BFV Removal

Formula ini membantu praktisi memperkirakan seberapa besar settleable solids yang perlu dikurangi. Ini bukan pengganti pengukuran TSS, tetapi cukup berguna untuk membaca skala masalah.

A.5.1 Selisih BFV

Jika BFV awal adalah BFV1BFV_1 dan target adalah BFV2BFV_2, maka:

ΔBFV=BFV1BFV2\Delta BFV = BFV_1 - BFV_2

Keterangan:

  • ΔBFV\Delta BFV = selisih BFV yang perlu dikurangi;
  • BFV1BFV_1 = BFV aktual;
  • BFV2BFV_2 = BFV target.

A.5.2 Volume Settleable Solids Ekuivalen

Jika volume kolam adalah VkV_k dalam liter, maka volume settleable solids ekuivalen yang perlu dikurangi:

VSS=ΔBFV×VkV_{SS} = \Delta BFV \times V_k

Karena BFVBFV memakai satuan mL/LmL/L, maka VSSV_{SS} keluar dalam mLmL.

Konversi ke liter:

VSS,L=VSS1000V_{SS,L} = \frac{V_{SS}}{1000}

A.5.3 Contoh Udang

Volume kolam:

Vk=10 m3=10,000 LV_k = 10\ m^3 = 10{,}000\ L

BFV aktual:

BFV1=20 mL/LBFV_1 = 20\ mL/L

Target:

BFV2=15 mL/LBFV_2 = 15\ mL/L

Selisih:

ΔBFV=2015\Delta BFV = 20 - 15
ΔBFV=5 mL/L\Delta BFV = 5\ mL/L

Volume settleable solids ekuivalen:

VSS=5×10,000V_{SS} = 5 \times 10{,}000
VSS=50,000 mLV_{SS} = 50{,}000\ mL
VSS,L=50 LV_{SS,L} = 50\ L

Artinya, secara ekuivalen kolam membawa kelebihan settleable solids sekitar:

50 L50\ L

Namun, bukan berarti operator cukup membuang tepat 50 L50\ L lumpur dari drain. Lumpur drain dari swirler atau IPC biasanya lebih pekat daripada sampel kolam, sehingga volume aktual drain bisa lebih kecil atau lebih besar tergantung konsentrasi lumpur.

A.5.4 Estimasi Waktu Operasi Sedimentasi

Jika sistem swirler + IPC memiliki debit:

Qtreatment=20 L/menitQ_{treatment} = 20\ L/menit

dan kolam:

Vk=10,000 LV_k = 10{,}000\ L

Maka persentase volume kolam yang diproses per jam:

Volah,jam=20×60V_{olah,jam} = 20 \times 60
Volah,jam=1,200 L/jamV_{olah,jam} = 1{,}200\ L/jam
Persentase olah=1,20010,000×100Persentase\ olah = \frac{1{,}200}{10{,}000} \times 100%
Persentase olah=12Persentase\ olah = 12%/jam

Jika BFV naik sedang, operasi 1122 jam dapat cukup sebagai koreksi ringan. Jika BFV sangat tinggi, operasi perlu lebih lama tetapi tetap dipantau agar flok tidak turun di bawah target.

A.5.5 Formula Penurunan BFV Aktual

Setelah operasi, ukur kembali BFV:

BFVbeforeBFV_{before}

dan:

BFVafterBFV_{after}

Penurunan BFV:

RemovalBFV=BFVbeforeBFVafterBFVbefore×100Removal_{BFV} = \frac{BFV_{before} - BFV_{after}}{BFV_{before}} \times 100%

Contoh:

BFVbefore=20 mL/LBFV_{before} = 20\ mL/L
BFVafter=15 mL/LBFV_{after} = 15\ mL/L
RemovalBFV=201520×100Removal_{BFV} = \frac{20 - 15}{20} \times 100%
RemovalBFV=25Removal_{BFV} = 25%

A.6 Integrasi BFV dengan FCR, SGR, dan Keputusan Bisnis

BFV perlu dimasukkan ke log produksi bersama FCR, SGR, SR, dan biaya aerasi. Tanpa pencatatan, operator tidak tahu apakah sedimentasi meningkatkan profit atau hanya membuat air terlihat lebih bersih.

A.6.1 Formula FCR

FCR=Total pakan diberikanPertambahan biomassaFCR = \frac{Total\ pakan\ diberikan}{Pertambahan\ biomassa}

Semakin rendah FCR, semakin efisien pakan digunakan.

A.6.2 Formula SGR

SGR=lnWtlnW0t×100SGR = \frac{\ln W_t - \ln W_0}{t} \times 100%

Keterangan:

  • WtW_t = bobot akhir;
  • W0W_0 = bobot awal;
  • tt = lama pemeliharaan dalam hari.

