Published on

Isolasi Mikroba Lokal untuk PGPM dan Agen Pengendali Hayati (APH)

Authors

Isolasi Mikroba Lokal untuk PGPM dan Agen Pengendali Hayati APH

Panduan Praktis dari Pengambilan Sampel, Pemurnian Isolat, Uji Fungsi, hingga Pembuatan Media



BAB 1. PENGANTAR

Mikroba lokal merupakan salah satu sumber daya hayati penting dalam pertanian. Mikroba ini dapat ditemukan pada tanah rizosfer, akar tanaman sehat, kompos matang, serasah sehat, serta lingkungan pertanian yang produktif. Dari sumber-sumber tersebut, sebagian mikroba berpotensi dikembangkan sebagai PGPM dan APH.

PGPM adalah singkatan dari Plant Growth Promoting Microorganisms, yaitu mikroba pemacu pertumbuhan tanaman. Mikroba kelompok ini dapat membantu tanaman melalui berbagai mekanisme, seperti melarutkan unsur hara, menghasilkan senyawa pemacu pertumbuhan, mendukung perkembangan akar, atau meningkatkan vigor tanaman.

APH adalah singkatan dari Agen Pengendali Hayati, yaitu mikroba yang berpotensi membantu menekan patogen penyebab penyakit tanaman. Kelompok ini dapat bekerja melalui kompetisi ruang dan nutrisi, antibiosis, parasitisme terhadap patogen, atau membantu meningkatkan ketahanan tanaman.

Dalam praktik pertanian modern, penggunaan PGPM dan APH menjadi semakin penting karena keduanya dapat mendukung sistem budidaya yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan. Namun, mikroba lokal tidak dapat langsung digunakan begitu saja. Sampel dari lapangan selalu mengandung campuran berbagai mikroba. Di dalamnya bisa terdapat mikroba bermanfaat, mikroba netral, mikroba pembusuk, bahkan mikroba yang tidak diinginkan.

Oleh karena itu, diperlukan prosedur isolasi yang sistematis agar mikroba yang diperoleh dapat dipisahkan, dimurnikan, diuji, disimpan, dan diseleksi dengan baik. Tulisan ini disusun sebagai panduan praktis untuk mengarahkan proses tersebut secara bertahap.


1.1 Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan memberikan panduan kerja yang runtut untuk:

  1. Mengambil sampel mikroba lokal dari sumber yang aman.
  2. Mengisolasi mikroba calon PGPM dan APH.
  3. Memurnikan koloni mikroba menjadi isolat.
  4. Menguji fungsi awal isolat sebagai pemacu pertumbuhan atau pengendali hayati.
  5. Menyimpan isolat agar tetap tertata dan dapat digunakan untuk uji lanjutan.
  6. Menyiapkan media yang diperlukan selama proses isolasi, pemurnian, uji fungsi, dan penyimpanan.

Dengan susunan ini, pembaca dapat memahami proses isolasi bukan sebagai satu langkah tunggal, tetapi sebagai rangkaian kerja yang saling terhubung.


1.2 Ruang Lingkup

Ruang lingkup tulisan ini meliputi dua bagian besar.

A. Prosedur Isolasi Mikroba

Bagian ini terdiri dari delapan tahap utama:

  1. Pengambilan sampel.
  2. Pembuatan suspensi awal.
  3. Pengenceran bertingkat.
  4. Penanaman pada media.
  5. Inkubasi dan pertumbuhan koloni.
  6. Seleksi koloni dan pemurnian.
  7. Uji fungsi PGPM dan APH.
  8. Kode isolat, penyimpanan, dan uji awal.

B. Prosedur Pembuatan Media

Bagian ini menjelaskan media yang digunakan selama proses isolasi dan uji fungsi, antara lain:

  • NaCl steril 0,85%.
  • NA atau Nutrient Agar.
  • TSA atau Tryptic Soy Agar.
  • PDA atau Potato Dextrose Agar.
  • Pikovskaya Agar.
  • NBRIP Agar.
  • Aleksandrov Agar.
  • King’s B Agar.
  • Starch Casein Agar.
  • YMEA.
  • Ashby Mannitol Agar.
  • N-free Malate.
  • CAS Agar.
  • Media agar miring atau slant.

1.3 Alur Besar Proses Isolasi

Secara umum, proses isolasi bergerak dari sampel lapangan menuju isolat kandidat yang siap diuji lebih lanjut. Alurnya dapat digambarkan sebagai berikut.

Rendering diagram...

Diagram tersebut menunjukkan bahwa isolasi mikroba adalah proses bertahap. Setiap tahap menghasilkan bahan atau data yang menjadi dasar bagi tahap berikutnya.


BAB 2. PENDAHULUAN

2.1 Dasar Pemikiran Isolasi Mikroba Lokal

Lahan pertanian yang sehat biasanya memiliki keragaman mikroba yang tinggi. Di sekitar akar tanaman terdapat zona yang disebut rizosfer, yaitu wilayah tanah yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas akar. Pada zona ini, akar tanaman mengeluarkan berbagai senyawa organik yang dapat menjadi sumber energi bagi mikroba.

Karena itu, rizosfer sering menjadi lokasi yang kaya mikroba bermanfaat. Beberapa mikroba dapat membantu tanaman memperoleh unsur hara, sementara yang lain dapat bersaing dengan patogen tanaman. Selain rizosfer, kompos matang dan serasah sehat juga menjadi sumber penting karena mengandung mikroba dekomposer, jamur antagonis, dan bakteri lingkungan yang telah beradaptasi dengan bahan organik.

Namun, tidak semua mikroba dari sumber tersebut otomatis bermanfaat. Prosedur isolasi dibutuhkan agar mikroba yang diperoleh dapat dipisahkan satu per satu, diamati cirinya, diuji fungsinya, dan dipilih yang paling potensial.


2.2 Perbedaan Fokus PGPM dan APH

Walaupun sering berasal dari sumber sampel yang sama, PGPM dan APH memiliki fokus fungsi yang berbeda.

Rendering diagram...

Dalam praktiknya, satu isolat dapat memiliki lebih dari satu fungsi. Misalnya, isolat Bacillus tertentu dapat berperan sebagai PGPM karena mendukung pertumbuhan akar, sekaligus sebagai APH karena mampu menekan jamur patogen tanaman. Karena itu, uji fungsi menjadi tahap penting dalam proses seleksi.


2.3 Mengapa Prosedur Harus Bertahap

Proses isolasi tidak bisa dilakukan secara acak. Setiap tahap memiliki tujuan yang spesifik.

Tahap pengambilan sampel memastikan sumber mikroba berasal dari bahan yang aman dan relevan. Tahap suspensi dan pengenceran bertujuan membuat mikroba tersebar merata dan tidak terlalu padat. Tahap penanaman pada media bertujuan menumbuhkan koloni yang dapat diamati. Tahap pemurnian bertujuan memisahkan mikroba menjadi isolat tunggal. Tahap uji fungsi membuktikan apakah isolat tersebut benar-benar memiliki manfaat.

Alur kerja ini penting karena kualitas isolat akhir sangat bergantung pada ketertiban proses sejak awal.

Rendering diagram...

2.4 Hubungan Tahapan Isolasi dengan Media

Media memiliki peran penting dalam proses isolasi. Setiap media digunakan untuk tujuan yang berbeda. Ada media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri umum, ada media untuk jamur, ada media untuk pelarut fosfat, ada media untuk Pseudomonas, dan ada pula media untuk penyimpanan isolat.

Dengan memahami fungsi media, proses isolasi menjadi lebih terarah. Kita tidak hanya menumbuhkan mikroba, tetapi menumbuhkan mikroba pada media yang sesuai dengan target seleksi.

Rendering diagram...

2.5 Posisi Pembuatan Media dalam Serial Prosedur

Bagian pembuatan media tidak berdiri sendiri. Media disiapkan untuk mendukung seluruh tahapan isolasi. Tanpa media yang sesuai, koloni tidak akan tumbuh dengan baik, fungsi mikroba sulit diamati, dan penyimpanan isolat menjadi tidak stabil.

Secara praktis, media digunakan dalam empat kelompok besar:

  1. Larutan kerja awal, seperti NaCl steril 0,85%.
  2. Media isolasi dan pemurnian, seperti NA, TSA, PDA, Pikovskaya, NBRIP, King’s B, Aleksandrov, dan Starch Casein Agar.
  3. Media uji fungsi, seperti CAS Agar, media IAA, Ashby, N-free Malate, dan PDA untuk uji antagonis.
  4. Media penyimpanan, seperti agar miring atau slant.
Rendering diagram...

2.6 Prinsip Keamanan dan Kelayakan Isolat

Karena isolat berasal dari lingkungan terbuka, semua mikroba yang diperoleh harus diperlakukan sebagai mikroba yang belum diketahui identitas dan sifatnya. Artinya, isolat tidak boleh langsung diaplikasikan ke lahan luas tanpa proses seleksi bertahap.

Sumber sampel harus dipilih dari bahan yang aman, seperti tanah rizosfer, akar sehat, kompos matang, dan serasah sehat. Hindari sumber seperti feses, bangkai, limbah tercemar, air got, atau bahan yang berbau busuk menyengat.

Isolat yang layak dikembangkan harus memenuhi beberapa prinsip:

  • berasal dari sumber aman,
  • dapat dimurnikan,
  • tumbuh stabil,
  • tidak berbau busuk,
  • tidak menurunkan daya kecambah,
  • memiliki fungsi PGPM atau APH yang terukur,
  • dapat disimpan dan ditumbuhkan ulang,
  • serta memberikan hasil positif pada uji awal tanaman.

2.7 Cara Menggunakan Panduan Ini

Panduan ini sebaiknya dibaca secara berurutan.

Pertama, pembaca memahami bagian pengantar dan pendahuluan ini untuk melihat gambaran besar proses isolasi mikroba. Setelah itu, pembaca dapat masuk ke serial utama yang terdiri dari delapan tahap isolasi. Masing-masing tahap menjelaskan tujuan, prinsip, alat, bahan, langkah kerja, kesalahan umum, dan output yang diharapkan.

Setelah delapan tahap selesai, bagian pembuatan media digunakan sebagai rujukan teknis untuk menyiapkan media yang diperlukan. Dengan cara ini, pembaca tidak hanya mengetahui langkah isolasi, tetapi juga memahami peran media dalam setiap fase proses.

Urutan pembacaan yang disarankan adalah sebagai berikut.

Rendering diagram...

2.8 Jembatan Menuju Serial Prosedur

Berdasarkan uraian di atas, proses isolasi mikroba PGPM dan APH dapat dipahami sebagai perjalanan dari sumber mikroba lokal menuju isolat kandidat yang siap diuji lanjut.

Tahap awal berfokus pada pengambilan dan pengenceran sampel. Tahap tengah berfokus pada penumbuhan, pengamatan, seleksi, dan pemurnian koloni. Tahap akhir berfokus pada uji fungsi, penyimpanan, pencatatan, dan uji awal tanaman.

Dengan kerangka tersebut, pembahasan berikutnya dapat langsung masuk ke bagian utama, yaitu:

Tahap 1. Pengambilan Sampel
Tahap 2. Pembuatan Suspensi Awal
Tahap 3. Pengenceran Bertingkat
Tahap 4. Penanaman pada Media
Tahap 5. Inkubasi dan Pertumbuhan Koloni
Tahap 6. Seleksi Koloni dan Pemurnian
Tahap 7. Uji Fungsi PGPM dan APH
Tahap 8. Kode Isolat, Penyimpanan, dan Uji Awal

Setelah delapan tahap tersebut, tulisan kemudian dilanjutkan dengan bagian:

Prosedur Pembuatan Media yang Digunakan dalam Proses Isolasi PGPM dan APH

Tahap 1: Pengambilan Sampel

Tujuan tahap ini

Tahap pertama bertujuan mendapatkan sumber mikroba lokal yang aman, representatif, dan berpeluang memiliki fungsi sebagai PGPM atau APH.

PGPM adalah Plant Growth Promoting Microorganisms, yaitu mikroba pemacu pertumbuhan tanaman. APH adalah Agen Pengendali Hayati, yaitu mikroba yang berpotensi menekan patogen tanaman.

Pada tahap ini, kualitas sampel sangat menentukan keberhasilan isolasi. Sampel yang baik biasanya berasal dari tanaman sehat, akar aktif, tanah rizosfer, kompos matang, atau bahan organik sehat.

tahap-1-isolasi-mikroba

1. Prinsip utama pengambilan sampel

Diagram Tahap 1 — Pengambilan Sampel

Rendering diagram...

Ambil sampel dari lokasi yang memiliki peluang tinggi menyimpan mikroba bermanfaat.

Untuk PGPM, pilih:

  • Tanaman yang tumbuh paling sehat
  • Tanaman dengan akar kuat
  • Tanaman dengan daun hijau, vigor bagus, dan pertumbuhan seragam
  • Lahan yang produktif
  • Area yang tidak terlalu sering memakai pestisida kimia berat

Untuk APH, pilih:

  • Tanaman sehat di lahan yang ada tekanan penyakit
  • Tanaman yang tetap sehat saat tanaman sekitarnya sakit
  • Rizosfer tanaman sehat dekat area serangan penyakit
  • Kompos matang yang stabil dan tidak berbau busuk

Prinsip praktisnya:

PGPM dicari dari tanaman yang tumbuh kuat. APH dicari dari tanaman sehat yang mampu bertahan di lingkungan berpenyakit.


2. Sumber sampel yang disarankan

✓ A. Tanah rizosfer

Rizosfer adalah tanah yang menempel atau berada sangat dekat dengan akar tanaman.

Ini adalah sumber utama untuk isolasi PGPM dan APH karena banyak mikroba aktif hidup di zona akar.

Cara mengambilnya:

  1. Pilih tanaman sehat.
  2. Gali perlahan sampai akar terlihat.
  3. Ambil tanah yang menempel di sekitar akar.
  4. Jangan ambil tanah terlalu jauh dari akar.
  5. Masukkan ke plastik steril atau wadah steril.

Jumlah sampel yang disarankan: 10–20 gram per titik sampel.


✓ B. Akar sehat

Akar sehat dapat menjadi sumber mikroba yang hidup di permukaan akar atau di sekitar jaringan akar.

Pilih akar yang:

  • Tidak busuk
  • Tidak berlendir
  • Tidak berbau
  • Tidak berwarna hitam abnormal
  • Memiliki rambut akar aktif

Ambil potongan akar kecil, sekitar 1–3 cm, lalu simpan dalam plastik steril.


✓ C. Kompos matang

Kompos matang bisa menjadi sumber mikroba dekomposer, Bacillus, Trichoderma, dan mikroba antagonis lainnya.

Ciri kompos matang yang layak:

  • Berbau tanah
  • Tidak panas
  • Tidak berbau amonia tajam
  • Tidak berlendir
  • Warna cokelat gelap sampai hitam
  • Tekstur remah

Jangan ambil kompos yang masih panas, busuk, atau berbau menyengat.


✓ D. Serasah sehat

Serasah adalah daun, ranting kecil, atau bahan organik yang mulai lapuk secara alami.

Pilih serasah yang:

  • Tidak berbau busuk
  • Tidak tercemar limbah
  • Berasal dari kebun sehat
  • Tidak bercampur kotoran hewan

Serasah bisa digunakan untuk mencari jamur dekomposer atau calon APH seperti Trichoderma.


3. Sumber sampel yang harus dihindari

Jangan gunakan sampel dari:

  • Feses
  • Bangkai
  • Limbah rumah tangga
  • Limbah rumah sakit
  • Selokan
  • Air got
  • Sampah busuk
  • Tanah tercemar oli, pestisida berat, atau bahan kimia
  • Bahan yang berbau busuk menyengat

Alasannya: sumber tersebut berisiko membawa mikroba patogen, mikroba pembusuk, atau kontaminan yang tidak aman untuk dikembangkan.


4. Alat yang digunakan

Siapkan:

AlatFungsi
Sarung tanganMengurangi kontaminasi dari tangan
Sendok/spatula sterilMengambil tanah, akar, atau kompos
Plastik steril / zip bag sterilMenyimpan sampel
Marker permanenMemberi kode sampel
Alkohol 70%Membersihkan alat kerja
Tisu steril / kain bersihMembersihkan permukaan alat
Cooler box sederhanaMenjaga sampel tetap sejuk saat transportasi

Bila tidak ada plastik steril laboratorium, gunakan plastik zip baru yang bersih, lalu minimalkan sentuhan bagian dalam plastik.


5. Cara mengambil sampel tanah rizosfer

✓ Langkah kerja

  1. Pilih tanaman sehat.
  2. Bersihkan permukaan tanah dari daun kering berlebih.
  3. Gali tanah perlahan sedalam sekitar 5–15 cm, tergantung jenis tanaman.
  4. Temukan bagian akar aktif.
  5. Ambil tanah yang menempel di akar atau tanah sekitar ±1–5 cm dari akar.
  6. Masukkan sampel ke plastik steril.
  7. Tutup plastik dengan rapat.
  8. Beri label lengkap.

Untuk tanaman kecil seperti cabai, tomat, melon, pakcoy, selada, dan tanaman hortikultura lain, tanah rizosfer biasanya mudah diambil dari area sekitar perakaran aktif.


6. Cara mengambil sampel akar

  1. Pilih akar muda yang sehat.
  2. Potong akar kecil sepanjang 1–3 cm.
  3. Jangan ambil akar yang busuk atau berlendir.
  4. Masukkan ke wadah steril.
  5. Beri label.

Untuk isolasi mikroba dari akar, sebaiknya akar tidak dicuci di lapangan. Pembersihan dilakukan nanti saat proses laboratorium.


7. Cara mengambil sampel kompos matang

  1. Pilih tumpukan kompos yang sudah matang.
  2. Ambil dari bagian tengah, bukan hanya permukaan.
  3. Gunakan sendok atau spatula steril.
  4. Ambil sekitar 10–20 gram.
  5. Masukkan ke plastik steril.
  6. Beri label.

Jika kompos masih panas, jangan digunakan untuk isolasi PGPM atau APH utama. Kompos panas menunjukkan proses dekomposisi belum stabil.


8. Cara mengambil sampel serasah

  1. Pilih serasah dari area kebun sehat.
  2. Ambil daun atau ranting yang mulai lapuk alami.
  3. Hindari bagian yang berbau busuk.
  4. Ambil sekitar 5–10 gram.
  5. Masukkan ke plastik steril.
  6. Beri label.

Serasah cocok untuk mencari mikroba dekomposer dan jamur antagonis tertentu.


9. Sistem pengambilan sampel yang lebih representatif

Untuk satu lahan, jangan hanya ambil dari satu titik.

Gunakan pola sederhana:

  • Ambil dari 5 titik tanaman sehat
  • Setiap titik ambil 10–20 gram
  • Bisa digabung menjadi satu sampel komposit, atau dipisah per titik

Untuk riset atau seleksi isolat yang lebih rapi, lebih baik dipisah per titik agar asal isolat bisa dilacak.

Contoh kode:

Kode sampelArti
RZ-CB-01Rizosfer cabai titik 1
RZ-TM-01Rizosfer tomat titik 1
KP-01Kompos matang sampel 1
SR-01Serasah sampel 1
AK-CB-01Akar cabai titik 1

10. Format label sampel

Setiap sampel wajib diberi label.

Isi label minimal:

Kode sampel     :
Lokasi          :
Tanggal         :
Jenis tanaman   :
Jenis sampel    :
Kondisi tanaman :
Catatan lahan   :

Contoh:

Kode sampel     : RZ-CB-01
Lokasi          : Blok A, kebun cabai
Tanggal         : 12/05/2026
Jenis tanaman   : Cabai
Jenis sampel    : Tanah rizosfer
Kondisi tanaman : Sehat, vigor tinggi
Catatan lahan   : Sekitar tanaman lain ada layu ringan

11. Penyimpanan dan transportasi sampel

Setelah sampel diambil:

  • Simpan di tempat sejuk
  • Hindari sinar matahari langsung
  • Jangan dibiarkan dalam kendaraan panas
  • Jangan ditambah air
  • Jangan dicampur dengan bahan lain
  • Proses secepatnya, idealnya dalam 24 jam

Jika belum langsung diproses, simpan sementara pada suhu sejuk, misalnya dalam cooler box. Jangan dibekukan, karena pembekuan dapat menurunkan viabilitas sebagian mikroba.


12. Kesalahan yang sering terjadi

Kesalahan umum pada tahap pengambilan sampel:

  • Mengambil tanah terlalu jauh dari akar
  • Mengambil sampel dari tanaman sakit parah
  • Sampel tidak diberi label
  • Plastik sampel terbuka terlalu lama
  • Alat tidak steril
  • Sampel terkena panas matahari
  • Sampel dicampur tanpa catatan asal
  • Mengambil kompos yang belum matang
  • Menggunakan sampel dari sumber berisiko seperti feses atau limbah

13. Output dari tahap 1

Hasil akhir dari tahap ini adalah sampel mikroba lokal siap diproses.

Output minimal:

OutputKeterangan
Sampel tanah rizosferSumber utama PGPM dan APH
Sampel akar sehatSumber mikroba akar
Sampel kompos matangSumber dekomposer dan antagonis
Sampel serasah sehatSumber jamur dan dekomposer
Label sampel lengkapAgar asal isolat dapat dilacak
Catatan lapanganMembantu seleksi isolat terbaik

✓ Ringkasan Tahap 1

Pilih tanaman/lahan sehat → ambil tanah rizosfer, akar, kompos matang, atau serasah sehat → gunakan alat steril → hindari sumber berisiko → beri label lengkap → simpan sejuk → segera proses.


Tahap 2: Pembuatan Suspensi Awal

Tujuan tahap ini

Tahap 2 bertujuan memindahkan mikroba dari sampel padat ke dalam larutan steril, sehingga mikroba tersebar merata dan siap diencerkan pada tahap berikutnya.

Sampel seperti tanah rizosfer, akar, kompos, atau serasah masih berbentuk padat. Mikroba di dalamnya menempel pada partikel tanah, permukaan akar, bahan organik, atau serasah. Karena itu, sampel perlu dibuat menjadi suspensi awal.

Suspensi awal adalah campuran antara sampel dan larutan steril yang dikocok sampai mikroba tersebar di dalam cairan.

tahap-2-isolasi-mikroba

1. Prinsip dasar tahap 2

Pada tahap ini digunakan perbandingan:

1 gram sampel + 9 ml larutan NaCl steril 0,85%

Hasilnya disebut pengenceran awal 10⁻¹.

Artinya, sampel sudah diencerkan 10 kali dari kondisi awal.


Diagram Tahap 2 — Pembuatan Suspensi Awal

Rendering diagram...