A.6.3 Formula Survival Rate

SR=NtN0×100SR = \frac{N_t}{N_0} \times 100%

Keterangan:

  • NtN_t = jumlah akhir;
  • N0N_0 = jumlah awal.

A.6.4 Hubungan BFV dengan Indikator Bisnis

Kondisi BFVDampak teknisDampak bisnis
Terlalu rendahbioflok kurang sebagai pakan alamiFCR bisa kurang efisien
Optimumkualitas air stabil, flok tersediaFCR dan SGR lebih stabil
Terlalu tinggiDO turun, insang terganggu, feed intake turunFCR naik, SGR turun, risiko mortalitas
Sangat tinggiaerasi berat, sludge anaerobbiaya listrik naik, risiko gagal panen

Pada lele, studi Clarias menunjukkan FVD 606080 mL/L80\ mL/L memberi FCR lebih baik dibanding perlakuan lain, sedangkan 8080100 mL/L100\ mL/L menunjukkan SGR lebih rendah. Ini memperlihatkan bahwa BFV tinggi tidak selalu berarti lebih baik; ada batas optimum yang berkaitan dengan oksigen dan metabolisme. (ResearchGate)


A.7 SOP Monitoring BFV

A.7.1 Frekuensi Pengukuran

Kondisi sistemFrekuensi BFV
Startup biofloksetiap hari
Sistem stabil2233 kali/minggu
Padat tebar tinggisetiap hari
Setelah perubahan pakansetiap hari selama 3355 hari
Setelah sedimentasi kuatukur sebelum dan sesudah
Saat DO turunukur segera

A.7.2 Cara Pengukuran

  1. Ambil sampel air dari titik representatif, bukan tepat di dekat aerator atau drain.
  2. Homogenkan sampel.
  3. Masukkan 1 L1\ L ke Imhoff cone.
  4. Diamkan dengan waktu standar.
  5. Catat volume endapan dalam mL/LmL/L.
  6. Gunakan waktu yang sama setiap pengukuran.

Jika memakai pembacaan 2020 menit, tulis sebagai:

BFV20BFV_{20}

Jika memakai pembacaan 3030 menit, tulis sebagai:

BFV30BFV_{30}

Jangan mencampur data BFV20BFV_{20} dan BFV30BFV_{30} tanpa catatan, karena hasilnya tidak sebanding.


A.8 Rekomendasi Praktis untuk Artikel Utama

Tambahkan kalimat ini dalam artikel utama:

Sistem swirler + IPC tidak dirancang untuk menghilangkan seluruh bioflok, tetapi untuk menjaga BFV dalam zona operasi komoditas. Untuk udang, target umum adalah 101015 mL/L15\ mL/L; untuk nila grow-out 252550 mL/L50\ mL/L; sedangkan untuk lele pembesaran intensif, studi Clarias menunjukkan 606080 mL/L80\ mL/L lebih sesuai dibanding level yang lebih tinggi.

Tambahkan juga keputusan operasi berikut:

Rendering diagram...

A.9 Kesimpulan Lampiran A

BFV adalah batas operasi utama agar sedimentasi tetap mendukung BFT. Angka BFV yang terlalu rendah mengurangi manfaat bioflok sebagai pakan alami dan sistem mikroba. Angka yang terlalu tinggi meningkatkan oxygen demand, risiko gill occlusion, stres, FCR buruk, SGR turun, dan biaya aerasi meningkat.

Batas praktis yang direkomendasikan:

KomoditasFaseBFV target
Udangnursery3310 mL/L10\ mL/L
Udanggrow-out BFT101015 mL/L15\ mL/L
Nilafingerling5520 mL/L20\ mL/L
Nilagrow-out252550 mL/L50\ mL/L
Lelebenih/pendederan101040 mL/L40\ mL/L
Lelepembesaran606080 mL/L80\ mL/L

Prinsip akhirnya:

Swirler+IPC=sistem kontrol BFV, bukan sistem penghapus seluruh flokSwirler + IPC = sistem\ kontrol\ BFV,\ bukan\ sistem\ penghapus\ seluruh\ flok

dan:

BFV optimum=flok cukup untuk fungsi BFT, tetapi tidak berlebih sampai menekan DO, FCR, SGR, dan kesehatan ikan/udangBFV\ optimum = flok\ cukup\ untuk\ fungsi\ BFT,\ tetapi\ tidak\ berlebih\ sampai\ menekan\ DO,\ FCR,\ SGR,\ dan\ kesehatan\ ikan/udang

Kembali ke Atas


Catatan Penyusunan Artikel ini disusun sebagai materi edukasi dan referensi umum berdasarkan berbagai sumber pustaka, praktik lapangan, serta bantuan alat penulisan. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi lanjutan dan penyesuaian sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing sistem.