2. Definisi istilah penting

IstilahArti
NaClNatrium klorida, yaitu garam
NaCl steril 0,85%Larutan garam steril dengan konsentrasi 0,85%
SuspensiCampuran mikroba dalam cairan
HomogenTercampur merata
10⁻¹Pengenceran 1 banding 10
Tabung sterilTabung yang bebas mikroba kontaminan

Catatan penting: NaCl bukan chlorine aktif. NaCl adalah garam. Yang membunuh mikroba adalah chlorine aktif seperti kaporit, pemutih, atau sodium hypochlorite.


3. Bahan yang disiapkan

Untuk setiap sampel, siapkan:

BahanJumlah
Sampel tanah rizosfer / akar / kompos / serasah1 gram
Larutan NaCl steril 0,85%9 ml
Tabung steril1 buah
Pipet steril atau mikropipetSesuai kebutuhan
Spatula/sendok steril1 buah
Label1 buah
Marker permanen1 buah

4. Cara membuat larutan NaCl steril 0,85%

Jika belum tersedia, larutan NaCl 0,85% dapat dibuat dengan rumus:

0,85 gram NaCl + 100 ml aquadest

Atau untuk volume lebih besar:

8,5 gram NaCl + 1 liter aquadest

Langkah membuatnya:

  1. Timbang NaCl sesuai kebutuhan.
  2. Larutkan ke dalam aquadest.
  3. Aduk sampai larut sempurna.
  4. Masukkan ke botol atau tabung.
  5. Sterilkan dengan autoklaf bila tersedia.
  6. Dinginkan sebelum digunakan.

Jika tidak ada autoklaf, gunakan larutan steril siap pakai dari laboratorium atau supplier. Untuk hasil isolasi yang rapi, sebaiknya jangan menggunakan air PAM langsung karena bisa mengandung chlorine.


5. Persiapan sebelum membuat suspensi

Sebelum sampel dimasukkan ke tabung:

  1. Bersihkan meja kerja.
  2. Semprot permukaan kerja dengan alkohol 70%.
  3. Gunakan sarung tangan.
  4. Siapkan tabung berisi 9 ml NaCl steril 0,85%.
  5. Beri label pada tabung.
  6. Pastikan kode tabung sama dengan kode sampel.

Contoh label:

RZ-CB-01 / 10⁻¹

Artinya:

  • RZ = rizosfer
  • CB = cabai
  • 01 = sampel nomor 1
  • 10⁻¹ = suspensi awal

6. Langkah kerja pembuatan suspensi awal

✓ Langkah 1 — Ambil 1 gram sampel

Ambil 1 gram sampel menggunakan spatula atau sendok steril.

Untuk sampel tanah rizosfer:

  • Ambil tanah yang dekat akar.
  • Hindari batu besar, akar kasar, atau sisa bahan yang terlalu besar.
  • Jika ada gumpalan besar, hancurkan perlahan secara steril.

Untuk sampel kompos:

  • Pilih bagian yang remah.
  • Hindari potongan kayu besar.
  • Jangan gunakan kompos yang masih panas atau berbau busuk.

Untuk sampel serasah:

  • Potong kecil-kecil secara steril.
  • Gunakan bagian yang lapuk sehat, bukan yang busuk.

Untuk sampel akar:

  • Potong kecil-kecil sekitar 0,5–1 cm.
  • Gunakan akar sehat, bukan akar busuk.
  • Jika akar masih banyak tanah, tanah yang menempel boleh ikut sebagai sumber mikroba rizosfer.

✓ Langkah 2 — Masukkan ke tabung berisi 9 ml NaCl steril

Masukkan 1 gram sampel ke dalam tabung yang sudah berisi:

9 ml NaCl steril 0,85%

Pastikan sampel masuk ke dalam cairan, bukan menempel di dinding tabung bagian atas.


✓ Langkah 3 — Tutup tabung

Tutup tabung dengan rapat.

Tujuannya:

  • Mencegah kontaminasi dari udara
  • Mencegah larutan tumpah saat dikocok
  • Menjaga kondisi tetap steril

✓ Langkah 4 — Kocok sampai homogen

Kocok tabung selama 30–60 detik.

Jika tersedia alat vortex, gunakan vortex agar campuran lebih merata.

Jika tidak ada vortex, kocok manual dengan gerakan kuat namun hati-hati.

Tujuannya:

  • Melepaskan mikroba dari partikel tanah
  • Menyebarkan mikroba ke dalam larutan
  • Membuat suspensi menjadi lebih merata
  • Menghasilkan pengenceran awal 10⁻¹

7. Hasil akhir tahap 2

Setelah dikocok, isi tabung akan tampak seperti campuran keruh.

Untuk tanah rizosfer, biasanya larutan menjadi cokelat keruh.

Untuk kompos, larutan bisa lebih gelap.

Untuk akar atau serasah, mungkin ada potongan kecil bahan organik di dalam tabung.

Itu normal, selama sampel berasal dari sumber aman dan tidak berbau busuk.

Hasil tahap ini disebut:

Suspensi awal 10⁻¹

8. Fungsi NaCl steril 0,85%

Larutan NaCl steril 0,85% memiliki beberapa fungsi:

FungsiPenjelasan
Menjaga kestabilan sel mikrobaMikroba tidak terlalu stres akibat perbedaan tekanan osmotik
Membantu pelepasan mikrobaMikroba lebih mudah terlepas dari tanah, akar, atau kompos
Membuat sampel mudah diencerkanSuspensi cair lebih mudah dipindahkan dengan pipet
Mengurangi risiko kontaminasiKarena larutan sudah steril
Menjadi dasar pengenceran bertingkatDari 10⁻¹ dilanjutkan ke 10⁻² sampai 10⁻⁶

9. Kenapa harus 1 gram + 9 ml?

Karena kombinasi tersebut menghasilkan pengenceran 1 banding 10.

Perhitungannya:

Total campuran = 1 gram sampel + 9 ml larutan
Total ≈ 10 bagian

Maka:

1 bagian sampel dalam total 10 bagian = 10⁻¹

Itulah sebabnya tahap ini disebut pengenceran awal 10⁻¹.


10. Catatan untuk berbagai jenis sampel

✓ A. Tanah rizosfer

Ini sampel paling umum dan paling mudah diproses.

Gunakan:

1 gram tanah rizosfer + 9 ml NaCl steril 0,85%

Kocok sampai tanah terdispersi merata.


✓ B. Kompos matang

Gunakan kompos matang yang remah.

Jika kompos terlalu kasar:

  1. Pilih bagian halus.
  2. Ambil 1 gram.
  3. Masukkan ke 9 ml NaCl steril.
  4. Kocok kuat.

Kompos biasanya menghasilkan suspensi lebih gelap.


✓ C. Serasah sehat

Untuk serasah:

  1. Potong kecil-kecil.
  2. Timbang 1 gram.
  3. Masukkan ke 9 ml NaCl steril.
  4. Kocok lebih lama, sekitar 1–2 menit.

Karena mikroba sering menempel kuat pada permukaan bahan organik.


✓ D. Akar sehat

Untuk akar:

  1. Potong kecil akar sehat.
  2. Timbang 1 gram.
  3. Masukkan ke 9 ml NaCl steril.
  4. Kocok atau vortex.

Jika targetnya mikroba sekitar akar, tanah yang menempel pada akar masih bisa ikut. Jika targetnya mikroba permukaan akar, gunakan akar yang masih segar dan sehat.


11. Kontrol kebersihan

Pada tahap ini sebaiknya siapkan satu tabung kontrol:

9 ml NaCl steril tanpa sampel

Tabung ini tidak diberi sampel.

Fungsinya untuk mengecek apakah larutan NaCl atau tabung sudah terkontaminasi.

Jika nanti kontrol ikut tumbuh mikroba, berarti ada masalah pada sterilitas larutan, tabung, atau teknik kerja.


12. Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanAkibat
Sampel tidak ditimbang 1 gramKonsentrasi tidak konsisten
Larutan bukan 9 mlPengenceran tidak tepat
Tabung tidak sterilKontaminasi
Sampel tidak dikocokMikroba tidak tersebar merata
Menggunakan air PAM langsungRisiko chlorine dan kontaminan
Tidak memberi labelSampel tertukar
Menggunakan sampel busukRisiko mikroba tidak aman
Mengambil bagian yang terlalu kasarSuspensi sulit homogen

13. Indikator tahap 2 berhasil

Tahap ini dianggap berhasil jika:

  • Tabung sudah berlabel jelas
  • Sampel masuk seluruhnya ke larutan
  • Suspensi tampak merata setelah dikocok
  • Tidak ada bau busuk menyengat
  • Tidak ada kesalahan kode sampel
  • Suspensi siap digunakan untuk pengenceran berikutnya

14. Output tahap 2

Output dari tahap ini adalah:

Tabung suspensi awal 10⁻¹

Contoh pencatatan:

Kode sampelJenis sampelLarutanStatus
RZ-CB-01Rizosfer cabaiNaCl steril 0,85%Suspensi 10⁻¹ siap
KP-01Kompos matangNaCl steril 0,85%Suspensi 10⁻¹ siap
AK-TM-01Akar tomat sehatNaCl steril 0,85%Suspensi 10⁻¹ siap

✓ Ringkasan Tahap 2

Ambil 1 gram sampel → masukkan ke 9 ml NaCl steril 0,85% → tutup tabung → kocok 30–60 detik sampai homogen → hasilnya adalah suspensi awal 10⁻¹.


Tahap 3: Pengenceran Bertingkat

✓ Tujuan tahap ini

Tahap 3 bertujuan menurunkan jumlah mikroba secara bertahap agar saat ditanam pada media agar, koloni tidak tumbuh terlalu padat dan dapat dipisahkan satu per satu.

Pada tahap sebelumnya, kita sudah punya suspensi awal 10⁻¹, yaitu:

1 gram sampel + 9 ml NaCl steril 0,85%

Suspensi 10⁻¹ ini masih mengandung mikroba dalam jumlah sangat banyak. Jika langsung ditanam ke media agar, kemungkinan besar koloni akan tumbuh menumpuk dan sulit dipilih. Karena itu perlu dibuat pengenceran lanjutan sampai 10⁻⁶.

tahap-3-isolasi-mikroba

1. Prinsip pengenceran bertingkat

Pengenceran bertingkat dilakukan dengan pola:

1 ml suspensi sebelumnya + 9 ml NaCl steril 0,85%

Setiap perpindahan akan menurunkan kepadatan mikroba 10 kali lipat.

Contoh:

10⁻¹ → 10⁻² → 10⁻³ → 10⁻⁴ → 10⁻⁵ → 10⁻⁶

Artinya, semakin besar angka pangkat negatifnya, semakin encer jumlah mikroba di dalam larutan.


Diagram Tahap 3 — Pengenceran Bertingkat

Rendering diagram...

2. Definisi sederhana

IstilahArti
10⁻¹Pengenceran 1 banding 10
10⁻²Pengenceran 1 banding 100
10⁻³Pengenceran 1 banding 1.000
10⁻⁴Pengenceran 1 banding 10.000
10⁻⁵Pengenceran 1 banding 100.000
10⁻⁶Pengenceran 1 banding 1.000.000

Semakin encer, koloni yang tumbuh di media agar akan semakin sedikit dan lebih mudah dipisahkan.


3. Alat dan bahan

Siapkan untuk setiap sampel:

Alat/BahanJumlah
Suspensi awal 10⁻¹1 tabung
Tabung steril5 tabung
NaCl steril 0,85%9 ml per tabung
Pipet steril / mikropipetSesuai kebutuhan
Tips pipet sterilBeberapa buah
Rak tabung1 buah
Marker permanen1 buah
Alkohol 70%Untuk menjaga kebersihan area kerja

Karena tabung 10⁻¹ sudah dibuat pada tahap 2, pada tahap ini kita menyiapkan tabung tambahan untuk:

10⁻²
10⁻³
10⁻⁴
10⁻⁵
10⁻⁶

4. Persiapan tabung

Siapkan 5 tabung steril, masing-masing diisi:

9 ml NaCl steril 0,85%

Lalu beri label:

10⁻²
10⁻³
10⁻⁴
10⁻⁵
10⁻⁶

Jika sampelnya banyak, label harus lebih lengkap.

Contoh:

RZ-CB-01 / 10⁻²
RZ-CB-01 / 10⁻³
RZ-CB-01 / 10⁻⁴
RZ-CB-01 / 10⁻⁵
RZ-CB-01 / 10⁻⁶

Jangan hanya menulis angka pengenceran tanpa kode sampel, karena tabung mudah tertukar.


5. Langkah kerja pengenceran bertingkat

✓ Langkah 1 — Homogenkan tabung 10⁻¹

Sebelum diambil, kocok dulu tabung 10⁻¹ selama beberapa detik.

Tujuannya agar mikroba tersebar merata di dalam larutan.

Jangan mengambil cairan dari tabung yang belum dikocok, karena mikroba bisa mengendap bersama partikel tanah.


✓ Langkah 2 — Buat pengenceran 10⁻²

Ambil:

1 ml dari tabung 10⁻¹

Masukkan ke tabung baru berisi:

9 ml NaCl steril 0,85%

Kocok sampai homogen.

Hasilnya adalah:

Pengenceran 10⁻²

✓ Langkah 3 — Buat pengenceran 10⁻³

Kocok dulu tabung 10⁻².

Ambil:

1 ml dari tabung 10⁻²

Masukkan ke tabung baru berisi:

9 ml NaCl steril 0,85%

Kocok sampai homogen.

Hasilnya adalah:

Pengenceran 10⁻³

✓ Langkah 4 — Buat pengenceran 10⁻⁴

Kocok dulu tabung 10⁻³.

Ambil:

1 ml dari tabung 10⁻³

Masukkan ke tabung baru berisi:

9 ml NaCl steril 0,85%

Kocok sampai homogen.

Hasilnya adalah:

Pengenceran 10⁻⁴

✓ Langkah 5 — Buat pengenceran 10⁻⁵

Kocok dulu tabung 10⁻⁴.

Ambil:

1 ml dari tabung 10⁻⁴

Masukkan ke tabung baru berisi:

9 ml NaCl steril 0,85%

Kocok sampai homogen.

Hasilnya adalah:

Pengenceran 10⁻⁵

✓ Langkah 6 — Buat pengenceran 10⁻⁶

Kocok dulu tabung 10⁻⁵.

Ambil:

1 ml dari tabung 10⁻⁵

Masukkan ke tabung baru berisi:

9 ml NaCl steril 0,85%

Kocok sampai homogen.

Hasilnya adalah:

Pengenceran 10⁻⁶

6. Ringkasan dalam tabel

TabungCara membuatHasil
10⁻¹1 g sampel + 9 ml NaCl sterilSuspensi awal
10⁻²1 ml dari 10⁻¹ + 9 ml NaCl steril100 kali lebih encer dari sampel awal
10⁻³1 ml dari 10⁻² + 9 ml NaCl steril1.000 kali lebih encer
10⁻⁴1 ml dari 10⁻³ + 9 ml NaCl steril10.000 kali lebih encer
10⁻⁵1 ml dari 10⁻⁴ + 9 ml NaCl steril100.000 kali lebih encer
10⁻⁶1 ml dari 10⁻⁵ + 9 ml NaCl steril1.000.000 kali lebih encer

7. Diagram alur sederhana

10⁻¹
  ↓ ambil 1 ml + 9 ml NaCl steril
10⁻²
  ↓ ambil 1 ml + 9 ml NaCl steril
10⁻³
  ↓ ambil 1 ml + 9 ml NaCl steril
10⁻⁴
  ↓ ambil 1 ml + 9 ml NaCl steril
10⁻⁵
  ↓ ambil 1 ml + 9 ml NaCl steril
10⁻⁶

Setiap tahap wajib dikocok sebelum dipindahkan ke tabung berikutnya.


8. Mengapa harus dikocok setiap tahap?

Mikroba tidak selalu tersebar merata. Sebagian bisa menempel pada partikel kecil, sebagian bisa mengendap, dan sebagian berada di permukaan cairan.

Jika tabung tidak dikocok:

  • Jumlah mikroba yang terambil bisa tidak akurat
  • Hasil pengenceran tidak konsisten
  • Koloni yang tumbuh bisa terlalu padat atau terlalu sedikit
  • Perbandingan antar isolat menjadi kurang valid

Karena itu, aturan pentingnya:

Kocok dulu → ambil 1 ml → pindahkan → kocok lagi

9. Pengenceran mana yang nanti ditanam?

Untuk isolasi mikroba pemacu pertumbuhan tanaman dan agen pengendali hayati, biasanya yang ditanam ke media agar adalah:

10⁻³
10⁻⁴
10⁻⁵
10⁻⁶

Alasannya:

  • 10⁻¹ dan 10⁻² sering masih terlalu pekat
  • 10⁻³ sampai 10⁻⁶ lebih berpeluang menghasilkan koloni terpisah
  • Koloni terpisah lebih mudah dipilih untuk dimurnikan

Namun pemilihan pengenceran juga tergantung jenis sampel.


10. Rekomendasi pengenceran berdasarkan jenis sampel

Jenis sampelPengenceran yang disarankan untuk ditanam
Tanah rizosfer10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶
Kompos matang10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶
Serasah sehat10⁻², 10⁻³, 10⁻⁴
Akar sehat10⁻², 10⁻³, 10⁻⁴
Tanah sangat subur/organik tinggi10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶

Untuk sampel yang kaya mikroba seperti kompos, gunakan pengenceran lebih tinggi karena jumlah mikrobanya biasanya sangat padat.


11. Rekomendasi pengenceran berdasarkan target mikroba

Target mikrobaPengenceran yang sering dipakai
Bakteri umum10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶
Bakteri pelarut fosfat10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵
Bakteri pelarut kalium10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵
Bacillus10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵
Pseudomonas fluorescens10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵
Trichoderma10⁻², 10⁻³, 10⁻⁴
Streptomyces10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵
Yeast/khamir10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵

12. Aturan penting agar tidak kontaminasi

Beberapa aturan kerja yang harus dijaga:

  1. Gunakan tabung steril.
  2. Gunakan NaCl steril 0,85%.
  3. Ganti tips pipet setiap perpindahan.
  4. Jangan memasukkan tips bekas ke tabung lain.
  5. Jangan menyentuh bagian dalam tutup tabung.
  6. Jangan membuka tabung terlalu lama.
  7. Selalu kocok tabung sebelum mengambil cairan.
  8. Beri label sebelum mulai bekerja.
  9. Kerjakan dekat api bunsen atau di ruang kerja bersih jika tersedia.
  10. Buang tips bekas ke wadah limbah yang aman.

13. Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanAkibat
Tidak mengganti tips pipetPengenceran silang dan hasil tidak valid
Tabung tidak dikocokMikroba tidak merata
Salah label tabungData isolat kacau
Mengambil lebih/kurang dari 1 mlTingkat pengenceran tidak tepat
Volume NaCl tidak 9 mlPengenceran berubah
Tabung terlalu lama terbukaKontaminasi udara
Menanam dari pengenceran terlalu pekatKoloni menyatu
Menanam dari pengenceran terlalu encerKoloni terlalu sedikit

14. Contoh pencatatan tahap 3

Gunakan tabel sederhana seperti ini:

Kode sampelPengenceranVolume diambilPengencerKeterangan
RZ-CB-0110⁻²1 ml dari 10⁻¹9 ml NaCl sterilHomogen
RZ-CB-0110⁻³1 ml dari 10⁻²9 ml NaCl sterilHomogen
RZ-CB-0110⁻⁴1 ml dari 10⁻³9 ml NaCl sterilHomogen
RZ-CB-0110⁻⁵1 ml dari 10⁻⁴9 ml NaCl sterilHomogen
RZ-CB-0110⁻⁶1 ml dari 10⁻⁵9 ml NaCl sterilHomogen

15. Output tahap 3

Hasil akhir tahap ini adalah satu rangkaian tabung pengenceran:

10⁻¹, 10⁻², 10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶

Tabung yang paling sering dilanjutkan ke tahap penanaman media adalah:

10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵, dan 10⁻⁶

✓ Ringkasan Tahap 3

Kocok tabung 10⁻¹ → ambil 1 ml → masukkan ke 9 ml NaCl steril untuk membuat 10⁻² → kocok → ulangi pola yang sama sampai 10⁻⁶.


Tahap 4: Penanaman pada Media

✓ Tujuan tahap ini

Tahap 4 bertujuan menumbuhkan mikroba dari hasil pengenceran pada media agar yang sesuai, sehingga koloni dapat tumbuh terpisah dan mudah dipilih pada tahap berikutnya.

Pada tahap sebelumnya sudah tersedia tabung pengenceran:

10⁻¹, 10⁻², 10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶

Untuk penanaman pada media, biasanya digunakan pengenceran:

10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵, dan 10⁻⁶

Karena pada pengenceran tersebut jumlah mikroba sudah lebih rendah, sehingga peluang mendapatkan koloni yang terpisah lebih besar.

tahap-4-isolasi-mikroba


1. Prinsip penanaman pada media

Prinsipnya sederhana:

Ambil 0,1 ml suspensi hasil pengenceran
Teteskan ke permukaan media agar
Sebarkan merata
Tutup cawan
Labeli
Siap diinkubasi

Volume 0,1 ml sama dengan 100 mikroliter.

Volume ini umum dipakai karena cukup untuk menyebarkan mikroba di permukaan agar tanpa membuat media terlalu basah.


Diagram Tahap 4 — Penanaman pada Media

Rendering diagram...

2. Definisi istilah penting

IstilahArti
Media agarMedia padat untuk menumbuhkan mikroba
Cawan petriWadah bundar untuk media agar
KoloniKumpulan mikroba yang tumbuh dan terlihat sebagai titik/bercak
Spread plateMetode menanam mikroba dengan cara menyebarkan suspensi di permukaan agar
SpreaderAlat steril untuk meratakan suspensi di permukaan agar
0,1 mlVolume suspensi yang ditanam, sama dengan 100 mikroliter
Kontrol negatifMedia tanpa sampel untuk memastikan media tidak terkontaminasi

3. Media yang digunakan

Pemilihan media tergantung target mikroba.

✓ A. NA / TSA untuk bakteri umum

NA adalah Nutrient Agar. TSA adalah Tryptic Soy Agar.

Keduanya digunakan untuk menumbuhkan bakteri umum dari tanah, rizosfer, akar, dan kompos.

Cocok untuk isolasi awal:

  • Bacillus
  • Bakteri rizosfer umum
  • Calon mikroba pemacu pertumbuhan tanaman
  • Calon bakteri antagonis

Perbedaan praktis:

MediaKeterangan
NALebih sederhana, murah, cocok untuk isolasi awal
TSALebih kaya nutrisi, pertumbuhan bakteri biasanya lebih kuat

Untuk pekerjaan awal, NA sudah cukup.


✓ B. Pikovskaya / NBRIP untuk bakteri pelarut fosfat

Pikovskaya Agar dan NBRIP Agar digunakan untuk mencari bakteri pelarut fosfat.

Bakteri pelarut fosfat adalah mikroba yang membantu melarutkan fosfat tidak larut sehingga lebih mudah tersedia bagi tanaman.

Tanda positif pada media:

Ada zona bening di sekitar koloni

Zona bening menunjukkan adanya aktivitas pelarutan fosfat.

Keterangan:

MediaFungsi
Pikovskaya AgarMedia klasik untuk seleksi pelarut fosfat
NBRIP AgarMedia seleksi pelarut fosfat dengan zona bening yang sering lebih jelas

✓ C. PDA / TSM untuk jamur dan Trichoderma

PDA adalah Potato Dextrose Agar. TSM adalah Trichoderma Selective Medium.

Keduanya digunakan untuk menumbuhkan jamur.

MediaFungsi
PDAMedia umum untuk jamur
TSMMedia selektif untuk Trichoderma

Jika targetnya jamur umum atau Trichoderma dari kompos, tanah, atau serasah, gunakan PDA untuk isolasi awal. Jika ingin lebih spesifik mencari Trichoderma, gunakan TSM bila tersedia.

Ciri awal Trichoderma:

  • Tumbuh cepat
  • Awalnya putih
  • Kemudian berubah hijau
  • Tekstur seperti kapas atau tepung
  • Tidak berbau busuk

4. Media tambahan bila target lebih spesifik

Selain media pada gambar, beberapa media lain bisa digunakan bila target mikroba lebih spesifik.

TargetMedia yang digunakan
Bakteri pelarut kaliumAleksandrov Agar
Pseudomonas fluorescensKing’s B Agar
StreptomycesStarch Casein Agar
Yeast/khamir rizosferYMEA atau PDA
BacillusNA atau TSA, sering didahului perlakuan panas ringan pada suspensi

Namun untuk tahap dasar, cukup mulai dari:

NA/TSA
Pikovskaya/NBRIP
PDA/TSM

5. Persiapan sebelum penanaman

Sebelum mulai, siapkan:

Alat/BahanFungsi
Cawan petri berisi media agarTempat mikroba ditumbuhkan
Tabung pengenceran 10⁻³ sampai 10⁻⁶Sumber mikroba
Mikropipet atau pipet sterilMengambil 0,1 ml suspensi
Tips pipet sterilMencegah kontaminasi silang
Spreader sterilMeratakan suspensi
Alkohol 70%Membersihkan area kerja
Marker permanenMemberi label cawan
Bunsen / area kerja bersihMengurangi kontaminasi udara

Pastikan media agar sudah padat, tidak terlalu basah, dan tidak ada kontaminasi sebelum digunakan.


6. Label cawan sebelum ditanam

Labeli bagian bawah cawan, bukan tutupnya.

Isi label minimal:

Kode sampel
Pengenceran
Jenis media
Tanggal tanam
Target mikroba

Contoh label:

RZ-CB-01 / 10⁻⁴ / NA / 12-05-2026

Artinya:

  • RZ-CB-01 = sampel rizosfer cabai nomor 1
  • 10⁻⁴ = pengenceran yang ditanam
  • NA = Nutrient Agar
  • 12-05-2026 = tanggal penanaman

Contoh untuk media lain:

RZ-CB-01 / 10⁻⁴ / Pikovskaya / PSB
KP-01 / 10⁻³ / PDA / Jamur

7. Pengenceran yang dipilih untuk ditanam

Umumnya gunakan:

10⁻³
10⁻⁴
10⁻⁵
10⁻⁶

Rekomendasi praktis:

TargetPengenceran yang ditanam
Bakteri umum pada NA/TSA10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶
Bakteri pelarut fosfat pada Pikovskaya/NBRIP10⁻³, 10⁻⁴, 10⁻⁵
Jamur pada PDA/TSM10⁻², 10⁻³, 10⁻⁴
Trichoderma dari kompos10⁻², 10⁻³, 10⁻⁴
Kompos matang yang sangat kaya mikroba10⁻⁴, 10⁻⁵, 10⁻⁶

Jika belum tahu kepadatan mikroba sampel, tanam beberapa pengenceran sekaligus agar peluang mendapatkan koloni terpisah lebih besar.


8. Langkah kerja metode spread plate

✓ Langkah 1 — Homogenkan tabung pengenceran

Sebelum mengambil suspensi, kocok dulu tabung pengenceran.

Contoh:

Tabung 10⁻⁴ dikocok dulu sebelum diambil 0,1 ml

Tujuannya agar mikroba tersebar merata dan tidak hanya mengendap di bawah tabung.


✓ Langkah 2 — Ambil 0,1 ml suspensi

Ambil:

0,1 ml dari tabung pengenceran terpilih

Gunakan pipet steril atau mikropipet dengan tips steril.

Contoh:

0,1 ml dari 10⁻⁴

Jangan memakai tips yang sama untuk pengenceran berbeda.


✓ Langkah 3 — Teteskan ke media agar

Buka cawan petri secukupnya saja.

Teteskan suspensi ke permukaan agar.

Jangan menyentuhkan ujung pipet ke permukaan agar.

Setelah diteteskan, segera tutup kembali cawan untuk mengurangi kontaminasi.


✓ Langkah 4 — Sebarkan dengan spreader steril

Gunakan spreader steril untuk meratakan suspensi.

Gerakkan spreader perlahan di seluruh permukaan agar.

Pola penyebaran:

Gerakan memutar
Gerakan kanan-kiri
Gerakan menyilang

Tujuannya agar suspensi tersebar merata dan koloni tumbuh terpisah.


✓ Langkah 5 — Tunggu cairan meresap

Setelah disebar, biarkan cawan tertutup selama beberapa menit sampai permukaan agar tidak terlalu basah.

Jangan langsung membalik cawan jika masih ada cairan menggenang.

Cawan yang terlalu basah dapat menyebabkan koloni menyebar dan menyatu.


✓ Langkah 6 — Balik cawan

Setelah cairan meresap, cawan dapat dibalik.

Posisi inkubasi biasanya:

Media di atas
Tutup cawan di bawah

Tujuannya agar embun tidak menetes ke permukaan agar.

Namun jika permukaan masih terlalu basah, tunggu dulu sampai cairan terserap.


9. Jumlah cawan yang disarankan

Untuk hasil yang rapi, gunakan minimal duplikasi.

Contoh sederhana untuk satu sampel:

MediaPengenceranJumlah cawan
NA10⁻⁴1 cawan
NA10⁻⁵1 cawan
NA10⁻⁶1 cawan
Pikovskaya10⁻³1 cawan
Pikovskaya10⁻⁴1 cawan
Pikovskaya10⁻⁵1 cawan
PDA10⁻²1 cawan
PDA10⁻³1 cawan
PDA10⁻⁴1 cawan

Jika sumber daya terbatas, gunakan pengenceran prioritas:

NA         : 10⁻⁵
Pikovskaya : 10⁻⁴
PDA        : 10⁻³

10. Kontrol negatif

Siapkan minimal satu cawan kontrol untuk setiap jenis media.

Cara membuat kontrol negatif:

Teteskan 0,1 ml NaCl steril tanpa sampel ke media agar
Sebarkan seperti sampel biasa
Inkubasi bersama cawan lain

Fungsi kontrol negatif:

  • Mengecek apakah media steril
  • Mengecek apakah NaCl steril benar-benar bersih
  • Mengecek apakah teknik penanaman menyebabkan kontaminasi

Jika kontrol negatif tumbuh mikroba, berarti ada kontaminasi pada media, larutan, alat, atau proses kerja.


11. Penanaman berdasarkan target PGPM

PGPM adalah mikroba pemacu pertumbuhan tanaman.

Target awal yang umum:

✓ A. Bakteri umum calon PGPM

Media:

NA atau TSA

Ambil dari pengenceran:

10⁻⁴, 10⁻⁵, atau 10⁻⁶

Koloni yang nanti dicari:

  • Tumbuh terpisah
  • Bentuk jelas
  • Tidak berbau busuk
  • Warna dan tekstur beragam
  • Mudah dimurnikan

✓ B. Bakteri pelarut fosfat

Media:

Pikovskaya atau NBRIP

Ambil dari pengenceran:

10⁻³, 10⁻⁴, atau 10⁻⁵

Koloni yang nanti dicari:

Koloni dengan zona bening di sekelilingnya

Semakin jelas zona bening, semakin menarik untuk diuji lanjut.


✓ C. Bakteri pelarut kalium

Jika menggunakan media Aleksandrov Agar, ambil dari:

10⁻³, 10⁻⁴, atau 10⁻⁵

Koloni positif biasanya memiliki zona bening di sekitar koloni.


12. Penanaman berdasarkan target APH

APH adalah agen pengendali hayati, yaitu mikroba yang berpotensi menekan patogen tanaman.

Target awal yang umum:

✓ A. Trichoderma

Media:

PDA atau TSM

Pengenceran:

10⁻², 10⁻³, atau 10⁻⁴

Koloni awal yang dicari:

  • Tumbuh cepat
  • Miselium putih di awal
  • Berubah hijau setelah beberapa hari
  • Tidak berlendir
  • Tidak berbau busuk

✓ B. Bacillus

Media:

NA atau TSA

Pengenceran:

10⁻³, 10⁻⁴, atau 10⁻⁵

Jika ingin memperkaya Bacillus, suspensi dapat diberi perlakuan panas ringan sebelum ditanam karena Bacillus membentuk spora yang relatif tahan.

Koloni awal yang dicari:

  • Warna putih, krem, atau kekuningan
  • Permukaan agak kering
  • Tepi bisa rata atau tidak beraturan
  • Tumbuh cukup cepat

✓ C. Pseudomonas fluorescens

Media:

King’s B Agar

Pengenceran:

10⁻³, 10⁻⁴, atau 10⁻⁵

Koloni awal yang dicari:

  • Tumbuh baik
  • Beberapa isolat menunjukkan fluoresensi kehijauan di bawah UV
  • Tidak berbau busuk

✓ D. Streptomyces

Media:

Starch Casein Agar

Pengenceran:

10⁻³, 10⁻⁴, atau 10⁻⁵

Koloni awal yang dicari:

  • Kering
  • Bertepung
  • Berbau tanah
  • Tumbuh lebih lambat dibanding bakteri umum

13. Teknik kerja steril saat menanam

Prinsip kerja steril sangat penting.

Lakukan hal berikut:

  1. Bersihkan meja dengan alkohol 70%.
  2. Jangan berbicara langsung di atas cawan terbuka.
  3. Buka cawan hanya sebentar.
  4. Jangan menyentuh permukaan agar.
  5. Ganti tips pipet setiap sampel dan setiap pengenceran.
  6. Sterilkan spreader sebelum dipakai atau gunakan spreader sekali pakai steril.
  7. Jangan menumpuk cawan terbuka.
  8. Labeli cawan sebelum penanaman.
  9. Pisahkan cawan bakteri dan jamur bila memungkinkan.
  10. Buang limbah ke wadah yang aman.

14. Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanAkibat
Tidak mengocok tabung sebelum diambilMikroba tidak merata
Mengambil lebih dari 0,1 mlMedia terlalu basah
Tidak menyebarkan suspensi merataKoloni menumpuk di satu area
Tidak mengganti tips pipetKontaminasi silang
Cawan terlalu lama terbukaKontaminasi udara
Salah label media atau pengenceranData tidak valid
Menanam dari pengenceran terlalu pekatKoloni menyatu
Menanam dari pengenceran terlalu encerKoloni terlalu sedikit
Media agar basah berlebihanKoloni menyebar dan sulit dipilih
Tidak memakai kontrol negatifSulit mengetahui sumber kontaminasi

15. Tanda penanaman yang baik

Penanaman dianggap baik bila:

  • Suspensi tersebar merata di permukaan agar
  • Tidak ada cairan menggenang
  • Cawan berlabel jelas
  • Media tidak rusak atau sobek
  • Tidak ada kontaminasi terlihat sebelum inkubasi
  • Pengenceran yang ditanam sesuai target
  • Kontrol negatif disiapkan
  • Cawan siap diinkubasi

16. Output tahap 4

Hasil akhir tahap ini adalah:

Cawan media yang sudah diinokulasi suspensi mikroba

Contoh output:

Kode cawanIsi
RZ-CB-01 / 10⁻⁴ / NACalon bakteri umum PGPM/APH
RZ-CB-01 / 10⁻⁴ / PikovskayaCalon bakteri pelarut fosfat
KP-01 / 10⁻³ / PDACalon jamur/Trichoderma
RZ-CB-01 / kontrol / NAKontrol negatif

✓ Ringkasan Tahap 4

Kocok tabung pengenceran → ambil 0,1 ml → teteskan ke media agar → sebar merata dengan spreader steril → tutup cawan → beri label → siapkan kontrol negatif → lanjut ke inkubasi.


Tahap 5: Inkubasi dan Pertumbuhan Koloni

✓# Tujuan tahap ini

Tahap 5 bertujuan memberi waktu dan kondisi yang sesuai agar mikroba tumbuh menjadi koloni yang terlihat, sehingga dapat diamati, dibandingkan, dan dipilih pada tahap berikutnya.

Setelah suspensi mikroba ditanam pada media agar di Tahap 4, mikroba belum langsung terlihat. Mikroba perlu waktu untuk memperbanyak diri sampai membentuk koloni.

Koloni adalah kumpulan sel mikroba yang tumbuh pada satu titik di media agar dan tampak sebagai bercak, titik, lingkaran, kapas, tepung, atau lapisan tertentu.

tahap-5-isolasi-mikroba

1. Prinsip dasar inkubasi

Setelah cawan petri ditanami mikroba, cawan disimpan pada suhu dan durasi tertentu agar mikroba dapat tumbuh.

Prinsipnya:

Cawan sudah ditanam
Cawan ditutup dan dilabeli
Cawan diinkubasi
Koloni tumbuh
Koloni diamati
Koloni siap diseleksi

Untuk isolasi mikroba pertanian, suhu inkubasi yang umum digunakan adalah suhu mesofilik sedang, bukan suhu tubuh manusia.

Rekomendasi umum:

Kelompok mikrobaSuhu inkubasiLama inkubasi
Bakteri umum PGPM / APH28–30°C24–72 jam
Bakteri pelarut fosfat28–30°C2–5 hari
Bacillus28–30°C24–72 jam
Pseudomonas rizosfer28–30°C24–72 jam
Jamur umum25–28°C3–7 hari
Trichoderma25–28°C3–5 hari
Streptomyces28–30°C5–10 hari

Catatan: hindari inkubasi pada 37°C untuk isolasi awal mikroba lingkungan, karena suhu tersebut lebih dekat dengan suhu tubuh manusia dan bisa meningkatkan peluang tumbuhnya mikroba yang tidak diinginkan dari sisi keamanan.


Diagram Tahap 5 — Inkubasi dan Pertumbuhan Koloni

Rendering diagram...

2. Posisi cawan saat inkubasi

Cawan petri sebaiknya diinkubasi dalam posisi terbalik.

Artinya:

Bagian media agar berada di atas
Tutup cawan berada di bawah

Tujuannya:

  • Mengurangi tetesan embun ke permukaan media
  • Mencegah koloni menyebar karena air kondensasi
  • Menjaga bentuk koloni tetap jelas
  • Memudahkan pengamatan morfologi koloni

Namun, jika permukaan media masih terlalu basah setelah penanaman, tunggu beberapa menit sampai cairan terserap sebelum cawan dibalik.


3. Kondisi inkubasi untuk bakteri

Untuk bakteri calon PGPM dan APH, gunakan:

Suhu       : 28–30°C
Waktu      : 24–72 jam
Media umum : NA, TSA, Pikovskaya, NBRIP, Aleksandrov, King's B

Pada 24 jam pertama, koloni bakteri cepat tumbuh biasanya mulai terlihat sebagai titik kecil.

Pada 48 jam, koloni lebih jelas.

Pada 72 jam, koloni biasanya sudah cukup besar untuk diamati dan dipilih.

Contoh hasil yang diharapkan:

MediaTargetTanda awal
NA / TSABakteri umumKoloni bulat, krem, putih, kuning, atau bening
Pikovskaya / NBRIPBakteri pelarut fosfatKoloni dengan zona bening
AleksandrovBakteri pelarut kaliumKoloni dengan zona bening
King’s BPseudomonasKoloni halus, beberapa dapat fluoresen
NA/TSA setelah perlakuan panasBacillusKoloni putih/krem, agak kering, tepi bisa tidak rata

4. Kondisi inkubasi untuk jamur

Untuk jamur calon APH seperti Trichoderma, gunakan:

Suhu       : 25–28°C
Waktu      : 3–7 hari
Media umum : PDA atau TSM

Jamur biasanya tumbuh lebih lambat dibanding bakteri, tetapi hifanya bisa menyebar lebih luas.

Ciri umum jamur:

  • Muncul benang halus atau miselium
  • Awalnya putih
  • Bisa berubah warna menjadi hijau, abu-abu, hitam, kuning, atau cokelat
  • Permukaan bisa seperti kapas, tepung, beludru, atau serbuk

Untuk Trichoderma, ciri awal yang sering dicari:

  • Pertumbuhan cepat
  • Miselium awal berwarna putih
  • Setelah beberapa hari berubah hijau
  • Permukaan seperti kapas lalu menjadi bertepung
  • Tidak berbau busuk

5. Kondisi inkubasi untuk Streptomyces

Streptomyces termasuk kelompok bakteri berfilamen yang pertumbuhannya lebih lambat.

Gunakan:

Suhu       : 28–30°C
Waktu      : 5–10 hari
Media umum : Starch Casein Agar

Ciri awal Streptomyces:

  • Koloni kering
  • Permukaan bertepung
  • Warna putih, abu-abu, krem, atau cokelat muda
  • Sering berbau tanah
  • Tumbuh lebih lambat daripada bakteri biasa

Streptomyces menarik sebagai calon APH karena banyak isolatnya mampu menghasilkan senyawa antimikroba, tetapi tetap perlu uji keamanan dan uji fungsi.


6. Jangan membuka cawan terlalu sering

Selama inkubasi, cawan sebaiknya tidak sering dibuka.

Alasannya:

  • Udara membawa spora jamur dan bakteri kontaminan
  • Cawan bisa terkontaminasi
  • Koloni asli bisa terganggu
  • Risiko paparan mikroba meningkat
  • Data menjadi tidak valid

Pengamatan awal cukup dilakukan dari luar cawan.

Jika perlu melihat lebih jelas, gunakan:

  • Lampu dari samping
  • Kaca pembesar
  • Kamera ponsel
  • Marker untuk menandai bagian bawah cawan

7. Pengamatan harian

Lakukan pengamatan setiap hari tanpa membuka cawan.

Catat:

HariYang diamati
Hari ke-1Ada/tidaknya koloni bakteri cepat tumbuh
Hari ke-2Bentuk, warna, jumlah, dan kepadatan koloni
Hari ke-3Koloni bakteri matang, awal pertumbuhan jamur
Hari ke-4–5Jamur dan Trichoderma mulai jelas
Hari ke-6–7Jamur lebih matang, warna spora terlihat
Hari ke-8–10Streptomyces dan mikroba lambat tumbuh lebih terlihat

Untuk bakteri umum, biasanya seleksi bisa mulai dilakukan setelah 24–72 jam. Untuk jamur, seleksi biasanya mulai dilakukan setelah 3–7 hari.


8. Parameter koloni yang diamati

Amati morfologi koloni, yaitu ciri fisik koloni yang terlihat.

✓ A. Warna koloni

Catat warna utama koloni.

Contoh:

Putih
Krem
Kuning
Oranye
Hijau
Abu-abu
Cokelat
Bening

Warna dapat membantu membedakan isolat, tetapi belum cukup untuk identifikasi.


✓ B. Bentuk koloni

Bentuk koloni bisa berupa:

Bulat
Tidak beraturan
Berfilamen
Menyebar
Titik kecil
Bercabang

Koloni bakteri sering berbentuk bulat atau tidak beraturan. Koloni jamur sering berfilamen atau menyebar seperti kapas.


✓ C. Tepi koloni

Tepi koloni dapat diamati sebagai:

Rata
Bergelombang
Bergerigi
Bercabang
Berfilamen

Ciri tepi berguna untuk membedakan koloni yang tampak mirip.


✓ D. Elevasi koloni

Elevasi adalah bentuk permukaan koloni dari samping.

Contoh:

Datar
Cembung
Timbul
Seperti kubah
Tidak rata

Koloni Bacillus sering tampak agak kering dan bisa tidak rata. Koloni Pseudomonas sering tampak halus dan mengilap.


✓ E. Tekstur koloni

Tekstur koloni bisa berupa:

Licin
Berlendir
Kering
Kasar
Bertepung
Seperti kapas
Beludru

Untuk APH jamur, tekstur sangat penting. Trichoderma sering tampak seperti kapas pada awalnya, lalu menjadi hijau bertepung.


✓ F. Ukuran koloni

Catat ukuran koloni secara sederhana:

Kecil
Sedang
Besar

Atau lebih rapi dengan ukuran diameter:

1 mm
2 mm
5 mm
10 mm

Ukuran membantu melihat kecepatan pertumbuhan.


9. Contoh format pencatatan koloni

Gunakan tabel sederhana.

Kode cawanMediaPengenceranHariCiri koloni dominanCatatan
RZ-CB-01NA10⁻⁵2Koloni krem bulat, tepi rataBanyak koloni terpisah
RZ-CB-01Pikovskaya10⁻⁴3Koloni kecil dengan zona beningCalon pelarut fosfat
KP-01PDA10⁻³4Jamur putih-hijau tumbuh cepatCalon Trichoderma
RZ-CB-01King’s B10⁻⁴2Koloni halus kekuninganPerlu cek fluoresensi

10. Ciri cawan yang baik untuk seleksi

Cawan yang baik untuk tahap seleksi memiliki ciri:

  • Koloni tumbuh terpisah
  • Tidak terlalu padat
  • Tidak tertutup jamur kontaminan menyebar
  • Koloni punya bentuk yang jelas
  • Media tidak terlalu basah
  • Label lengkap
  • Kontrol negatif tetap bersih

Cawan yang ideal biasanya berisi koloni yang cukup banyak tetapi masih dapat dipilih satu per satu.

Secara praktis, pilih cawan yang:

Tidak kosong
Tidak terlalu padat
Koloni terpisah jelas

11. Ciri cawan yang kurang baik

Cawan kurang baik bila:

KondisiMasalah
Semua permukaan penuh mikrobaPengenceran terlalu pekat
Koloni menyatuSulit dimurnikan
Ada cairan mengalirMedia terlalu basah
Jamur cepat menutup seluruh cawanKoloni lain tertutup
Kontrol negatif tumbuh mikrobaAda kontaminasi proses/media
Tidak ada koloni sama sekaliPengenceran terlalu encer atau mikroba tidak viabel
Label hilang/salahData tidak bisa dipercaya

Jika koloni terlalu padat, gunakan cawan dari pengenceran yang lebih tinggi, misalnya dari 10⁻⁵ atau 10⁻⁶.

Jika koloni terlalu sedikit, gunakan cawan dari pengenceran yang lebih rendah, misalnya 10⁻³ atau 10⁻⁴.


12. Pengamatan khusus pada media PGPM

✓ A. Media NA / TSA

Pada media ini, amati variasi koloni bakteri umum.

Koloni yang menarik untuk dipilih:

  • Tumbuh terpisah
  • Tidak berbau busuk
  • Bentuk jelas
  • Warna berbeda
  • Tidak terlalu berlendir ekstrem
  • Tumbuh stabil

Contoh calon isolat:

Koloni krem bulat
Koloni putih kering
Koloni kuning halus
Koloni tidak beraturan tapi stabil

✓ B. Media Pikovskaya / NBRIP

Media ini digunakan untuk mencari bakteri pelarut fosfat.

Koloni yang menarik adalah koloni dengan:

Zona bening di sekitar koloni

Catat:

  • Diameter koloni
  • Diameter zona bening
  • Kejelasan zona bening
  • Kecepatan munculnya zona bening

Contoh catatan:

Koloni PSB-01:
Diameter koloni 3 mm
Diameter zona bening 8 mm
Zona jelas pada hari ke-3

Isolat dengan zona bening besar dan cepat muncul lebih menarik untuk diuji lanjut.


✓ C. Media Aleksandrov

Jika menggunakan media pelarut kalium, amati zona bening.

Koloni menarik:

  • Tumbuh baik
  • Ada zona bening
  • Zona tidak terlalu samar
  • Koloni mudah dipisahkan

✓ D. Media bebas nitrogen

Jika menggunakan media bebas nitrogen untuk calon penambat nitrogen, koloni yang tumbuh menunjukkan kemampuan awal untuk bertahan pada media tanpa nitrogen tambahan.

Namun, ini baru indikasi awal. Perlu uji lanjutan sebelum dinyatakan sebagai penambat nitrogen.


13. Pengamatan khusus pada media APH

✓ A. Calon Trichoderma pada PDA / TSM

Ciri yang dicari:

  • Pertumbuhan cepat
  • Awal putih
  • Kemudian hijau
  • Tepi pertumbuhan aktif
  • Tidak berbau busuk
  • Tidak berwarna hitam pekat menyebar cepat

Koloni Trichoderma biasanya mulai terlihat sebagai miselium putih, lalu bagian tengah atau permukaan berubah hijau karena pembentukan spora.


✓ B. Calon Bacillus pada NA / TSA

Ciri yang sering dijumpai:

  • Koloni putih/krem
  • Permukaan agak kering
  • Tepi bisa rata atau bergelombang
  • Tumbuh cepat
  • Beberapa tampak kasar atau berkerut

Bacillus menarik sebagai APH karena banyak isolatnya tahan formulasi, mampu membentuk spora, dan mudah dikembangkan.


✓ C. Calon Pseudomonas pada King’s B

Ciri awal:

  • Koloni halus
  • Tumbuh dalam 24–48 jam
  • Beberapa isolat menghasilkan pigmen fluoresen
  • Dapat diamati di bawah UV bila fasilitas tersedia

Jangan membuka cawan sembarangan saat pengecekan. Gunakan pengamatan dari luar cawan.


✓ D. Calon Streptomyces

Ciri awal:

  • Koloni kering
  • Tampak seperti tepung
  • Berbau tanah
  • Tumbuh lambat
  • Warna putih, krem, abu-abu, atau cokelat muda

Streptomyces biasanya perlu waktu inkubasi lebih panjang dibanding bakteri umum.


14. Keamanan saat inkubasi

Karena isolat belum diketahui identitasnya, perlakukan semua cawan sebagai bahan biologis yang perlu hati-hati.

Aturan aman:

  1. Jangan menghirup langsung aroma dari cawan.
  2. Jangan membuka cawan tanpa kebutuhan.
  3. Jangan menyentuh koloni dengan tangan.
  4. Jangan menyimpan cawan dekat makanan atau minuman.
  5. Jangan membawa cawan ke area rumah tangga.
  6. Gunakan sarung tangan saat memindahkan cawan.
  7. Cawan yang tidak dipakai harus disterilkan sebelum dibuang.
  8. Jika muncul koloni berbau busuk kuat, berlendir ekstrem, atau tampak mencurigakan, jangan dilanjutkan.

15. Kapan cawan siap masuk Tahap 6?

Cawan siap masuk Tahap 6 bila:

  • Koloni sudah terlihat jelas
  • Ada koloni yang terpisah
  • Ciri koloni bisa dibedakan
  • Cawan tidak terlalu penuh
  • Kontrol negatif bersih
  • Koloni target sudah cukup matang untuk dipindahkan

Waktu praktis:

TargetWaktu mulai seleksi
Bakteri umum24–72 jam
Bakteri pelarut fosfat2–5 hari
Bacillus24–72 jam
Pseudomonas24–72 jam
Trichoderma3–5 hari
Jamur umum3–7 hari
Streptomyces5–10 hari

16. Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanAkibat
Suhu terlalu tinggiMikroba target stres atau mati
Cawan tidak dibalikEmbun menetes dan koloni menyebar
Cawan sering dibukaKontaminasi meningkat
Inkubasi terlalu lamaKoloni saling menutup
Tidak mencatat hari pengamatanData seleksi tidak rapi
Cawan disimpan dekat sinar matahariSuhu tidak stabil
Kontrol negatif diabaikanKontaminasi tidak terdeteksi
Semua jenis mikroba diinkubasi terlalu lamaKoloni cepat tumbuh menutupi koloni lambat

17. Output tahap 5

Output tahap ini adalah:

Cawan dengan koloni mikroba yang sudah tumbuh dan siap diseleksi

Contoh output:

Kode cawanHasil
RZ-CB-01 / NA / 10⁻⁵Koloni bakteri terpisah, variasi krem-putih-kuning
RZ-CB-01 / Pikovskaya / 10⁻⁴Beberapa koloni membentuk zona bening
KP-01 / PDA / 10⁻³Jamur putih-hijau tumbuh cepat, calon Trichoderma
RZ-CB-01 / kontrol / NATidak ada pertumbuhan, kontrol bersih

✓ Ringkasan Tahap 5

Cawan yang sudah ditanam → diinkubasi pada suhu sesuai target → diamati tanpa sering dibuka → dicatat warna, bentuk, tepi, ukuran, tekstur, dan jumlah koloni → pilih cawan dengan koloni terpisah untuk tahap pemurnian.


Tahap 6: Seleksi Koloni dan Pemurnian

Tujuan tahap ini

Tahap 6 bertujuan memilih koloni mikroba yang potensial, lalu memindahkannya ke media baru sampai diperoleh isolat murni.

Isolat murni adalah kultur mikroba yang berasal dari satu koloni terpisah dan memiliki ciri pertumbuhan yang seragam.

Pada tahap sebelumnya, cawan hasil inkubasi masih berisi campuran berbagai mikroba. Di tahap ini kita mulai memilih koloni terbaik untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai:

  • PGPM: mikroba pemacu pertumbuhan tanaman
  • APH: agen pengendali hayati
tahap-6-isolasi-mikroba

1. Prinsip dasar seleksi dan pemurnian

Alurnya:

Cawan hasil inkubasi
Pilih koloni yang berbeda dan terpisah
Ambil satu koloni dengan ose steril
Goreskan ke media baru
Inkubasi
Pilih koloni tunggal yang seragam
Ulangi 2–3 kali
Diperoleh isolat murni

Tujuan utamanya bukan langsung memperbanyak mikroba, tetapi memisahkan satu jenis mikroba dari campuran mikroba lain.


Diagram Tahap 6 — Seleksi Koloni dan Pemurnian

Rendering diagram...

2. Definisi istilah penting

IstilahArti
KoloniKumpulan mikroba yang tumbuh pada satu titik di media agar
IsolatMikroba yang sudah dipisahkan dari campuran
Isolat murniIsolat yang ciri koloninya seragam dan tidak tercampur mikroba lain
OseJarum/kawat kecil untuk mengambil dan menggores mikroba
Streak plateTeknik menggores mikroba pada media agar untuk mendapatkan koloni tunggal
Koloni tunggalKoloni yang tumbuh terpisah dari koloni lain
Morfologi koloniCiri fisik koloni, seperti warna, bentuk, tepi, tekstur, dan ukuran

3. Alat dan bahan

Siapkan:

Alat/BahanFungsi
Cawan hasil inkubasiSumber koloni yang akan dipilih
Cawan media baruTempat pemurnian isolat
Ose steril / jarum inokulasi sterilMengambil dan menggores koloni
Spidol permanenMemberi kode isolat
Alkohol 70%Membersihkan area kerja
Bunsen / spiritus / area kerja bersihMembantu menjaga kondisi steril
Sarung tanganMelindungi pekerja dan sampel
Parafilm/plastik wrap laboratoriumMenutup cawan bila diperlukan
Buku catatan isolatMencatat ciri dan asal koloni

4. Memilih cawan yang layak untuk seleksi

Jangan semua cawan langsung dipakai. Pilih cawan yang paling rapi.

Cawan yang layak:

  • Koloni tumbuh terpisah
  • Tidak terlalu padat
  • Tidak tertutup jamur menyebar
  • Tidak ada kontaminasi ekstrem
  • Label lengkap
  • Media tidak terlalu basah
  • Kontrol negatif bersih

Cawan yang kurang layak:

  • Koloni terlalu padat dan menyatu
  • Seluruh permukaan tertutup mikroba
  • Banyak cairan mengalir
  • Ada bau busuk kuat
  • Ada koloni berlendir ekstrem
  • Kontrol negatif ikut tumbuh mikroba
  • Label tidak jelas

Jika cawan terlalu padat, pilih cawan dari pengenceran lebih tinggi, misalnya 10⁻⁵ atau 10⁻⁶.


5. Kriteria koloni yang dipilih

Koloni dipilih berdasarkan perbedaan morfologi dan indikasi fungsi.

✓ A. Ciri morfologi koloni

Amati:

CiriContoh
Warnaputih, krem, kuning, hijau, abu-abu
Bentukbulat, tidak beraturan, menyebar
Tepirata, bergelombang, bergerigi
Permukaanhalus, kasar, berkerut, bertepung
Elevasidatar, cembung, timbul
Ukurankecil, sedang, besar
Kecepatan tumbuhcepat, sedang, lambat
Teksturkering, licin, kapas, tepung

Pilih beberapa koloni yang berbeda agar keragaman isolat tetap terjaga.


6. Kriteria koloni untuk PGPM

Untuk calon PGPM, pilih koloni dengan ciri berikut.

✓ A. Dari media NA / TSA

Media ini untuk bakteri umum.

Pilih koloni yang:

  • Tumbuh terpisah
  • Tidak berbau busuk
  • Bentuk jelas
  • Warna berbeda-beda
  • Mudah dipindahkan
  • Tidak menyebar terlalu liar

Contoh pilihan:

PGPM-01: koloni krem, bulat, tepi rata
PGPM-02: koloni putih, agak kering, tepi bergelombang
PGPM-03: koloni kuning muda, halus, cembung

✓ B. Dari media Pikovskaya / NBRIP

Media ini untuk mencari bakteri pelarut fosfat.

Pilih koloni yang memiliki:

Zona bening di sekitar koloni

Prioritas seleksi:

  1. Zona bening jelas
  2. Zona bening besar
  3. Koloni tumbuh stabil
  4. Koloni terpisah dari koloni lain
  5. Zona muncul cepat

Contoh kode:

PSB-01: koloni putih, zona bening jelas
PSB-02: koloni krem, zona bening sedang
PSB-03: koloni kecil, zona bening besar

PSB adalah Phosphate Solubilizing Bacteria, yaitu bakteri pelarut fosfat.


✓ C. Dari media pelarut kalium

Jika menggunakan media pelarut kalium, misalnya Aleksandrov Agar, pilih koloni dengan zona bening.

Contoh kode:

KSB-01
KSB-02
KSB-03

KSB adalah Potassium Solubilizing Bacteria, yaitu bakteri pelarut kalium.


7. Kriteria koloni untuk APH

Untuk calon APH, pilih koloni yang berpotensi menekan patogen tanaman.

✓ A. Calon Trichoderma

Dari media PDA atau TSM, pilih koloni jamur dengan ciri:

  • Tumbuh cepat
  • Awalnya putih
  • Kemudian berubah hijau
  • Tepi pertumbuhan aktif
  • Tekstur seperti kapas lalu bertepung
  • Tidak berbau busuk

Contoh kode:

TRI-01
TRI-02
TRI-03

Catatan: Trichoderma sebaiknya dimurnikan dari bagian tepi koloni yang masih aktif tumbuh, bukan dari bagian tengah yang terlalu tua.


✓ B. Calon Bacillus

Dari media NA atau TSA, pilih koloni bakteri dengan ciri:

  • Putih, krem, atau kekuningan
  • Agak kering
  • Bisa berkerut
  • Tepi bisa bergelombang
  • Tumbuh cukup cepat

Contoh kode:

BAC-01
BAC-02
BAC-03

Bacillus menarik sebagai APH karena banyak jenisnya mampu membentuk spora dan relatif tahan dalam formulasi.


✓ C. Calon Pseudomonas

Dari media King’s B, pilih koloni dengan ciri:

  • Halus
  • Licin
  • Tumbuh cepat
  • Beberapa menunjukkan warna fluoresen kehijauan di bawah lampu UV

Contoh kode:

PSE-01
PSE-02
PSE-03

✓ D. Calon Streptomyces

Dari media Starch Casein Agar, pilih koloni dengan ciri:

  • Kering
  • Bertepung
  • Tumbuh lambat
  • Warna putih, krem, abu-abu, atau cokelat muda
  • Bau seperti tanah, bukan bau busuk

Contoh kode:

STR-01
STR-02
STR-03

8. Koloni yang sebaiknya tidak dilanjutkan

Jangan lanjutkan koloni yang:

  • Berbau busuk menyengat
  • Berlendir ekstrem
  • Menyebar sangat invasif sampai menutup semua media
  • Berasal dari cawan kontrol negatif yang terkontaminasi
  • Tumbuh dari sumber sampel berisiko
  • Menunjukkan warna dan bau mencurigakan
  • Sulit dikendalikan saat dipindahkan
  • Menyebabkan media cepat rusak atau cair

Untuk pekerjaan pertanian, lebih baik memilih isolat yang stabil, aman, dan mudah dikultur, bukan hanya yang tumbuh paling cepat.


9. Pemberian kode isolat

Setiap koloni yang dipilih harus langsung diberi kode.

Format kode sederhana:

Jenis target - sumber - nomor isolat

Contoh:

KodeArti
PGPM-RZ-01Calon PGPM dari rizosfer nomor 1
PSB-RZ-01Bakteri pelarut fosfat dari rizosfer nomor 1
KSB-RZ-01Bakteri pelarut kalium dari rizosfer nomor 1
TRI-KP-01Calon Trichoderma dari kompos nomor 1
BAC-RZ-01Calon Bacillus dari rizosfer nomor 1
PSE-RZ-01Calon Pseudomonas dari rizosfer nomor 1
STR-RZ-01Calon Streptomyces dari rizosfer nomor 1
APH-RZ-01Calon agen pengendali hayati dari rizosfer nomor 1

Kode harus dicatat sejak awal agar isolat tidak tertukar.


10. Cara pemurnian bakteri dengan metode gores

Metode ini digunakan untuk bakteri seperti PGPM umum, PSB, KSB, Bacillus, Pseudomonas, dan Streptomyces muda.

✓ Langkah kerja

✓ Langkah 1 — Siapkan media baru

Gunakan media sesuai asal isolat.

Contoh:

Asal koloniMedia pemurnian
Koloni dari NANA baru
Koloni dari TSATSA baru
Koloni dari PikovskayaPikovskaya atau NA
Koloni dari NBRIPNBRIP atau NA
Koloni dari King’s BKing’s B atau NA
Koloni dari Starch Casein AgarStarch Casein Agar

Untuk pemurnian awal, sebaiknya gunakan media yang sama dengan media asal agar isolat tidak stres.


✓ Langkah 2 — Labeli cawan baru

Contoh label:

PSB-RZ-01 / Purifikasi 1 / Pikovskaya / Tanggal

Atau lebih singkat:

PSB-RZ-01 / P1 / 12-05-2026

Keterangan:

  • P1 = pemurnian pertama
  • P2 = pemurnian kedua
  • P3 = pemurnian ketiga

✓ Langkah 3 — Ambil satu koloni terpisah

Buka cawan sebentar saja.

Ambil satu koloni target menggunakan ose steril.

Ambil dari koloni yang:

  • Terpisah
  • Tidak menyentuh koloni lain
  • Ciri morfologinya jelas
  • Tidak tercampur koloni lain

Jangan mengambil bagian koloni yang menempel dengan koloni lain.


✓ Langkah 4 — Goreskan ke media baru

Goreskan ose pada media baru dengan pola kuadran atau zigzag.

Contoh pola sederhana:

Area 1: gores rapat
Area 2: tarik dari area 1, gores lebih renggang
Area 3: tarik dari area 2, gores lebih renggang
Area 4: tarik dari area 3, gores paling renggang

Tujuan pola ini adalah membuat jumlah mikroba semakin berkurang pada setiap area, sehingga muncul koloni tunggal.


✓ Langkah 5 — Inkubasi

Inkubasi sesuai jenis mikroba:

MikrobaSuhuWaktu
Bakteri umum28–30°C24–72 jam
PSB / KSB28–30°C2–5 hari
Bacillus28–30°C24–72 jam
Pseudomonas28–30°C24–72 jam
Streptomyces28–30°C5–10 hari

✓ Langkah 6 — Periksa keseragaman

Setelah tumbuh, amati:

  • Apakah bentuk koloni seragam?
  • Apakah warna koloni sama?
  • Apakah teksturnya sama?
  • Apakah masih ada koloni berbeda?
  • Apakah ada kontaminasi jamur atau bakteri lain?

Jika masih ada koloni berbeda, lakukan pemurnian ulang.


11. Cara pemurnian jamur / Trichoderma

Untuk jamur, terutama Trichoderma, tekniknya sedikit berbeda.

✓ Langkah kerja

✓ Langkah 1 — Pilih bagian tepi koloni

Ambil dari bagian tepi koloni yang masih aktif tumbuh.

Bagian tepi biasanya lebih muda dan lebih bersih daripada bagian tengah.


✓ Langkah 2 — Ambil potongan kecil miselium

Gunakan jarum steril atau ose steril.

Ambil potongan kecil dari ujung hifa atau bagian tepi miselium.

Miselium adalah benang-benang halus penyusun tubuh jamur.


✓ Langkah 3 — Pindahkan ke PDA atau TSM baru

Letakkan potongan kecil tersebut di bagian tengah media baru.

Gunakan media:

PDA untuk jamur umum
TSM untuk Trichoderma bila tersedia

✓ Langkah 4 — Inkubasi

Inkubasi pada:

25–28°C selama 3–5 hari

Untuk jamur tertentu bisa sampai 7 hari.


✓ Langkah 5 — Ulangi sampai seragam

Jika masih ada jamur lain atau bakteri ikut tumbuh, ulangi pemindahan dari tepi koloni yang paling bersih.

Biasanya perlu:

2–3 kali pemurnian

12. Tanda isolat sudah murni

Isolat dianggap murni sementara bila:

  • Koloni terlihat seragam
  • Warna koloni sama
  • Bentuk koloni sama
  • Tepi koloni sama
  • Tekstur koloni sama
  • Tidak ada koloni lain yang berbeda
  • Saat digores ulang, hasilnya tetap seragam
  • Tidak muncul kontaminan pada media baru

Untuk kepastian lebih kuat, isolat perlu diuji lanjut secara mikroskopis atau molekuler, tetapi untuk tahap seleksi awal, keseragaman koloni sudah cukup sebagai dasar kerja berikutnya.


13. Berapa kali pemurnian perlu dilakukan?

Rekomendasi praktis:

Pemurnian 1: mengambil koloni target dari cawan campuran
Pemurnian 2: mengambil koloni tunggal dari hasil pemurnian 1
Pemurnian 3: konfirmasi keseragaman isolat

Jadi minimal lakukan 2 kali, idealnya 3 kali.

Kode pencatatan:

TahapKode
Pemurnian pertamaP1
Pemurnian keduaP2
Pemurnian ketigaP3

Contoh:

PSB-RZ-01-P1
PSB-RZ-01-P2
PSB-RZ-01-P3

14. Pencatatan morfologi isolat

Setiap isolat harus dicatat.

Format catatan:

ParameterContoh catatan
Kode isolatPSB-RZ-01
Asal sampelRizosfer cabai
Media asalPikovskaya
Pengenceran asal10⁻⁴
Warna koloniKrem
BentukBulat
TepiRata
PermukaanHalus
ElevasiCembung
Zona beningAda
Tanggal isolasi12-05-2026
StatusPemurnian ke-2

15. Contoh tabel seleksi koloni

Kode isolatTargetMedia asalCiri utamaAlasan dipilih
PGPM-RZ-01PGPM umumNAKrem, bulat, halusKoloni terpisah dan stabil
PSB-RZ-01Pelarut fosfatPikovskayaKrem, zona beningIndikasi pelarut fosfat
BAC-RZ-01APH bakteriNAPutih, kering, berkerutCalon Bacillus
TRI-KP-01APH jamurPDAPutih-hijau, cepat tumbuhCalon Trichoderma
PSE-RZ-01APH/PGPMKing’s BHalus, fluoresenCalon Pseudomonas
STR-RZ-01APHSCAKering, bertepungCalon Streptomyces

16. Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanAkibat
Mengambil koloni yang menempel dengan koloni lainIsolat tidak murni
Tidak mengganti atau mensterilkan oseKontaminasi silang
Tidak memberi kode sejak awalIsolat tertukar
Mengambil jamur dari bagian yang terlalu tuaKontaminasi lebih tinggi
Tidak mengulang pemurnianIsolat masih campuran
Membuka cawan terlalu lamaKontaminasi udara
Memilih koloni hanya karena tumbuh cepatBisa kehilangan isolat penting yang tumbuh lambat
Tidak mencatat media asalSulit menelusuri fungsi isolat
Mengabaikan koloni dengan zona beningCalon PGPM potensial terlewat

17. Keamanan kerja

Karena identitas isolat belum pasti, lakukan prinsip aman berikut:

  1. Jangan mencium koloni secara langsung.
  2. Jangan menyentuh koloni dengan tangan.
  3. Jangan membuka cawan terlalu lama.
  4. Gunakan sarung tangan.
  5. Kerjakan di area bersih.
  6. Jangan membawa kultur ke area makan/minum.
  7. Jangan melanjutkan isolat yang berbau busuk kuat.
  8. Sterilkan limbah sebelum dibuang.
  9. Simpan cawan dalam wadah tertutup.
  10. Beri label “kultur mikroba” agar tidak disalahgunakan.

18. Output tahap 6

Hasil akhir Tahap 6 adalah isolat murni sementara yang siap diuji fungsinya.

Output yang diharapkan:

OutputKeterangan
Isolat PGPM murni sementaraCalon mikroba pemacu pertumbuhan
Isolat PSBCalon bakteri pelarut fosfat
Isolat KSBCalon bakteri pelarut kalium
Isolat BacillusCalon APH dan PGPM
Isolat PseudomonasCalon APH dan PGPM
Isolat TrichodermaCalon APH jamur
Isolat StreptomycesCalon APH bakteri berfilamen
Catatan morfologi isolatData dasar tiap isolat

✓ Ringkasan Tahap 6

Pilih cawan dengan koloni terpisah → amati morfologi koloni → pilih koloni potensial → beri kode → ambil satu koloni dengan ose steril → gores ke media baru → inkubasi → ulangi 2–3 kali sampai koloni seragam.


Tahap 7: Uji Fungsi PGPM dan APH

Tujuan tahap ini

Tahap 7 bertujuan menguji apakah isolat yang sudah dimurnikan benar-benar memiliki fungsi bermanfaat.

Pada Tahap 6, kita baru mendapatkan isolat yang tampak murni. Namun, isolat murni belum tentu berguna. Karena itu, perlu dilakukan uji fungsi.

Fokus uji dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Uji fungsi PGPM Untuk mengetahui kemampuan isolat dalam mendukung pertumbuhan tanaman.

  2. Uji fungsi APH Untuk mengetahui kemampuan isolat dalam menekan patogen penyebab penyakit tanaman.

tahap-7-isolasi-mikroba

1. Definisi istilah penting

IstilahArti
PGPMPlant Growth Promoting Microorganisms, mikroba pemacu pertumbuhan tanaman
APHAgen Pengendali Hayati, mikroba yang membantu menekan patogen tanaman
Patogen tanamanMikroba penyebab penyakit pada tanaman
AntagonisMikroba yang mampu menghambat mikroba lain
Zona beningArea jernih di sekitar koloni, tanda aktivitas pelarutan atau hambatan
Zona hambatArea terhambatnya pertumbuhan patogen
IAAIndole-3-Acetic Acid, hormon auksin alami yang dapat merangsang pertumbuhan akar
SideroforSenyawa pengikat besi yang membantu mikroba bersaing dan dapat menekan patogen
Vigor benihKekuatan tumbuh benih, dilihat dari panjang akar, tunas, dan persentase kecambah

2. Prinsip seleksi fungsi

Jangan langsung memakai isolat ke tanaman luas.

Urutannya harus:

Isolat murni
Uji fungsi di laboratorium
Uji keamanan sederhana pada benih
Uji pot kecil
Seleksi isolat terbaik
Baru dipertimbangkan untuk formulasi

Isolat yang baik harus memenuhi tiga syarat utama:

Aman
Stabil
Memberi efek positif

Diagram Tahap 7 — Uji Fungsi PGPM dan APH

Rendering diagram...

3. Uji fungsi utama untuk PGPM

PGPM diuji berdasarkan kemampuan meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Uji awal yang disarankan:

Fungsi PGPMUji yang dilakukanIndikator positif
Pelarut fosfatMedia Pikovskaya / NBRIPZona bening
Pelarut kaliumMedia AleksandrovZona bening
Penghasil IAAMedia cair + L-triptofan + reagen SalkowskiWarna merah muda
Penghasil sideroforMedia CASZona oranye/kuning
Penambat nitrogen awalMedia tanpa nitrogenIsolat mampu tumbuh
Pemacu vigor benihUji perkecambahanAkar/tunas lebih baik dari kontrol

4. Uji pelarut fosfat

  • Tujuan

Mengetahui apakah isolat mampu melarutkan fosfat tidak larut menjadi bentuk yang lebih tersedia bagi tanaman.

  • Media

Gunakan salah satu:

Pikovskaya Agar
NBRIP Agar
  • Langkah kerja
  1. Siapkan isolat murni.
  2. Gores atau totol isolat pada media Pikovskaya atau NBRIP.
  3. Inkubasi pada suhu 28–30°C.
  4. Amati selama 2–5 hari.
  5. Lihat apakah muncul zona bening di sekitar koloni.
  • Indikator positif

Isolat positif bila muncul:

Zona bening di sekitar koloni

Semakin besar dan semakin jelas zona bening, semakin menarik isolat tersebut untuk diuji lanjut.

  • Data yang dicatat
ParameterKeterangan
Kode isolatMisalnya PSB-RZ-01
Diameter koloniUkuran koloni
Diameter zona beningUkuran zona bening + koloni
Hari muncul zonaHari ke-2, ke-3, dst.
Kejelasan zonasamar, sedang, jelas
  • Skor praktis
HasilSkor
Tidak ada zona bening0
Zona bening samar1
Zona bening sedang2
Zona bening jelas dan besar3

5. Uji pelarut kalium

  • Tujuan

Mengetahui apakah isolat mampu membantu melarutkan kalium dari mineral tidak larut.

  • Media

Gunakan:

Aleksandrov Agar
  • Langkah kerja
  1. Totol isolat murni pada media Aleksandrov.
  2. Inkubasi pada suhu 28–30°C.
  3. Amati selama 3–7 hari.
  4. Lihat apakah terbentuk zona bening.
  • Indikator positif
Koloni tumbuh + ada zona bening di sekitar koloni
  • Catatan seleksi

Pilih isolat yang:

  • Zona bening jelas
  • Tumbuh stabil
  • Tidak berubah morfologi saat dimurnikan ulang
  • Tidak menghambat perkecambahan benih

6. Uji penghasil IAA

  • Tujuan

Mengetahui apakah isolat mampu menghasilkan senyawa mirip hormon auksin yang dapat membantu pertumbuhan akar.

IAA adalah Indole-3-Acetic Acid, salah satu bentuk auksin.

  • Prinsip uji

Isolat ditumbuhkan pada media cair yang diberi L-triptofan. Jika isolat menghasilkan IAA, setelah ditambah reagen Salkowski akan muncul warna merah muda sampai kemerahan.

  • Bahan umum
BahanFungsi
Media cair Nutrient Broth atau Tryptic Soy BrothMenumbuhkan bakteri
L-triptofanPrekursor pembentukan IAA
Reagen SalkowskiIndikator perubahan warna
Tabung reaksiWadah uji
Isolat murniMikroba yang diuji
  • Langkah kerja sederhana
  1. Masukkan isolat ke media cair yang mengandung L-triptofan.
  2. Inkubasi pada suhu 28–30°C selama 24–72 jam.
  3. Ambil cairan kultur bagian atas atau filtratnya.
  4. Tambahkan reagen Salkowski.
  5. Diamkan beberapa menit di tempat tidak terkena cahaya langsung.
  6. Amati perubahan warna.
  • Indikator positif
WarnaInterpretasi
Tidak berubahNegatif atau sangat rendah
Merah muda pucatPositif lemah
Merah muda jelasPositif sedang
Merah kemerahanPositif kuat
  • Catatan penting

Isolat penghasil IAA tinggi belum tentu selalu terbaik. IAA yang terlalu tinggi dapat mengganggu pertumbuhan akar. Karena itu, hasil uji IAA harus dikonfirmasi dengan uji benih atau uji pot kecil.


7. Uji siderofor

  • Tujuan

Mengetahui apakah isolat mampu menghasilkan siderofor, yaitu senyawa yang mengikat besi.

Siderofor penting karena:

  • Membantu mikroba memperoleh unsur besi

  • Membantu mikroba bersaing di sekitar akar

  • Dapat menekan patogen karena patogen kekurangan besi

  • Mendukung fungsi PGPM dan APH

  • Media

Gunakan:

CAS Agar

CAS adalah Chrome Azurol S Agar, media indikator untuk siderofor.

  • Langkah kerja
  1. Totol isolat pada CAS Agar.
  2. Inkubasi pada suhu 28–30°C.
  3. Amati selama 2–5 hari.
  4. Perhatikan perubahan warna di sekitar koloni.
  • Indikator positif

Isolat positif bila muncul:

Zona oranye / kuning di sekitar koloni
  • Skor praktis
HasilSkor
Tidak ada perubahan warna0
Zona oranye kecil1
Zona oranye sedang2
Zona oranye jelas dan luas3

8. Uji kemampuan tumbuh pada media tanpa nitrogen

  • Tujuan

Menyeleksi awal isolat yang berpotensi berperan dalam siklus nitrogen.

  • Media

Gunakan media tanpa nitrogen, misalnya:

Ashby
N-free malate
JNFb
  • Langkah kerja
  1. Inokulasikan isolat ke media tanpa nitrogen.
  2. Inkubasi pada suhu 28–30°C.
  3. Amati pertumbuhan selama 2–7 hari.
  4. Bandingkan dengan kontrol tanpa isolat.
  • Indikator awal positif
Isolat mampu tumbuh pada media tanpa nitrogen
  • Catatan penting

Kemampuan tumbuh pada media tanpa nitrogen belum cukup untuk menyatakan isolat sebagai penambat nitrogen kuat. Itu baru indikasi awal. Perlu uji lanjutan untuk memastikan fungsinya.


9. Uji vigor benih untuk PGPM

  • Tujuan

Mengetahui apakah isolat memberi efek positif, netral, atau negatif terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal tanaman.

Ini uji yang sangat penting karena isolat yang bagus di media laboratorium belum tentu bagus untuk tanaman.

  • Bahan
BahanFungsi
Benih sehat dan seragamBahan uji
Isolat murniPerlakuan
Air steril / NaCl sterilKontrol
Tisu steril / kertas merang / kapas sterilMedia perkecambahan
Wadah sterilTempat uji
LabelIdentitas perlakuan
  • Perlakuan minimal

Gunakan minimal dua perlakuan:

Kontrol       : benih tanpa isolat
Perlakuan 1   : benih + isolat PGPM

Lebih baik jika ada beberapa isolat:

Kontrol
PGPM-01
PGPM-02
PGPM-03
PSB-01
BAC-01
PSE-01
  • Langkah kerja
  1. Pilih benih yang ukurannya seragam.
  2. Rendam atau perlakukan benih dengan suspensi isolat.
  3. Susun benih di atas media perkecambahan lembap.
  4. Inkubasi pada kondisi sesuai kebutuhan benih.
  5. Amati selama beberapa hari.
  6. Catat persentase kecambah, panjang akar, panjang tunas, dan kondisi bibit.
  • Data yang dicatat
ParameterKeterangan
Persentase kecambahBerapa persen benih tumbuh
Panjang akarIndikator efek pada akar
Panjang tunasIndikator pertumbuhan awal
Jumlah akar lateralIndikator stimulasi akar
Warna kecambahSehat atau pucat
Gejala busukAda atau tidak
Vigor umumLemah, sedang, kuat
  • Interpretasi
HasilKeputusan
Kecambah lebih baik dari kontrolIsolat layak lanjut
Sama dengan kontrolIsolat netral, masih bisa diuji lanjut
Kecambah lebih buruk dari kontrolIsolat tidak diprioritaskan
Muncul busuk benih/akarIsolat dihentikan

10. Uji fungsi utama untuk APH

APH diuji berdasarkan kemampuannya menekan patogen tanaman.

Uji awal yang disarankan:

Fungsi APHUji yang dilakukanIndikator positif
Antagonis jamur patogenDual culturePertumbuhan patogen terhambat
Antibiosis bakteriZona hambatAda area hambatan
Kompetisi ruangPertumbuhan APH cepat dan menekan patogen
MikoparasitismeAPH tumbuh menutupi patogenPerlu pengamatan lanjut
Proteksi awal tanamanUji benih/pot kecilTanaman lebih sehat dibanding kontrol sakit

11. Uji antagonis APH dengan metode dual culture

  • Tujuan

Mengetahui apakah isolat APH mampu menghambat pertumbuhan patogen tanaman pada media agar.

Uji ini umum digunakan untuk calon APH seperti:

  • Trichoderma

  • Bacillus

  • Pseudomonas

  • Streptomyces

  • Yeast antagonis

  • Catatan keamanan

Gunakan hanya patogen tanaman yang jelas asal-usulnya dan ditangani di laboratorium yang sesuai. Jangan menggunakan mikroba dari manusia, hewan, feses, limbah medis, atau sumber berisiko.


✓ A. Dual culture untuk Trichoderma melawan jamur patogen

  • Media

Biasanya menggunakan:

PDA
  • Prinsip

APH dan patogen ditumbuhkan pada satu cawan yang sama, tetapi ditempatkan berhadapan. Lalu diamati apakah APH mampu menghambat pertumbuhan patogen.

  • Langkah kerja umum
  1. Siapkan cawan PDA baru.
  2. Letakkan potongan kecil patogen tanaman di satu sisi cawan.
  3. Letakkan potongan kecil calon APH di sisi berlawanan.
  4. Jarak antar keduanya dibuat cukup agar pertumbuhan dapat diamati.
  5. Inkubasi pada suhu 25–28°C.
  6. Amati pertumbuhan setiap hari.
  7. Bandingkan dengan kontrol patogen tanpa APH.
  • Indikator positif

Isolat APH dianggap potensial bila:

  • Pertumbuhan patogen lebih lambat dibanding kontrol
  • Ada zona hambat antara APH dan patogen
  • APH tumbuh mendekati atau menutupi patogen
  • Patogen berubah warna, menipis, atau berhenti tumbuh
  • Diameter patogen lebih kecil dibanding kontrol

12. Rumus persentase hambatan patogen

Gunakan rumus:

% hambatan = [(R1 - R2) / R1] × 100

Keterangan:

SimbolArti
R1Jari-jari pertumbuhan patogen pada kontrol tanpa APH
R2Jari-jari pertumbuhan patogen pada perlakuan dengan APH
  • Interpretasi praktis
Persentase hambatanKategori
< 30%Lemah
30–60%Sedang
>60%Kuat

Isolat dengan hambatan di atas 60% layak diprioritaskan untuk uji lanjutan.


13. Uji zona hambat untuk bakteri APH

  • Tujuan

Mengetahui apakah bakteri calon APH menghasilkan senyawa yang dapat menghambat patogen tanaman.

Cocok untuk:

  • Bacillus

  • Pseudomonas

  • Streptomyces

  • Yeast antagonis tertentu

  • Prinsip

Patogen ditumbuhkan di media, lalu calon APH ditempatkan di dekatnya. Jika APH menghasilkan senyawa penghambat, akan muncul area hambatan.

  • Indikator positif
Ada area kosong / zona hambat di sekitar koloni APH
  • Data yang dicatat
ParameterKeterangan
Kode APHMisalnya BAC-RZ-01
Patogen targetMisalnya Fusarium tanaman
Diameter zona hambatDalam mm
Hari pengamatanHari ke-1, ke-2, dst.
KategoriLemah, sedang, kuat

14. Uji proteksi awal pada benih atau bibit

  • Tujuan

Mengetahui apakah APH mampu membantu tanaman bertahan terhadap tekanan penyakit pada skala kecil.

Uji ini dilakukan setelah isolat menunjukkan hasil baik pada uji laboratorium.

  • Perlakuan minimal

Gunakan beberapa perlakuan:

Kontrol sehat             : tanaman tanpa patogen, tanpa APH
Kontrol sakit             : tanaman + patogen, tanpa APH
Perlakuan APH             : tanaman + APH + patogen
Perlakuan APH saja        : tanaman + APH, tanpa patogen
  • Parameter yang diamati
ParameterKeterangan
Persentase tanaman hidupSemakin tinggi semakin baik
Tingkat penyakitLayu, busuk akar, rebah semai, bercak
Panjang akarIndikator kesehatan akar
Bobot segar tanamanIndikator pertumbuhan
Warna daunHijau, pucat, kuning
Gejala fitotoksikAda/tidak efek negatif dari isolat
  • Interpretasi

APH layak lanjut bila:

  • Tanaman perlakuan APH lebih sehat daripada kontrol sakit
  • Tingkat penyakit lebih rendah
  • Akar lebih baik
  • Tidak ada gejala toksik pada tanaman
  • APH saja tidak merusak tanaman

15. Uji keamanan sederhana pada benih

Sebelum isolat PGPM atau APH dipakai ke tanaman, lakukan uji keamanan awal.

  • Tujuan

Mengetahui apakah isolat menyebabkan gangguan pada benih atau kecambah.

  • Tanda isolat tidak aman untuk lanjut

Hentikan isolat bila muncul:

  • Benih busuk
  • Akar menghitam
  • Kecambah pendek abnormal
  • Bau busuk
  • Pertumbuhan jamur liar berlebihan
  • Persentase kecambah turun tajam
  • Bibit layu setelah perlakuan isolat

Isolat pertanian yang baik seharusnya tidak merusak benih atau akar muda.


16. Skoring seleksi isolat

Gunakan sistem skor agar seleksi lebih objektif.

✓ A. Skor PGPM

KriteriaSkor 0Skor 1Skor 2Skor 3
Pelarut fosfatTidak adaLemahSedangKuat
Pelarut kaliumTidak adaLemahSedangKuat
IAATidak adaLemahSedangKuat
SideroforTidak adaLemahSedangKuat
Tumbuh stabilTidakKurangCukupStabil
Uji benihMenghambatNetralMeningkat sedangMeningkat kuat
  • Prioritas PGPM

Pilih isolat dengan:

Skor tinggi
Tidak menghambat benih
Stabil saat dikultur ulang
Efek positif pada akar

✓ B. Skor APH

KriteriaSkor 0Skor 1Skor 2Skor 3
Hambatan patogenTidak ada< 30%30–60%>60%
Zona hambatTidak adaKecilSedangBesar
Pertumbuhan APHTidak stabilLambatSedangCepat stabil
Uji benihMerusakNetralCukup amanAman dan mendukung
Uji proteksi awalTidak melindungiLemahSedangKuat
  • Prioritas APH

Pilih isolat dengan:

Hambatan patogen tinggi
Tidak merusak tanaman
Pertumbuhan stabil
Mudah diperbanyak
Efek proteksi terlihat

17. Contoh tabel hasil uji PGPM

Kode isolatPelarut PIAASideroforUji benihKeputusan
PGPM-RZ-01SedangSedangPositifAkar lebih panjangLanjut
PSB-RZ-01KuatLemahNegatifNetralLanjut sebagai PSB
PGPM-RZ-02LemahKuatPositifAkar pendekTidak prioritas
BAC-RZ-01SedangSedangPositifVigor naikLanjut

18. Contoh tabel hasil uji APH

Kode isolatTarget patogenHambatanUji benihKeputusan
TRI-KP-01Fusarium tanaman72%AmanLanjut
BAC-RZ-01Rhizoctonia tanaman55%AmanLanjut
PSE-RZ-01Fusarium tanaman35%Vigor naikLanjut terbatas
APH-RZ-04Patogen tanaman20%NetralTidak prioritas

19. Kriteria isolat yang layak masuk tahap berikutnya

Isolat layak dilanjutkan bila memenuhi sebagian besar kriteria berikut:

✓ Untuk PGPM

  • Memiliki minimal satu fungsi utama yang jelas
  • Tidak menghambat perkecambahan
  • Meningkatkan panjang akar atau tunas
  • Tumbuh stabil
  • Tidak berbau busuk
  • Mudah dikultur ulang
  • Tidak mudah terkontaminasi

✓ Untuk APH

  • Menghambat patogen tanaman
  • Tidak merusak benih atau bibit
  • Tumbuh stabil
  • Mudah dimurnikan ulang
  • Memiliki efek proteksi awal
  • Tidak menunjukkan ciri berisiko

20. Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanAkibat
Menganggap zona bening sebagai bukti finalPerlu uji tanaman juga
Hanya memilih isolat yang tumbuh cepatBisa melewatkan isolat potensial lain
Tidak memakai kontrolHasil sulit dipercaya
Tidak mengulang ujiData kurang kuat
Tidak mencatat ukuran zonaSeleksi tidak objektif
Langsung aplikasi ke lahan luasRisiko gagal atau tidak aman
Mengabaikan uji benihIsolat bisa merusak akar muda
Mencampur banyak isolat tanpa uji kompatibilitasIsolat bisa saling menghambat

21. Output tahap 7

Hasil akhir Tahap 7 adalah daftar isolat terpilih berdasarkan fungsi.

Output yang diharapkan:

OutputKeterangan
Kandidat PGPM terbaikIsolat yang mendukung pertumbuhan tanaman
Kandidat PSB terbaikIsolat pelarut fosfat dengan zona jelas
Kandidat KSB terbaikIsolat pelarut kalium dengan zona jelas
Kandidat APH terbaikIsolat yang menghambat patogen tanaman
Data uji benihBukti awal aman/tidaknya isolat
Skor seleksiDasar memilih isolat terbaik
Isolat prioritasSiap masuk penyimpanan dan uji awal/pot kecil

✓ Ringkasan Tahap 7

Isolat murni → uji fungsi PGPM seperti pelarut fosfat, pelarut kalium, IAA, siderofor, dan vigor benih → uji fungsi APH seperti dual culture, zona hambat, dan uji proteksi awal → beri skor → pilih isolat yang aman, stabil, dan memberi efek positif.


Tahap 8: Kode Isolat, Penyimpanan, dan Uji Awal

Tujuan tahap ini

Tahap 8 bertujuan menata, menyimpan, dan menguji isolat terpilih secara awal agar isolat tidak tertukar, tetap hidup, stabil, dan siap digunakan untuk uji lanjutan.

Pada tahap ini, isolat yang sudah lolos seleksi awal dari Tahap 7 belum langsung dianggap sebagai produk. Isolat masih perlu:

Diberi kode jelas
Disimpan dengan benar
Dicatat karakteristiknya
Diuji ulang stabilitas dan keamanannya
Diuji pada benih atau pot kecil
Dipilih isolat terbaik
tahap-8-isolasi-mikroba

1. Prinsip utama Tahap 8

Isolat yang bagus harus memenuhi empat syarat:

SyaratPenjelasan
TertelusurAsal sampel, media, dan hasil uji jelas
MurniTidak tercampur mikroba lain
StabilBentuk koloni dan fungsi tidak berubah saat dikultur ulang
Aman untuk tanamanTidak menurunkan kecambah, tidak menyebabkan busuk, tidak menghambat akar

Jadi, tahap ini bukan hanya menyimpan isolat, tetapi juga memastikan isolat layak masuk uji lanjutan.


Diagram Tahap 8 — Kode Isolat, Penyimpanan, dan Uji Awal

Rendering diagram...

2. Pemberian kode isolat

Setiap isolat wajib memiliki kode unik.

Format kode yang disarankan:

Kelompok fungsi - Sumber sampel - Nomor isolat

Contoh:

Kode isolatArti
PGPM-RZ-01Calon mikroba pemacu pertumbuhan dari rizosfer nomor 1
PSB-RZ-01Bakteri pelarut fosfat dari rizosfer nomor 1
KSB-RZ-01Bakteri pelarut kalium dari rizosfer nomor 1
BAC-RZ-01Calon Bacillus dari rizosfer nomor 1
PSE-RZ-01Calon Pseudomonas dari rizosfer nomor 1
TRI-KP-01Calon Trichoderma dari kompos nomor 1
STR-RZ-01Calon Streptomyces dari rizosfer nomor 1
APH-RZ-01Calon agen pengendali hayati dari rizosfer nomor 1

Keterangan sumber:

KodeSumber
RZRizosfer
AKAkar
KPKompos
SRSerasah
TNTanah

3. Contoh sistem kode lengkap

Agar lebih rapi, kode bisa dibuat lebih lengkap:

Jenis tanaman - sumber - fungsi - nomor isolat

Contoh:

CB-RZ-PSB-01

Artinya:

  • CB = cabai
  • RZ = rizosfer
  • PSB = bakteri pelarut fosfat
  • 01 = isolat nomor 1

Contoh lain:

TM-RZ-BAC-02

Artinya:

  • TM = tomat
  • RZ = rizosfer
  • BAC = calon Bacillus
  • 02 = isolat nomor 2

Pilih satu sistem kode dan gunakan secara konsisten.


4. Data yang harus dicatat

Setiap isolat harus punya catatan lengkap.

Minimal data yang dicatat:

DataContoh
Kode isolatPSB-RZ-01
Asal sampelRizosfer cabai
LokasiBlok A kebun cabai
Tanggal isolasi12/05/2026
Media asalPikovskaya
Pengenceran asal10⁻⁴
Warna koloniKrem
Bentuk koloniBulat
Tepi koloniRata
TeksturHalus
Fungsi awalPelarut fosfat
Hasil uji benihAkar lebih panjang dari kontrol
StatusLayak simpan dan uji pot kecil

5. Format lembar data isolat

Gunakan format seperti ini:

Kode isolat        :
Tanggal isolasi    :
Asal sampel        :
Jenis tanaman      :
Lokasi             :
Media asal         :
Pengenceran asal   :
Ciri koloni        :
Target fungsi      :
Hasil uji PGPM     :
Hasil uji APH      :
Hasil uji benih    :
Status isolat      :
Catatan khusus     :

Contoh pengisian:

Kode isolat        : PSB-RZ-01
Tanggal isolasi    : 12/05/2026
Asal sampel        : Tanah rizosfer
Jenis tanaman      : Cabai
Lokasi             : Blok A
Media asal         : Pikovskaya
Pengenceran asal   : 10⁻⁴
Ciri koloni        : Krem, bulat, tepi rata, permukaan halus
Target fungsi      : Pelarut fosfat
Hasil uji PGPM     : Zona bening jelas
Hasil uji APH      : Belum diuji
Hasil uji benih    : Akar lebih panjang dari kontrol
Status isolat      : Disimpan sebagai kandidat PGPM
Catatan khusus     : Stabil sampai pemurnian ke-3

6. Membuat kultur simpan pada agar miring

Agar miring atau slant adalah media agar padat di dalam tabung yang dimiringkan saat membeku, sehingga permukaannya lebih luas.

Fungsinya:

  • Menyimpan isolat lebih rapi
  • Mengurangi risiko kontaminasi
  • Menghemat ruang
  • Memudahkan pengambilan kultur ulang
  • Cocok untuk penyimpanan jangka pendek

✓ A. Media agar miring sesuai target isolat

Jenis isolatMedia simpan yang disarankan
Bakteri umum PGPMNA atau TSA slant
PSB / pelarut fosfatNA slant atau Pikovskaya slant
KSB / pelarut kaliumNA slant atau Aleksandrov slant
BacillusNA atau TSA slant
PseudomonasNA, TSA, atau King’s B slant
TrichodermaPDA atau TSM slant
StreptomycesStarch Casein Agar slant

Untuk penyimpanan umum, gunakan media yang membuat isolat stabil. Untuk isolat yang sensitif, gunakan media yang sama dengan media asalnya.


7. Cara membuat agar miring

Langkah umum:

  1. Siapkan media agar sesuai kebutuhan.
  2. Masukkan media cair ke tabung steril.
  3. Sterilkan media.
  4. Setelah steril, letakkan tabung dalam posisi miring.
  5. Biarkan sampai media memadat.
  6. Setelah padat, agar miring siap diinokulasi isolat.

Agar miring yang baik:

  • Permukaannya miring dan cukup luas
  • Tidak terlalu basah
  • Tidak retak
  • Tidak terkontaminasi
  • Tabung tertutup rapat
  • Label jelas

8. Memindahkan isolat ke agar miring

✓ Langkah kerja

  1. Ambil isolat murni dari cawan pemurnian terakhir.
  2. Gunakan ose steril.
  3. Goreskan isolat pada permukaan agar miring.
  4. Jangan menusuk terlalu dalam ke media.
  5. Tutup tabung dengan rapat.
  6. Beri label lengkap.
  7. Inkubasi sebentar sampai mikroba tumbuh.
  8. Setelah tumbuh baik, simpan di lemari es.

✓ Waktu inkubasi sebelum disimpan

Jenis isolatSuhuWaktu sebelum disimpan
Bakteri umum28–30°C24–48 jam
Bacillus28–30°C24–48 jam
Pseudomonas28–30°C24–48 jam
PSB / KSB28–30°C2–4 hari
Trichoderma25–28°C3–5 hari
Streptomyces28–30°C5–10 hari

Jangan menyimpan tabung sebelum isolat tumbuh dengan baik, karena nanti sulit memastikan isolat masih hidup.


9. Label pada tabung agar miring

Label minimal:

Kode isolat
Media simpan
Tanggal simpan
Nama operator

Contoh:

PSB-RZ-01
NA Slant
15/05/2026
Operator: A

Untuk isolat yang sudah diuji fungsi, tambahkan status:

PSB-RZ-01
Pelarut fosfat kuat
NA Slant
15/05/2026

10. Penyimpanan jangka pendek

Untuk penyimpanan jangka pendek, simpan agar miring di suhu:

±4°C

Umumnya menggunakan lemari es laboratorium.

Tujuannya:

  • Memperlambat pertumbuhan mikroba
  • Mengurangi perubahan karakter
  • Menjaga isolat tetap hidup
  • Mengurangi kebutuhan subkultur terlalu sering

Jangan simpan kultur mikroba di lemari es yang digunakan untuk makanan.


11. Lama penyimpanan jangka pendek

Lama penyimpanan tergantung jenis isolat.

Jenis isolatLama simpan sementara
Bakteri umum1–3 bulan
Bacillus3–6 bulan, kadang lebih stabil
Pseudomonas1–2 bulan
PSB / KSB1–3 bulan
Trichoderma2–6 bulan
Streptomyces3–6 bulan

Tetap lakukan pengecekan berkala karena viabilitas isolat bisa berbeda-beda.


12. Penyimpanan jangka lebih panjang

Jika fasilitas laboratorium tersedia, isolat bisa disimpan dengan metode yang lebih stabil.

Pilihan umum:

MetodeKeterangan
Agar miring di 4°CMudah, cocok jangka pendek
Gliserol stok bekuCocok untuk bakteri, lebih stabil
Penyimpanan spora jamurCocok untuk Trichoderma
LiofilisasiSangat baik, tetapi butuh fasilitas khusus

Untuk skala praktis, minimal buat dua stok:

Stok kerja
Stok cadangan

Stok kerja digunakan untuk aktivitas rutin. Stok cadangan disimpan dan jarang dibuka.


13. Konsep stok kerja dan stok master

Sebaiknya isolat dibagi menjadi dua kelompok.

✓ A. Stok master

Stok master adalah stok utama.

Ciri:

  • Disimpan paling aman
  • Jarang dibuka
  • Tidak dipakai untuk kerja harian
  • Menjadi sumber bila stok kerja rusak

✓ B. Stok kerja

Stok kerja adalah stok yang digunakan untuk uji rutin.

Ciri:

  • Boleh sering digunakan
  • Dibuat dari stok master
  • Diganti secara berkala
  • Tidak boleh menjadi satu-satunya stok

Prinsipnya:

Stok master jangan sering dibuka.
Gunakan stok kerja untuk aktivitas harian.

14. Pemeriksaan kemurnian setelah penyimpanan

Setelah isolat disimpan, lakukan pengecekan ulang.

Caranya:

  1. Ambil sedikit kultur dari agar miring.
  2. Goreskan ke media baru.
  3. Inkubasi sesuai jenis mikroba.
  4. Amati apakah koloni tetap seragam.
  5. Bandingkan dengan catatan morfologi sebelumnya.

Isolat dianggap stabil bila:

  • Warna tetap sama
  • Bentuk koloni tetap sama
  • Tekstur tidak berubah drastis
  • Tidak muncul koloni lain
  • Fungsi awal masih muncul saat diuji ulang

15. Uji viabilitas isolat

Viabilitas berarti kemampuan isolat untuk tetap hidup.

Tanda isolat masih viabel:

  • Tumbuh kembali saat digores ke media baru
  • Koloni muncul dalam waktu normal
  • Bentuk koloni masih sesuai catatan
  • Tidak muncul kontaminan dominan
  • Tidak ada bau busuk atau perubahan aneh

Jika isolat tidak tumbuh kembali, isolat dianggap lemah atau mati dan perlu diganti dari stok cadangan.


16. Uji awal pada benih

Setelah isolat stabil, lakukan uji awal pada benih untuk memastikan efeknya terhadap tanaman.

✓ Tujuan

Menilai apakah isolat:

  • Aman untuk benih
  • Tidak menyebabkan busuk
  • Meningkatkan perkecambahan
  • Meningkatkan panjang akar
  • Meningkatkan vigor awal

✓ Perlakuan minimal

Gunakan:

Kontrol tanpa isolat
Isolat 1
Isolat 2
Isolat 3

Jika isolat berasal dari kelompok berbeda, bisa diuji terpisah:

PGPM-RZ-01
PSB-RZ-01
BAC-RZ-01
TRI-KP-01
PSE-RZ-01

✓ Parameter yang diamati

ParameterArti
Persentase kecambahJumlah benih yang tumbuh
Panjang akarEfek terhadap akar
Panjang tunasEfek terhadap pertumbuhan awal
Jumlah akar lateralIndikator stimulasi akar
Warna kecambahHijau/sehat atau pucat
Gejala busukAda/tidak efek negatif
Keseragaman bibitSeragam atau tidak

Isolat yang menyebabkan benih busuk, akar pendek, atau kecambah abnormal sebaiknya tidak dilanjutkan.


17. Uji awal pada pot kecil

Setelah lolos uji benih, lanjutkan ke pot kecil.

✓ Tujuan

Mengetahui apakah isolat memberikan efek positif pada tanaman dalam media tanam yang lebih nyata.

✓ Desain sederhana

Minimal gunakan:

PerlakuanKeterangan
KontrolTanpa isolat
PGPM-01Perlakuan isolat PGPM
PSB-01Perlakuan isolat pelarut fosfat
APH-01Perlakuan isolat APH
Konsorsium sederhanaGabungan isolat yang kompatibel, bila sudah diuji

Gunakan minimal 3 ulangan per perlakuan agar hasil lebih dapat dipercaya.


18. Parameter uji pot kecil

Amati:

ParameterWaktu pengamatan
Tinggi tanamanMingguan
Jumlah daunMingguan
Warna daunMingguan
Panjang akarAkhir uji
Bobot segar tajukAkhir uji
Bobot segar akarAkhir uji
Gejala penyakitSelama uji
Gejala fitotoksikSelama uji
Keseragaman tanamanSelama uji

Untuk PGPM, fokus pada peningkatan pertumbuhan.

Untuk APH, fokus pada kesehatan tanaman dan penurunan gejala penyakit jika ada uji tekanan patogen tanaman.


19. Contoh desain uji pot sederhana

Misalnya menguji 4 isolat pada cabai.

PerlakuanUlanganJumlah pot
Kontrol tanpa isolat33 pot
PGPM-RZ-0133 pot
PSB-RZ-0133 pot
BAC-RZ-0133 pot
TRI-KP-0133 pot

Total:

5 perlakuan × 3 ulangan = 15 pot

Catatan penting: semua pot harus menggunakan media, volume air, umur bibit, dan kondisi lingkungan yang sama.


20. Uji kompatibilitas isolat sebelum dibuat konsorsium

Jangan langsung mencampur banyak isolat.

Isolat perlu diuji apakah saling cocok.

✓ Tujuan

Mengetahui apakah satu isolat menghambat isolat lain.

Contoh kombinasi yang sering diinginkan:

Bacillus + Trichoderma
Bacillus + PSB
Pseudomonas + PSB
Trichoderma + Streptomyces
PGPM + APH

✓ Prinsip uji sederhana

Letakkan dua isolat pada media yang sama dengan jarak tertentu, lalu amati apakah terjadi hambatan.

Kombinasi dianggap kurang cocok bila:

  • Salah satu isolat tidak tumbuh
  • Ada zona hambat kuat di antara keduanya
  • Salah satu isolat menutup total isolat lain
  • Pertumbuhan berubah abnormal

Konsorsium hanya dibuat dari isolat yang saling kompatibel.


21. Evaluasi stabilitas fungsi

Isolat yang sudah disimpan perlu diuji ulang fungsinya.

Contoh:

IsolatFungsi awalUji ulang
PSB-RZ-01Pelarut fosfatUlangi di Pikovskaya/NBRIP
KSB-RZ-01Pelarut kaliumUlangi di Aleksandrov
PGPM-RZ-01Meningkatkan vigorUlangi uji benih
TRI-KP-01Antagonis patogenUlangi dual culture
BAC-RZ-01Zona hambatUlangi uji antagonis

Isolat layak lanjut bila fungsinya tetap muncul setelah penyimpanan dan subkultur ulang.


22. Skoring akhir isolat

Gunakan skor untuk menentukan isolat terbaik.

KriteriaSkor 1Skor 2Skor 3
KemurnianSering kontaminasiCukup stabilStabil
Pertumbuhan ulangLambat/lemahSedangCepat dan normal
Fungsi PGPM/APHLemahSedangKuat
Uji benihNetralCukup baikMeningkatkan vigor
Uji potTidak berbedaSedikit lebih baikJelas lebih baik dari kontrol
PenyimpananSulit disimpanCukup stabilStabil di stok
Keamanan tanamanAda gejala ringanAmanAman dan mendukung pertumbuhan

Prioritaskan isolat dengan skor total tertinggi.


23. Kriteria isolat layak lanjut

✓ A. Kandidat PGPM layak lanjut bila:

  • Stabil saat disimpan
  • Tumbuh ulang dengan baik
  • Tidak menghambat benih
  • Meningkatkan akar atau tunas
  • Memiliki fungsi jelas, misalnya pelarut fosfat, pelarut kalium, IAA sedang, atau siderofor
  • Memberi hasil lebih baik dari kontrol pada uji pot kecil

✓ B. Kandidat APH layak lanjut bila:

  • Stabil saat disimpan
  • Tidak merusak benih atau bibit
  • Mampu menghambat patogen tanaman pada uji awal
  • Memberi proteksi pada uji pot kecil
  • Tidak menimbulkan gejala negatif pada tanaman
  • Bisa dikultur ulang dengan mudah

24. Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanAkibat
Kode isolat tidak konsistenIsolat tertukar
Label hanya ditulis di tutup cawanData hilang jika tutup tertukar
Tidak membuat stok cadanganIsolat hilang jika stok kerja rusak
Menyimpan kultur di kulkas makananTidak aman
Tidak mengecek kemurnian ulangKontaminasi tidak terdeteksi
Langsung membuat konsorsiumIsolat bisa saling menghambat
Tidak memakai kontrol pada uji potEfek isolat sulit dinilai
Tidak mencatat tanggal subkulturUmur isolat tidak terpantau
Terlalu sering subkulturRisiko perubahan karakter meningkat

25. Keamanan dan pembuangan limbah

Karena isolat belum tentu teridentifikasi penuh, perlakukan sebagai bahan biologis yang perlu hati-hati.

Aturan aman:

  1. Simpan kultur di tempat khusus, bukan area makanan.
  2. Jangan membuka tabung/cawan sembarangan.
  3. Jangan mencium kultur secara langsung.
  4. Jangan memakai isolat yang berbau busuk tajam.
  5. Jangan menyebarkan isolat ke lahan luas sebelum uji bertahap.
  6. Sterilkan limbah kultur sebelum dibuang.
  7. Cawan lama, tips, dan tabung bekas harus dimatikan dahulu dengan autoklaf atau disinfektan yang sesuai.
  8. Catat semua isolat yang disimpan dan yang dibuang.

26. Output akhir Tahap 8

Hasil akhir Tahap 8 adalah:

OutputKeterangan
Kode isolat finalSemua isolat punya identitas jelas
Stok agar miringIsolat tersimpan jangka pendek
Stok cadanganMenghindari kehilangan isolat
Lembar data isolatAsal, ciri, fungsi, dan status tercatat
Hasil uji viabilitasIsolat terbukti masih hidup
Hasil uji benihIsolat aman atau tidak untuk kecambah
Hasil uji pot kecilIsolat dibandingkan dengan kontrol
Daftar isolat prioritasKandidat terbaik untuk uji lanjutan/formulasi

✓ Ringkasan Tahap 8

Beri kode isolat → catat asal dan cirinya → pindahkan ke agar miring → inkubasi sampai tumbuh → simpan di 4°C → buat stok kerja dan stok cadangan → cek kemurnian dan viabilitas → uji benih → uji pot kecil → pilih isolat terbaik.


Pembuatan Media

Media merupakan komponen utama dalam proses isolasi, pemurnian, uji fungsi, dan penyimpanan mikroba. Tanpa media yang sesuai, mikroba target sulit tumbuh dengan baik, koloni sulit dibedakan, dan fungsi mikroba seperti pelarutan fosfat, pelarutan kalium, produksi siderofor, atau aktivitas antagonis terhadap patogen tanaman tidak dapat diamati secara jelas.

Dalam isolasi mikroba PGPM dan Agen Pengendali Hayati (APH), setiap media memiliki peran yang berbeda. Ada media yang digunakan sebagai larutan pengencer, media umum untuk menumbuhkan bakteri, media khusus untuk jamur, media selektif untuk kelompok mikroba tertentu, media uji fungsi, serta media penyimpanan dalam bentuk agar miring atau slant.

Karena itu, pembuatan media harus dilakukan dengan teliti. Komposisi bahan, volume air, pH, proses pemanasan, sterilisasi, hingga cara penyimpanan perlu diperhatikan agar media yang dihasilkan steril, stabil, dan mampu mendukung pertumbuhan mikroba sesuai tujuan.

Bagian ini membahas prosedur pembuatan media yang digunakan sepanjang proses isolasi mikroba lokal, mulai dari tahap suspensi awal, pengenceran, penanaman, pemurnian, uji fungsi, sampai penyimpanan isolat.

Fokus media:

  1. NaCl steril 0,85%
  2. NA — Nutrient Agar
  3. TSA — Tryptic Soy Agar
  4. PDA — Potato Dextrose Agar
  5. Pikovskaya Agar
  6. NBRIP Agar
  7. Aleksandrov Agar
  8. King’s B Agar
  9. Starch Casein Agar
  10. YMEA — Yeast Malt Extract Agar
  11. Ashby Mannitol Agar
  12. N-free Malate Semi-solid
  13. CAS Agar
  14. Media agar miring / slant

A. Prinsip Umum Pembuatan Media

✓ 1. Alat dasar

Siapkan:

AlatFungsi
Timbangan digitalMenimbang bahan
Gelas ukurMengukur air
Beaker glass / erlenmeyerMelarutkan media
Hot plate / kompor pemanasMemanaskan media
Magnetic stirrer / batang pengadukMengaduk media
pH meter / kertas pHMengukur pH
Autoklaf / pressure cooker laboratoriumSterilisasi
Cawan petri sterilMedia plate
Tabung reaksiMedia slant
Botol mediaMenyimpan media
Aluminium foil / tutup botolPenutup saat sterilisasi

✓ 2. Aturan umum

Untuk hampir semua media:

Timbang bahan
Larutkan dalam aquadest
Atur pH
Tambahkan agar bila media padat
Panaskan sampai larut
Sterilisasi
Tuang ke cawan atau tabung
Dinginkan
Label dan simpan

✓ 3. Sterilisasi umum

Standar sterilisasi media:

121°C selama 15–20 menit

Jika menggunakan pressure cooker laboratorium:

Tekanan ±15 psi
Waktu 15–20 menit setelah tekanan tercapai

Catatan: bahan sensitif panas seperti antibiotik, beberapa vitamin, dan beberapa indikator sebaiknya disterilkan dengan filter lalu ditambahkan setelah media turun ke suhu ±45–50°C.


✓ 4. Volume media per cawan dan tabung

Bentuk mediaVolume umum
Cawan petri 90 mm15–20 ml per cawan
Tabung agar miring / slant5–7 ml per tabung
Tabung media cair5–10 ml per tabung
Botol stok mediaSesuai kebutuhan

B. Larutan NaCl Steril 0,85%

Dipakai pada:

  • Tahap 2: pembuatan suspensi awal
  • Tahap 3: pengenceran bertingkat
  • Tahap 4: kontrol negatif
  • Tahap 7–8: pembuatan suspensi isolat sederhana

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
NaCl8,5 g
Aquadest1.000 ml

✓ Komposisi 100 ml

BahanJumlah
NaCl0,85 g
Aquadest100 ml

✓ Cara membuat

  1. Timbang NaCl.
  2. Larutkan dalam aquadest.
  3. Masukkan ke botol atau tabung.
  4. Sterilisasi pada 121°C selama 15 menit.
  5. Dinginkan.
  6. Simpan dalam kondisi tertutup.

Catatan: NaCl adalah natrium klorida, bukan chlorine aktif. Jangan gunakan air PAM langsung.


C. NA — Nutrient Agar

Dipakai untuk:

  • Isolasi bakteri umum
  • Bacillus
  • PGPM umum
  • Pemurnian bakteri
  • Media slant bakteri

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Peptone5 g
Beef extract / ekstrak daging3 g
NaCl5 g
Agar15 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir7,0 ± 0,2

✓ Cara membuat

  1. Masukkan ±800 ml aquadest ke erlenmeyer.
  2. Tambahkan peptone, beef extract, dan NaCl.
  3. Aduk sampai larut.
  4. Tambahkan agar.
  5. Tambahkan aquadest sampai volume 1 liter.
  6. Atur pH ke sekitar 7,0.
  7. Panaskan sambil diaduk sampai agar larut.
  8. Sterilisasi pada 121°C selama 15–20 menit.
  9. Dinginkan sampai ±45–50°C.
  10. Tuang ke cawan petri steril sebanyak 15–20 ml per cawan.
  11. Biarkan memadat.

✓ Jika pakai media instan

Biasanya gunakan:

Nutrient Agar powder ±28 g/L

Tetap ikuti dosis pada label produk karena tiap merek bisa berbeda.


D. TSA — Tryptic Soy Agar

Dipakai untuk:

  • Bakteri umum
  • Bacillus
  • Pseudomonas
  • PGPM/APH bakteri
  • Pemurnian isolat bakteri

TSA lebih kaya nutrisi daripada NA.

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Tryptone / pancreatic digest of casein15 g
Soy peptone / papaic digest of soybean meal5 g
NaCl5 g
Agar15 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir7,2–7,3

✓ Cara membuat

  1. Masukkan ±800 ml aquadest ke erlenmeyer.
  2. Tambahkan tryptone, soy peptone, dan NaCl.
  3. Aduk sampai larut.
  4. Tambahkan agar.
  5. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  6. Atur pH ke 7,2–7,3.
  7. Panaskan sampai agar larut.
  8. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  9. Dinginkan sampai ±45–50°C.
  10. Tuang ke cawan petri steril.

✓ Jika pakai media instan

Umumnya:

TSA powder ±40 g/L

Ikuti instruksi merek yang dipakai.


E. PDA — Potato Dextrose Agar

Dipakai untuk:

  • Jamur umum
  • Trichoderma
  • APH jamur
  • Pemurnian jamur
  • Dual culture APH vs patogen tanaman
  • PDA slant untuk penyimpanan Trichoderma

✓ Komposisi 1 liter versi laboratorium

BahanJumlah
Kentang kupas200 g
Dextrose / glucose20 g
Agar15 g
AquadestSampai 1.000 ml
pH akhir±5,6

✓ Cara membuat dari kentang

  1. Kupas kentang.
  2. Potong kecil-kecil.
  3. Rebus 200 g kentang dalam ±500–700 ml aquadest selama 20–30 menit.
  4. Saring air rebusan kentang.
  5. Ambil filtratnya.
  6. Tambahkan dextrose 20 g.
  7. Tambahkan agar 15 g.
  8. Tambahkan aquadest sampai volume 1 liter.
  9. Atur pH sekitar 5,6.
  10. Panaskan sampai agar larut.
  11. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  12. Dinginkan sampai ±45–50°C.
  13. Tuang ke cawan petri steril.

✓ Jika pakai media instan

Umumnya:

PDA powder ±39 g/L

Ikuti label produk.

✓ Catatan

Untuk menekan bakteri pada isolasi jamur, laboratorium kadang menambahkan antibiotik setelah media disterilkan dan suhunya turun ke ±45–50°C. Namun untuk penggunaan praktis, lebih aman gunakan PDA biasa atau TSM siap pakai bila tersedia.


F. Pikovskaya Agar

Dipakai untuk:

  • Isolasi bakteri pelarut fosfat
  • Uji awal PSB
  • Seleksi PGPM pelarut fosfat

PSB = Phosphate Solubilizing Bacteria, bakteri pelarut fosfat.

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Glucose10 g
Tricalcium phosphate / Ca₃(PO₄)₂5 g
Yeast extract0,5 g
Ammonium sulfate / (NH₄)₂SO₄0,5 g
NaCl0,2 g
KCl0,2 g
Magnesium sulfate / MgSO₄·7H₂O0,1 g
Manganese sulfate / MnSO₄0,002 g
Ferrous sulfate / FeSO₄·7H₂O0,002 g
Agar15 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir±7,0

✓ Cara membuat

  1. Masukkan ±800 ml aquadest ke erlenmeyer.
  2. Tambahkan semua bahan kecuali agar.
  3. Aduk sampai merata.
  4. Tambahkan agar.
  5. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  6. Atur pH ke ±7,0.
  7. Panaskan sambil diaduk.
  8. Media akan tampak agak keruh karena tricalcium phosphate tidak larut sempurna. Itu normal.
  9. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  10. Saat akan menuang, goyangkan perlahan agar endapan fosfat tersebar merata.
  11. Tuang ke cawan petri steril.

✓ Indikator hasil

Koloni PSB positif biasanya membentuk:

Zona bening di sekitar koloni

G. NBRIP Agar

Dipakai untuk:

  • Seleksi bakteri pelarut fosfat
  • Alternatif Pikovskaya
  • Sering menghasilkan zona bening lebih jelas

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Glucose10 g
Tricalcium phosphate / Ca₃(PO₄)₂5 g
Magnesium chloride / MgCl₂·6H₂O5 g
Magnesium sulfate / MgSO₄·7H₂O0,25 g
KCl0,2 g
Ammonium sulfate / (NH₄)₂SO₄0,1 g
Agar15 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir±7,0

✓ Cara membuat

  1. Larutkan glucose, MgCl₂, MgSO₄, KCl, dan ammonium sulfate dalam ±800 ml aquadest.
  2. Tambahkan tricalcium phosphate.
  3. Tambahkan agar.
  4. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  5. Atur pH sekitar 7,0.
  6. Panaskan sampai agar larut.
  7. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  8. Goyang perlahan sebelum menuang karena fosfat bisa mengendap.
  9. Tuang ke cawan petri steril.

✓ Catatan

Endapan putih pada media adalah normal karena sumber fosfatnya tidak larut. Justru itu yang menjadi dasar uji pelarutan fosfat.


H. Aleksandrov Agar

Dipakai untuk:

  • Isolasi bakteri pelarut kalium
  • Uji KSB

KSB = Potassium Solubilizing Bacteria, bakteri pelarut kalium.

✓ Komposisi 1 liter versi umum

BahanJumlah
Glucose5 g
Magnesium sulfate / MgSO₄·7H₂O0,5 g
Calcium carbonate / CaCO₃0,1 g
Ferric chloride / FeCl₃0,005 g
Calcium phosphate / Ca₃(PO₄)₂2 g
Sumber K tidak larut: mica/feldspar/potassium aluminosilicate powder2 g
Agar15–20 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir7,0–7,2

✓ Cara membuat

  1. Masukkan ±800 ml aquadest ke erlenmeyer.
  2. Tambahkan glucose, MgSO₄, CaCO₃, FeCl₃, dan Ca₃(PO₄)₂.
  3. Tambahkan sumber kalium tidak larut, misalnya mica atau feldspar halus.
  4. Tambahkan agar.
  5. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  6. Atur pH ke 7,0–7,2.
  7. Panaskan sambil diaduk sampai agar larut.
  8. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  9. Goyang perlahan sebelum menuang agar mineral tidak mengendap berat di bawah.
  10. Tuang ke cawan petri steril.

✓ Indikator hasil

KSB positif biasanya menunjukkan:

Zona bening di sekitar koloni

✓ Catatan penting

Jangan memakai sumber K yang mudah larut sebagai sumber utama kalium, karena tujuan media ini adalah menyeleksi mikroba yang mampu melarutkan kalium dari mineral tidak larut.


I. King’s B Agar

Dipakai untuk:

  • Isolasi Pseudomonas fluorescens
  • Seleksi bakteri rizosfer fluoresen
  • Kandidat PGPM dan APH

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Proteose peptone20 g
Glycerol10 ml
K₂HPO₄1,5 g
MgSO₄·7H₂O1,5 g
Agar15 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir7,0–7,2

✓ Cara membuat

  1. Masukkan ±800 ml aquadest ke erlenmeyer.
  2. Tambahkan proteose peptone, K₂HPO₄, dan MgSO₄.
  3. Tambahkan glycerol.
  4. Tambahkan agar.
  5. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  6. Atur pH ke 7,0–7,2.
  7. Panaskan sampai agar larut.
  8. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  9. Dinginkan sampai ±45–50°C.
  10. Tuang ke cawan petri steril.

✓ Indikator hasil

Beberapa isolat Pseudomonas fluorescens menunjukkan:

Fluoresensi hijau-kuning di bawah lampu UV

J. Starch Casein Agar

Dipakai untuk:

  • Isolasi Streptomyces
  • Actinomycetes tanah
  • Kandidat APH

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Soluble starch10 g
Casein0,3 g
KNO₃2 g
NaCl2 g
K₂HPO₄2 g
MgSO₄·7H₂O0,05 g
CaCO₃0,02 g
FeSO₄·7H₂O0,01 g
Agar15–18 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir7,0–7,2

✓ Cara membuat

  1. Masukkan ±800 ml aquadest ke erlenmeyer.
  2. Tambahkan soluble starch dan casein.
  3. Tambahkan KNO₃, NaCl, K₂HPO₄, MgSO₄, CaCO₃, dan FeSO₄.
  4. Tambahkan agar.
  5. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  6. Atur pH ke 7,0–7,2.
  7. Panaskan sambil diaduk sampai homogen.
  8. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  9. Tuang ke cawan petri steril atau tabung slant.

✓ Ciri target

Streptomyces biasanya tumbuh sebagai koloni:

  • Kering
  • Bertepung
  • Warna putih, abu-abu, krem, atau cokelat
  • Berbau tanah

K. Starch Casein Agar Slant

Dipakai untuk:

  • Penyimpanan sementara Streptomyces
  • Stok kerja isolat actinomycetes

✓ Cara membuat slant

  1. Buat Starch Casein Agar seperti resep di atas.
  2. Saat media masih cair, masukkan 5–7 ml ke tiap tabung reaksi.
  3. Tutup tabung.
  4. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  5. Setelah keluar dari autoklaf, letakkan tabung dalam posisi miring.
  6. Biarkan memadat.
  7. Setelah padat, slant siap diinokulasi.

✓ Penyimpanan setelah inokulasi

  1. Gores isolat Streptomyces pada permukaan slant.
  2. Inkubasi 28–30°C selama 5–10 hari.
  3. Setelah tumbuh baik, simpan di 4°C.

L. YMEA — Yeast Malt Extract Agar

Dipakai untuk:

  • Yeast/khamir rizosfer
  • Yeast antagonis
  • Mikroba fermentatif non-patogen dari lingkungan tanaman

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Yeast extract3 g
Malt extract3 g
Peptone5 g
Glucose / dextrose10 g
Agar15 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir6,0–6,5

✓ Cara membuat

  1. Larutkan yeast extract, malt extract, peptone, dan glucose dalam ±800 ml aquadest.
  2. Tambahkan agar.
  3. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  4. Atur pH ke 6,0–6,5.
  5. Panaskan sampai agar larut.
  6. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  7. Tuang ke cawan petri steril.

M. Ashby Mannitol Agar

Dipakai untuk:

  • Seleksi awal mikroba yang mampu tumbuh pada media tanpa nitrogen
  • Terutama untuk calon Azotobacter dan mikroba terkait siklus nitrogen

✓ Komposisi 1 liter

BahanJumlah
Mannitol20 g
K₂HPO₄0,2 g
MgSO₄·7H₂O0,2 g
NaCl0,2 g
K₂SO₄0,1 g
CaCO₃5 g
Agar15 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir7,0–7,2

✓ Cara membuat

  1. Larutkan mannitol, K₂HPO₄, MgSO₄, NaCl, dan K₂SO₄ dalam ±800 ml aquadest.
  2. Tambahkan CaCO₃.
  3. Tambahkan agar.
  4. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  5. Atur pH ke 7,0–7,2.
  6. Panaskan sampai agar larut.
  7. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  8. Goyang perlahan sebelum menuang karena CaCO₃ dapat mengendap.
  9. Tuang ke cawan petri steril.

✓ Catatan

Pertumbuhan pada media ini hanya indikasi awal. Jangan langsung menyatakan isolat sebagai penambat nitrogen kuat tanpa uji lanjutan.


N. N-free Malate Semi-solid Medium

Dipakai untuk:

  • Seleksi awal Azospirillum dan mikroba terkait penambatan nitrogen
  • Media semi-padat, bukan agar padat penuh

✓ Komposisi 1 liter versi praktis

BahanJumlah
Malic acid5 g
K₂HPO₄0,5 g
KH₂PO₄0,4 g
MgSO₄·7H₂O0,2 g
NaCl0,1 g
CaCl₂0,02 g
FeCl₃0,01 g
Na₂MoO₄·2H₂O0,002 g
Agar1,5–2 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir6,8–7,0

✓ Cara membuat

  1. Larutkan semua garam mineral dalam ±800 ml aquadest.
  2. Tambahkan malic acid.
  3. Atur pH ke 6,8–7,0.
  4. Tambahkan agar rendah, hanya 1,5–2 g/L.
  5. Tambahkan aquadest sampai 1 liter.
  6. Panaskan sampai agar larut.
  7. Masukkan ke tabung sebanyak 5–10 ml.
  8. Sterilisasi 121°C selama 15 menit.
  9. Dinginkan dalam posisi tegak.

✓ Indikator awal

Isolat positif awal biasanya membentuk:

Lapisan pelikel atau cincin pertumbuhan di bawah permukaan media

O. CAS Agar

Dipakai untuk:

  • Uji siderofor
  • Seleksi PGPM dan APH yang mampu mengikat besi

CAS = Chrome Azurol S Agar.

Media ini lebih rumit daripada NA, PDA, atau Pikovskaya. Untuk praktik yang lebih aman dan konsisten, sebaiknya gunakan CAS agar siap pakai atau kit dari supplier laboratorium.

✓ Prinsip hasil

Isolat penghasil siderofor akan membentuk:

Zona oranye / kuning di sekitar koloni

✓ Prosedur praktis bila memakai CAS premix

  1. Timbang CAS agar powder sesuai dosis label produk.
  2. Larutkan dalam aquadest.
  3. Panaskan sampai homogen.
  4. Sterilisasi sesuai instruksi produk.
  5. Dinginkan sampai ±45–50°C.
  6. Tuang ke cawan petri steril.
  7. Biarkan memadat.
  8. Simpan gelap di 4°C.

✓ Catatan penting

CAS sensitif terhadap kesalahan pH, komposisi besi, dan indikator warna. Jika hasil harus valid untuk riset atau produksi, gunakan media komersial atau SOP laboratorium resmi.


P. Media Cair untuk Uji IAA

Dipakai untuk:

  • Uji produksi IAA oleh isolat PGPM
  • Biasanya memakai Nutrient Broth atau Tryptic Soy Broth dengan tambahan L-triptofan

✓ Komposisi 1 liter versi sederhana

BahanJumlah
Nutrient Broth atau Tryptic Soy BrothSesuai label / formula
L-tryptophan0,1–0,5 g
Aquadest1.000 ml
pH akhir7,0 ± 0,2

✓ Cara membuat

  1. Buat media cair NB atau TSB.
  2. Tambahkan L-tryptophan.
  3. Atur pH sekitar 7,0.
  4. Masukkan ke tabung masing-masing 5–10 ml.
  5. Sterilisasi 121°C selama 15 menit.
  6. Dinginkan.
  7. Media siap diinokulasi isolat.

✓ Catatan

Uji IAA memerlukan reagen Salkowski. Reagen ini bukan media pertumbuhan, melainkan reagen deteksi warna.


Q. Media Agar Miring / Slant

Dipakai pada Tahap 8 untuk penyimpanan isolat.

Media yang bisa dibuat slant:

Target isolatMedia slant
Bakteri umumNA slant atau TSA slant
BacillusNA slant / TSA slant
PseudomonasKing’s B slant / NA slant
PSBPikovskaya slant / NA slant
KSBAleksandrov slant / NA slant
TrichodermaPDA slant / TSM slant
StreptomycesStarch Casein Agar slant
YeastYMEA slant

✓ Cara umum membuat slant

  1. Buat media sesuai resep.
  2. Saat masih cair, masukkan 5–7 ml ke tabung reaksi.
  3. Tutup tabung.
  4. Sterilisasi 121°C selama 15–20 menit.
  5. Setelah sterilisasi, letakkan tabung dalam posisi miring.
  6. Biarkan media memadat.
  7. Setelah padat, beri label.
  8. Simpan sampai digunakan.

✓ Cara inokulasi slant

  1. Ambil isolat murni dengan ose steril.
  2. Goreskan pada permukaan slant.
  3. Inkubasi sesuai jenis mikroba.
  4. Setelah tumbuh, simpan di 4°C.

R. Ringkasan Media Berdasarkan Tahap

TahapKebutuhan media / larutan
Tahap 1 — Pengambilan sampelBelum memakai media, hanya wadah steril
Tahap 2 — Suspensi awalNaCl steril 0,85%
Tahap 3 — Pengenceran bertingkatNaCl steril 0,85%
Tahap 4 — Penanaman mediaNA, TSA, PDA, Pikovskaya, NBRIP, Aleksandrov, King’s B, Starch Casein Agar
Tahap 5 — InkubasiMedia hasil penanaman dari Tahap 4
Tahap 6 — PemurnianMedia baru sesuai asal isolat
Tahap 7 — Uji fungsiPikovskaya, NBRIP, Aleksandrov, CAS, media IAA, PDA dual culture, Ashby, N-free malate
Tahap 8 — PenyimpananNA slant, TSA slant, PDA slant, Starch Casein Agar slant, King’s B slant, YMEA slant

S. Ringkasan Fungsi Media

MediaFungsi utama
NaCl steril 0,85%Suspensi dan pengenceran
NABakteri umum
TSABakteri umum, lebih kaya nutrisi
PDAJamur dan Trichoderma
PikovskayaBakteri pelarut fosfat
NBRIPBakteri pelarut fosfat, zona bening sering jelas
AleksandrovBakteri pelarut kalium
King’s BPseudomonas fluorescens
Starch Casein AgarStreptomyces / actinomycetes
YMEAYeast/khamir
Ashby MannitolSeleksi awal mikroba bebas nitrogen
N-free MalateSeleksi awal Azospirillum
CAS AgarUji siderofor
SlantPenyimpanan isolat

T. Quality Control Media

Sebelum media digunakan untuk isolasi, lakukan kontrol sederhana.

✓ Kontrol sterilitas

  1. Ambil 1 cawan dari setiap batch media.
  2. Inkubasi tanpa inokulasi.
  3. Amati 2–3 hari.

Media layak dipakai bila:

Tidak ada pertumbuhan mikroba

Jika muncul koloni pada media kosong, media tidak steril dan jangan digunakan.


✓ Kontrol fungsi

MediaKontrol fungsi sederhana
NA / TSABakteri umum tumbuh baik
PDAJamur tumbuh baik
Pikovskaya / NBRIPTampak keruh karena fosfat tidak larut
AleksandrovAda mineral tidak larut sebagai sumber K
King’s BPseudomonas dapat tumbuh
Starch Casein AgarKoloni actinomycetes tumbuh perlahan
CASWarna dasar stabil dan berubah bila ada siderofor

U. Penyimpanan Media Jadi

Bentuk mediaCara simpanLama simpan praktis
Cawan NA/TSA4°C, terbalik, tertutup2–4 minggu
Cawan PDA4°C, tertutup2–4 minggu
Cawan Pikovskaya/NBRIP4°C, tertutup2–4 minggu
Cawan CAS4°C, gelap1–2 minggu
Slant steril belum diinokulasi4°C1–2 bulan
NaCl sterilSuhu ruang / 4°C1–3 bulan

Sebelum dipakai, keluarkan media dari lemari es dan biarkan mencapai suhu ruang agar tidak banyak kondensasi.


✓ Catatan akhir

Untuk pekerjaan praktis, prioritas media minimal yang perlu dibuat adalah:

NaCl steril 0,85%
NA
PDA
Pikovskaya atau NBRIP
Starch Casein Agar
King’s B
Aleksandrov
Media slant sesuai isolat

Jika fasilitas terbatas, mulai dari:

NaCl steril 0,85%
NA
PDA
Pikovskaya
Agar miring NA dan PDA

Media lainnya bisa ditambahkan setelah isolat awal diperoleh dan siap diuji fungsi.


Lampiran. Grading Kemudahan Isolasi PGPM/APH dan Sumber Mikroba Lokal dari Alam

Lampiran ini digunakan sebagai panduan awal untuk memilih target mikroba yang paling mudah diisolasi oleh pemula serta menentukan sumber sampel alami yang berpeluang tinggi mengandung mikroba bermanfaat. Dalam kelompok PGPM terdapat berbagai mikroba seperti Bacillus, Pseudomonas, Azotobacter, Azospirillum, Trichoderma, Streptomyces, mikoriza, PSB, KSB, dan endofit, dengan fungsi yang berbeda untuk akar, hara, vigor, dan perlindungan tanaman.


Lampiran 1. Grading Kemudahan Isolasi Mikroba dari Alam

TingkatTarget mikrobaKemudahanCocok untuk pemulaKeterangan
1BacillusSangat mudahYaTahan, cepat tumbuh, banyak ditemukan di rizosfer dan kompos
2TrichodermaMudahYaMudah dicari dari kompos, serasah, tanah organik
3PSB / bakteri pelarut fosfatMudah–sedangYaIndikator jelas berupa zona bening pada Pikovskaya/NBRIP
4KSB / bakteri pelarut kaliumSedangSetelah dasar dikuasaiButuh media Aleksandrov dan sumber mineral K tidak larut
5AzotobacterSedangSetelah dasar dikuasaiBisa dicari dari tanah subur dan rizosfer
6Pseudomonas fluorescensSedangPemula menengahLebih baik bila tersedia King’s B dan lampu UV
7StreptomycesSedang–sulitPemula menengahTumbuh lambat, perlu kesabaran dan media khusus
8AzospirillumSulitTidak untuk awalButuh media semi-padat dan interpretasi pelikel
9EndofitSulitTidak disarankan untuk awalPerlu sterilisasi permukaan jaringan tanaman yang rapi
10MikorizaSangat sulitTidak untuk isolasi awalTidak mudah dikultur di cawan agar biasa, perlu akar hidup/inang

Rekomendasi awal untuk pemula:

Bacillus → Trichoderma → PSB → KSB → Pseudomonas → Azotobacter → Streptomyces

Untuk latihan pertama, cukup mulai dari:

1. Bacillus
2. Trichoderma
3. PSB / bakteri pelarut fosfat

Lampiran 2. Sumber Mikroba Lokal dari Alam

Sumber terbaik adalah bagian tanaman atau lingkungan yang sehat, aktif secara biologis, tidak tercemar, dan tidak berbau busuk. Sampel yang diambil sebaiknya berasal dari tanah yang menempel di akar, tanah sekitar akar, kompos matang, atau serasah sehat.

Sumber alamBagian yang diambilTarget mikroba potensialTingkat rekomendasi
Akar bambuTanah yang menempel di akar dan serasah bambu lapukBacillus, Trichoderma, Streptomyces, PSB, dekomposerSangat baik
Akar alang-alangRizosfer dan akar muda sehatPGPR tahan stres, Bacillus, Pseudomonas, Azotobacter, KSBBaik
Rizosfer cabai sehatTanah sekitar akar cabai sehatPGPM spesifik cabai, Bacillus, PSB, PseudomonasSangat baik
Akar tanaman legum/kacanganTanah sekitar akar dan bintil akar sehatRhizobacteria, Azotobacter, PSBBaik
Kompos matangBagian tengah kompos yang sudah stabilTrichoderma, Bacillus, Streptomyces, dekomposerSangat baik
Serasah hutan/kebun sehatDaun lapuk sehat, tanah bawah serasahTrichoderma, Streptomyces, jamur dekomposerBaik
Akar pisang sehatTanah sekitar akar aktifBacillus, Pseudomonas, Trichoderma, PSBBaik
Rizosfer padi/sawah sehatTanah sekitar akar padiAzospirillum, Azotobacter, PSBSedang
Akar jagung/rumput gajahTanah sekitar akar serabutBacillus, Azospirillum, KSB, PSBBaik
Tanah kebun organik lamaTanah sekitar tanaman sehatBacillus, PSB, KSB, StreptomycesBaik
Tanah bawah tanaman liar sehatRizosfer gulma sehat yang tumbuh kuatPGPR adaptif lokalSedang–baik

Lampiran 3. Cara Mengambil Sumber Mikroba dari Alam

A. Akar bambu

Akar bambu sering menjadi sumber mikroba lokal yang menarik karena area perakarannya kaya bahan organik, serasah, dan aktivitas mikroba.

Bagian yang diambil:

  • Tanah yang menempel pada akar bambu
  • Tanah 1–5 cm dari akar
  • Serasah bambu yang sudah lapuk sehat
  • Tanah di bawah lapisan serasah bambu

Target mikroba potensial:

  • Bacillus
  • Trichoderma
  • Streptomyces
  • PSB
  • Mikroba dekomposer

Cara mengambil:

  1. Pilih rumpun bambu yang sehat.
  2. Hindari area yang tercemar sampah, limbah, atau bau busuk.
  3. Buka lapisan serasah bambu bagian atas.
  4. Ambil tanah remah di sekitar akar halus bambu.
  5. Ambil ±10–20 gram tanah per titik.
  6. Masukkan ke plastik steril atau wadah bersih steril.
  7. Beri label: RZ-BMB-01.

Catatan: jangan mengambil tanah yang terlalu kering ekstrem atau bercampur kotoran hewan.


B. Akar alang-alang

Alang-alang tumbuh kuat di lahan miskin hara, kering, atau terganggu. Rizosfernya dapat menjadi sumber mikroba yang tahan stres lingkungan.

Bagian yang diambil:

  • Tanah sekitar akar alang-alang
  • Tanah yang menempel pada akar/rimpang
  • Akar muda sehat bila diperlukan

Target mikroba potensial:

  • Bacillus
  • Pseudomonas
  • Azotobacter
  • Azospirillum-like rhizobacteria
  • KSB
  • Mikroba tahan kering

Cara mengambil:

  1. Pilih alang-alang yang tumbuh sehat dan kuat.
  2. Gali perlahan sampai akar dan rimpang terlihat.
  3. Ambil tanah yang menempel pada akar/rimpang.
  4. Hindari akar yang busuk atau berbau.
  5. Ambil ±10–20 gram tanah rizosfer.
  6. Simpan dalam plastik steril.
  7. Beri label: RZ-ALG-01.

Catatan: alang-alang cocok untuk mencari mikroba adaptif, tetapi tetap perlu uji fungsi sebelum dipakai ke tanaman budidaya.


C. Rizosfer tanaman budidaya sehat

Ini adalah sumber paling relevan bila target akhirnya untuk tanaman budidaya, misalnya cabai, tomat, melon, padi, jagung, atau hortikultura lain.

Bagian yang diambil:

  • Tanah yang menempel di akar tanaman sehat
  • Tanah sekitar 1–5 cm dari akar aktif

Target mikroba potensial:

  • PGPR
  • Bacillus
  • Pseudomonas
  • PSB
  • KSB
  • APH rizosfer

Cara mengambil:

  1. Pilih tanaman paling sehat di lahan.
  2. Utamakan tanaman yang tetap sehat walaupun tanaman sekitar ada yang sakit.
  3. Gali bagian akar secara hati-hati.
  4. Ambil tanah yang menempel di akar.
  5. Simpan dalam wadah steril.
  6. Beri label sesuai tanaman, misalnya: RZ-CB-01 untuk rizosfer cabai.

D. Kompos matang

Kompos matang merupakan sumber terbaik untuk pemula yang ingin mencari Trichoderma, Bacillus, dan mikroba dekomposer.

Ciri kompos yang layak:

  • Berbau tanah
  • Tidak panas
  • Tidak berlendir
  • Tidak berbau busuk
  • Tekstur remah
  • Warna cokelat gelap sampai hitam

Target mikroba potensial:

  • Trichoderma
  • Bacillus
  • Streptomyces
  • Dekomposer
  • Yeast lingkungan

Cara mengambil:

  1. Pilih kompos matang.
  2. Ambil dari bagian tengah tumpukan, bukan hanya permukaan.
  3. Ambil ±10–20 gram.
  4. Masukkan ke wadah steril.
  5. Beri label: KP-01.

E. Serasah sehat

Serasah adalah daun, ranting kecil, atau bahan organik yang mulai lapuk secara alami.

Bagian yang diambil:

  • Daun lapuk sehat
  • Tanah tipis di bawah serasah
  • Ranting kecil yang mulai terdekomposisi

Target mikroba potensial:

  • Trichoderma
  • Streptomyces
  • Jamur dekomposer
  • Bacillus
  • Mikroba pengurai bahan organik

Cara mengambil:

  1. Pilih serasah dari kebun sehat atau bawah tegakan tanaman sehat.
  2. Hindari serasah yang berbau busuk.
  3. Ambil ±5–10 gram serasah dan sedikit tanah bawahnya.
  4. Masukkan ke plastik steril.
  5. Beri label: SR-01.

Lampiran 4. Prioritas Sumber Berdasarkan Target Mikroba

Target isolasiSumber alam terbaikMedia awal yang disarankan
BacillusRizosfer cabai, akar bambu, kompos matang, akar alang-alangNA / TSA
TrichodermaKompos matang, serasah bambu, tanah bawah serasah, rizosfer sehatPDA / TSM
PSBRizosfer tanaman sehat, akar bambu, tanah kebun organikPikovskaya / NBRIP
KSBAkar alang-alang, rumput, jagung, tanah mineralAleksandrov Agar
PseudomonasRizosfer tanaman sehat, tanah lembap sekitar akarKing’s B
AzotobacterTanah subur, rizosfer rumput, kebun organikAshby Mannitol
AzospirillumRizosfer rumput, padi, jagung, alang-alangN-free Malate semi-solid
StreptomycesTanah kering remah, kompos matang, serasah lapukStarch Casein Agar
Yeast/khamirPermukaan buah sehat, serasah, kompos matangYMEA / PDA
MikorizaTanah dekat akar tanaman sehatBukan isolasi agar biasa; perlu tanaman inang

Lampiran 5. Format Label Sampel Alam

Gunakan format label sederhana:

Kode sampel     :
Sumber          :
Lokasi          :
Tanggal         :
Jenis tanaman   :
Kondisi tanaman :
Catatan lokasi  :

Contoh:

Kode sampel     : RZ-BMB-01
Sumber          : Tanah rizosfer bambu
Lokasi          : Kebun belakang blok A
Tanggal         : 12/05/2026
Jenis tanaman   : Bambu
Kondisi tanaman : Sehat
Catatan lokasi  : Banyak serasah lapuk, tanah remah, tidak berbau

Contoh lain:

Kode sampel     : RZ-ALG-01
Sumber          : Tanah sekitar akar alang-alang
Lokasi          : Tepi lahan kering
Tanggal         : 12/05/2026
Jenis tanaman   : Alang-alang
Kondisi tanaman : Sehat dan tumbuh kuat
Catatan lokasi  : Lahan kering, tidak tercemar

Lampiran 6. Sumber yang Harus Dihindari

Jangan mengambil sampel dari:

  • Feses
  • Bangkai
  • Air got
  • Selokan
  • Sampah busuk
  • Limbah rumah tangga
  • Limbah peternakan segar
  • Limbah rumah sakit
  • Tanah tercemar oli
  • Tanah tercemar pestisida berat
  • Bahan yang berbau busuk menyengat

Sumber seperti ini berisiko membawa mikroba patogen, pembusuk, atau kontaminan yang tidak aman untuk dikembangkan.


Lampiran 7. Rekomendasi Praktis untuk Pemula

Untuk latihan awal, gunakan kombinasi berikut:

PaketSumberTargetMedia
Paket 1Kompos matangTrichoderma + BacillusPDA + NA
Paket 2Akar bambuBacillus + Trichoderma + PSBNA + PDA + Pikovskaya
Paket 3Akar alang-alangBacillus + KSB + mikroba tahan stresNA + Aleksandrov
Paket 4Rizosfer cabai sehatPGPM spesifik cabaiNA + Pikovskaya
Paket 5Serasah sehatJamur dekomposer + StreptomycesPDA + Starch Casein Agar

Paket paling disarankan untuk pemula:

Akar bambu + kompos matang + rizosfer tanaman sehat

Dengan tiga sumber tersebut, peluang memperoleh Bacillus, Trichoderma, PSB, dan mikroba dekomposer relatif tinggi serta lebih mudah dipelajari.


Lampiran 8. Ciri Morfologi Koloni Mikroba Target

ciri-morfologi-mikroba-pgpm-1
ciri-morfologi-mikroba-pgpm-2

1. Bacillus

Media umum: NA / TSA Sumber umum: kompos matang, rizosfer cabai, akar bambu, akar alang-alang

CiriMorfologi umum
Warnaputih, krem, kekuningan muda
Bentukbulat sampai tidak beraturan
Tepirata, bergelombang, kadang bergerigi
Permukaankering, agak kasar, kadang berkerut
Elevasidatar sampai cembung
Ukuransedang sampai besar
Kecepatan tumbuhcepat, 24–48 jam
Teksturkering, matte, tidak terlalu mengilap

Ciri yang dicari: koloni kering, stabil, tidak berbau busuk, tumbuh cepat, mudah digores ulang.

Catatan: Bacillus sering lebih mudah dipilih dari koloni yang tampak kering atau agak berkerut dibanding koloni yang sangat berlendir.


2. Trichoderma

Media umum: PDA / TSM Sumber umum: kompos matang, akar bambu, serasah sehat, tanah organik

CiriMorfologi umum
Warna awalputih
Warna lanjuthijau muda, hijau tua, hijau kebiruan
Bentukmenyebar melingkar
Tepihalus sampai berfilamen
Permukaanseperti kapas saat muda, bertepung saat matang
Elevasidatar menyebar
Ukuranbesar, cepat memenuhi cawan
Kecepatan tumbuhcepat, 2–5 hari
Teksturkapas, beludru, lalu bertepung

Ciri yang dicari: koloni awal putih cepat tumbuh, kemudian berubah hijau, tidak berbau busuk, dan tepi koloni aktif.

Catatan: untuk pemurnian, ambil bagian tepi koloni yang masih aktif, bukan bagian tengah yang terlalu tua.


3. PSB — Bakteri Pelarut Fosfat

Media umum: Pikovskaya / NBRIP Sumber umum: rizosfer cabai sehat, akar bambu, tanah kebun organik

PSB adalah kelompok fungsi, bukan satu genus. Isolat PSB bisa berasal dari Bacillus, Pseudomonas, Paenibacillus, Aspergillus, atau Penicillium.

CiriMorfologi umum
Warnaputih, krem, kuning muda, bening
Bentukbulat, kecil sampai sedang
Tepirata sampai sedikit bergelombang
Permukaanhalus, licin, kadang agak kering
Elevasidatar sampai cembung
Ukurankecil sampai sedang
Kecepatan tumbuh2–5 hari
Teksturlicin atau kering ringan
Ciri utamaada zona bening di sekitar koloni

Ciri yang dicari: koloni dengan zona bening jelas dan stabil.

Skor sederhana zona bening:

HasilKeterangan
Tidak ada zonanegatif
Zona samarlemah
Zona sedangcukup baik
Zona lebar dan jelassangat potensial

4. KSB — Bakteri Pelarut Kalium

Media umum: Aleksandrov Agar Sumber umum: akar alang-alang, rizosfer rumput, jagung, tanah mineral, kebun kering

KSB juga merupakan kelompok fungsi, bukan satu genus. Contohnya dapat berupa Bacillus, Paenibacillus, Frateuria, atau mikroba pelarut mineral lain.

CiriMorfologi umum
Warnaputih, krem, kuning pucat
Bentukbulat sampai tidak beraturan
Tepirata, bergelombang
Permukaanhalus, agak kering, kadang berlendir ringan
Elevasidatar sampai cembung
Ukurankecil sampai sedang
Kecepatan tumbuhsedang, 3–7 hari
Teksturhalus atau kering ringan
Ciri utamazona bening di sekitar koloni

Ciri yang dicari: koloni tumbuh baik pada Aleksandrov dan membentuk zona bening di sekitar koloni.

Catatan: zona bening KSB kadang tidak setegas PSB, jadi pilih koloni yang zonanya konsisten saat diuji ulang.


5. Streptomyces

Media umum: Starch Casein Agar Sumber umum: serasah sehat, tanah remah agak kering, kompos matang, akar bambu

CiriMorfologi umum
Warnaputih, krem, abu-abu, cokelat muda
Bentukbulat tidak sempurna, berfilamen halus
Tepitidak rata, berumbai, berfilamen
Permukaankering, bertepung, seperti kapur
Elevasidatar sampai sedikit timbul
Ukurankecil sampai sedang
Kecepatan tumbuhlambat, 5–10 hari
Teksturkering, powdery, chalky
Aromasering berbau tanah

Ciri yang dicari: koloni kering, bertepung, tumbuh lambat, tidak berlendir, dan beraroma tanah ringan.

Catatan: jangan tertukar dengan jamur. Streptomyces biasanya lebih kompak, kering, dan tidak membentuk miselium kapas menyebar seperti jamur cepat tumbuh.


6. Jamur Dekomposer

Media umum: PDA Sumber umum: serasah sehat, kompos matang, tanah bawah serasah, akar bambu

Jamur dekomposer adalah kelompok luas. Bisa mencakup Aspergillus, Penicillium, Mucor, Rhizopus, dan jamur saprofit lain.

CiriMorfologi umum
Warnaputih, hijau, abu-abu, hitam, kuning, cokelat
Bentukmenyebar melingkar atau tidak beraturan
Tepiberfilamen, bercabang, menyebar
Permukaankapas, beludru, tepung, granular
Elevasidatar menyebar sampai menggumpal
Ukuransedang sampai besar
Kecepatan tumbuhcepat sampai sangat cepat
Teksturkapas, tepung, beludru

Ciri yang dicari: untuk tujuan dekomposer, pilih jamur yang tumbuh stabil, tidak berbau busuk, dan tidak terlalu invasif menutup semua koloni lain terlalu cepat.

Catatan: untuk pemula, prioritaskan jamur yang tampak stabil dan mudah dimurnikan. Hindari jamur hitam yang sangat cepat menutup seluruh cawan bila tujuan utamanya bukan dekomposer.


7. Pseudomonas fluorescens

Media umum: King’s B Agar Sumber umum: rizosfer cabai sehat, tanah lembap sekitar akar, rizosfer tanaman sehat

CiriMorfologi umum
Warnaputih transparan, krem, kekuningan pucat
Bentukbulat
Tepirata
Permukaanhalus, licin, mengilap
Elevasidatar sampai sedikit cembung
Ukurankecil sampai sedang
Kecepatan tumbuhcepat, 24–48 jam
Teksturlicin, lembap
Ciri khususbeberapa isolat berfluoresensi hijau-kuning di bawah UV

Ciri yang dicari: koloni halus, licin, tumbuh baik pada King’s B, dan bila tersedia lampu UV, menunjukkan fluoresensi.

Catatan: tidak semua Pseudomonas fluoresen, dan tidak semua koloni fluoresen otomatis aman atau bermanfaat. Tetap perlu uji lanjut.


8. Azotobacter

Media umum: Ashby Mannitol Agar Sumber umum: tanah subur, rizosfer rumput, rizosfer cabai sehat, kebun organik

CiriMorfologi umum
Warnabening, putih susu, krem
Bentukbulat
Tepirata
Permukaanlicin, mukoid, kadang berlendir
Elevasicembung
Ukuransedang sampai besar
Kecepatan tumbuhsedang, 2–5 hari
Teksturlicin, berlendir ringan sampai mukoid

Ciri yang dicari: koloni tumbuh pada media bebas nitrogen, tampak licin/mukoid, dan stabil saat dipindah ulang.

Catatan: kemampuan tumbuh di media bebas nitrogen masih indikasi awal, belum cukup untuk menyatakan kemampuan penambatan nitrogen kuat.


9. Azospirillum

Media umum: N-free Malate semi-solid Sumber umum: akar rumput, alang-alang, jagung, padi, tanaman berakar serabut

CiriMorfologi umum
Bentuk pertumbuhanpelikel/cincin di bawah permukaan media semi-padat
Warnaputih keruh, tipis
Posisibeberapa mm di bawah permukaan media
Kecepatan tumbuhsedang, 3–7 hari
Teksturbukan koloni padat di permukaan agar, tetapi lapisan tipis

Ciri yang dicari: terbentuk pelikel tipis seperti cincin di bawah permukaan media semi-padat.

Catatan: ini bukan target paling mudah untuk pemula, karena interpretasi hasilnya lebih sulit daripada koloni pada cawan agar.


10. Endofit

Media umum: NA/TSA untuk bakteri endofit, PDA untuk jamur endofit Sumber umum: akar, batang, atau daun tanaman sehat setelah sterilisasi permukaan

CiriMorfologi umum
Warnasangat bervariasi
Bentukbulat, tidak beraturan, atau berfilamen
Tepirata sampai tidak rata
Permukaanhalus, kering, kapas, tergantung jenis
Elevasibervariasi
Ukurankecil sampai sedang
Kecepatan tumbuhlambat sampai cepat
Teksturbervariasi

Ciri yang dicari: koloni yang tumbuh dari jaringan steril permukaan, bukan dari kontaminan luar.

Catatan penting: endofit tidak cocok untuk latihan awal karena perlu sterilisasi permukaan jaringan. Jika teknik kurang rapi, mikroba permukaan akar/daun akan ikut tumbuh dan dikira endofit.


11. Mikoriza

Media umum: bukan media agar biasa Sumber umum: tanah dekat akar tanaman sehat, terutama tanaman yang tumbuh baik pada tanah miskin P

CiriMorfologi umum
Bentuk targetspora di tanah dan kolonisasi akar
Warna sporakuning, cokelat, oranye, bening, tergantung genus
Ukuran sporamikroskopis sampai terlihat dengan bantuan lup/mikroskop
Media tumbuhperlu akar hidup/inang
Kecepatanlambat
Ciri utamamembentuk asosiasi dengan akar tanaman

Ciri yang dicari: spora mikoriza di tanah dan kolonisasi akar, bukan koloni seperti bakteri atau jamur biasa di cawan agar.

Catatan: mikoriza tidak disarankan untuk isolasi pemula karena tidak mudah dikultur di media agar biasa.


Lampiran 9. Ciri Morfologi Berdasarkan Paket Pemula

Paket 1 — Kompos Matang

Target: Trichoderma + Bacillus Media: PDA + NA

TargetCiri utama yang dicari
Trichodermakoloni putih cepat tumbuh, berubah hijau, tekstur kapas/tepung
Bacilluskoloni putih/krem, agak kering, kadang berkerut, tumbuh cepat

Paket 2 — Akar Bambu

Target: Bacillus + Trichoderma + PSB Media: NA + PDA + Pikovskaya

TargetCiri utama yang dicari
Bacillusputih/krem, kering, tepi bergelombang, tumbuh cepat
Trichodermaputih lalu hijau, menyebar cepat di PDA
PSBkoloni dengan zona bening di Pikovskaya

Paket 3 — Akar Alang-Alang

Target: Bacillus + KSB + mikroba tahan stres Media: NA + Aleksandrov

TargetCiri utama yang dicari
Bacilluskoloni kering, stabil, putih/krem
KSBkoloni dengan zona bening di Aleksandrov
Mikroba tahan streskoloni yang tetap tumbuh baik dari sumber kering/miskin hara dan stabil saat dimurnikan

Paket 4 — Rizosfer Cabai Sehat

Target: PGPM spesifik cabai Media: NA + Pikovskaya

TargetCiri utama yang dicari
PGPR umumkoloni terpisah, stabil, tidak berbau busuk
Bacillusputih/krem, kering, kadang berkerut
Pseudomonashalus, licin, krem/bening, tumbuh cepat
PSBzona bening di Pikovskaya
Calon APH rizosferkoloni stabil yang nantinya diuji antagonis

Paket 5 — Serasah Sehat

Target: Jamur dekomposer + Streptomyces Media: PDA + Starch Casein Agar

TargetCiri utama yang dicari
Jamur dekomposerkoloni kapas/beludru/tepung, warna bervariasi, tumbuh pada PDA
Trichoderma potensialputih cepat tumbuh lalu hijau
Streptomyceskering, bertepung, tumbuh lambat, aroma tanah, pada Starch Casein Agar

Ringkasan Seleksi Visual untuk Pemula

TargetMediaCiri paling mudah dikenali
BacillusNA/TSAkoloni putih-krem, kering, agak berkerut
TrichodermaPDA/TSMputih cepat tumbuh lalu hijau
PSBPikovskaya/NBRIPzona bening
KSBAleksandrovzona bening, biasanya lebih samar
PseudomonasKing’s Bkoloni licin, beberapa fluoresen
StreptomycesStarch Casein Agarkering, bertepung, tumbuh lambat
Jamur dekomposerPDAkapas/beludru/tepung, warna bervariasi
AzotobacterAshbykoloni licin/mukoid pada media bebas N
AzospirillumN-free Malatepelikel/cincin di bawah permukaan
Mikorizaakar hidup/inangspora dan kolonisasi akar, bukan koloni agar

Catatan Penyusunan Artikel ini disusun sebagai materi edukasi dan referensi umum berdasarkan berbagai sumber pustaka, praktik lapangan, serta bantuan alat penulisan. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi lanjutan dan penyesuaian sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing sistem.